Minggu, 03 November 2013

Go Public : Solusi JITU atasi kesulitan Modal BISNIS Anda



Teruntuk teman-teman saya yang sedang meniti karier di bisnisnya, ikuti langkah ini:::
Mudah-mudahan Allah melancarkan semuanya. Aamiin ya Rabbal alaamiin

Well, kali ini saya akan berbagi pada kalian sesuatu yang mungkin dianggap sebagian orang tabu karena “mungkin” itu bukan area saya untuk mengetahui. Tapi, saya tetap berasumsi apapun disiplin ilmu yang sedang anda geluti sekarang, saya rasa tetap harus mengetahui tentang ini semua.
Ok, kita mulai saja,

Pasti kamu sering dengar istilah “saham” “pasar modal” “bursa efek” yah pokonya yang memusingkan dan segala hal yang berhubungan dengan itu.

Latar belakang kenapa saya share pada Anda tentang ini adalah karena Saya suka tentang ini. Hehe jujur saya terinspirasi dari pengusaha sekaligus CEO MNC Group dan pemilik 100 lebih perusahaan di Indonesia. Saya juga ingin seperti beliau, yah itu mimpi saya. Menjadi  konsultan dan dokter perusahaan yang bisa “menyembuhkan” perusahaan yang failed. Yupz. Seperti beliau, tapi saya berkeyakinan bahwa saya akan lebih dari beliau. Yah kita harus merubah mindset kita. Saya suka dengan kutipan salah seorang Blogger, beliau berkata, “kita (mahasiswa) jangan jadi agen perubahan, istilah yang digadang-gadangkan dan saya yakin anda tidak asing dengan istilah itu bukan??

Karena agen hanyalah menjadi penerus dan tidak menjadi pembuat. Seharusnya kita mahasiswa bisa membuat ide-ide baru dan tidak sekedar hanya meneruskan saja. Memang benar bahwa analoginya organisasi itu butuh penerus atau regenerasi yang akan terus menyalakan api unggun dan tugas kita sekarang adalah mencari kayu-kayu untuk terus menyalakan apu unggun perjuangan kita. Tapi dengan cara-cara yang baru dan tidak menjadi plagiat. Jangan takut untuk berbeda! Mindset mahasiswa sebagai agen perubahan nampaknya juga harus segera dirubah. Dalam logika sederhana sebuah bisnis, agen hanyalah penerus dari perusahaan yang menciptakan sebuah produk. Ia bukanlah pembuat produk. Sebaliknya, ia hanyalah aktor yang berjasa dalam mendistribusikan produk untuk bisa sampai ke tangan konsumen. Sederhananya, agen bukanlah inisiator. Oleh karena itu, meminjam istilah dari seorang aktivis kampus, mahasiswa sebagai suatu kesatuan aktor sudah sepantasnya menjadi leader of change atau pemimpin perubahan. Hal ini juga beriringan dengan status ‘eksklusif’ mahasiswa sebagai kaum cendekiawan. Dengan memikul status tersebut, mahasiswa memiliki fungsi yang lebih startegis untuk bisa menjadi inisiator perubahan melalui bidang yang didalami oleh masing-masing.
          
Menjadi inisiator perubahan bukan pula urusan yang mudah karena harus memiliki sifat inisiatif. Untuk menjadi seorang yang inisiatif, mahasiswa harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Inilah yang seringkali disepelekan. Budaya hedonisme dan hura-hura seakan telah menjadi kebiasaan yang berdampak pada butanya mata hati untuk melihat kondisi sosial yang terus bergerak secara dinamis. Berbeda karena benar itu sesuatu yang akan menjadi inspirasi. Untuk sesuatu yang lebih baik, kenapa tidak?

Ups, ko jadi kemana-mana yah…
Ok, lanjut//>>

Dalam pasar modal, dikenal istiliah Go Public…
Nah, menurut sumber : Go public adalah cara yang paling memperhatikan masyarakat daripada perusahaan yang dikelola secara privat atau malah keluarga. Karena modal dan jaringan yang dimiliki oleh perusahaan privat sangatlah terbatas, kalau tidak mau dikatakan sangat kecil. Tak seperti kalau perusahaan sudah Go Public. Zaman sekarang konsumen sudah krtitis, karena kemajuan IT. Bukan tidak mungkin suatu saat konsumen akan melakukan tindakan yang merugikan perusahaan yang tidak go public  seandainya opini masyarakat sudah terbentuk bahwa hanya perusahaan yang Go Public-lah yang lebih memperhatikan masyarakat. Kenapa bisa begitu??
Nah, rata-rata perusahaan yang pada awal mulanya didirikan oleh seorang entreupreuner yang menghasilkan keuntungan lumayan dengan kerja keras yang mumpuni. Ketika usahanya itu mulai berkembang, atau ketika usianya mulai mencapai 50-60 tahun, biasanya sudah tidak mau mengambil resiko, alias lebih memilih mengamankan asset-aset perusahaannya dan  cenderung lebih konservatif. Ada beberapa kemungkinan, biasanya : menyerahkan pada anaknya, atau yang mempunyai ikatan darah, memperkecil omzet, atau menjualnya pada orang lain. Tidak ada alasan lagi bahwa alasan yang masuk akal adalah untuk menghidupi keluarganya. Mereka yang berpikiran seperti itu biasanya tidak mempunyai pengetahuan yang mumpuni tentang manajemen, memikirkan prospek perusahaan ke depannya, dan cenderung mandeg dan terlalu cepat puas dengan apa yang didapat.
Kita pasti ingin dong kalo punya perusahaan yang bertahan selamanya, seperti perusahaan di kuar negeri yang bertahan hingga ratusan tahun. Yang bertahan hingga 20 generasi (@generasi 20 tahun). Kalau langkah yang  mewariskan pada anak diambil tak jarang hanya 2 generasi saja yang bisa mengukir kesuksesan serupa, tapi seterusnya akan bangkrut karena kekurangan besar yang menghalangi perkembangan perusahaan itu adalah kekurangan dana pada proses alih generasi.
Hanya dengan Go Public dapat menyelesaikan permasalahan ini, adapun kelebihannya adalah :
1.      Kekurangan dana dari perusahaan dapat diperoleh dari luar (masyarakat dan investor asing). Sumber dana dari masyarakat memang sangat diharapkan dapat tertanam di perusahaan2 dalam negeri. Hal ini adalah untuk mencegah larinya dana ke luar negeri. Sedangkan sumber dana dari investor asing adalah untuk menarik dana dari luar.
2.      Dalam alih generasi entreuprener tidak dirisaukan oleh runtuhnya perusahaan dan lenyapnya kekayaan pribadi. Misalnya pengusaha ngotot mewariskan perusahaan kepada putranya. Permasalahan yang timbul belum tentu anaknya memiliki jalan pikiran yang sama dengan dirinya dalam decision making. Pada akhirnya akan menjadi keterkejutan dalam kebijaksanaan, kehancuran mungkin tidak akan dihindarkan lagi. Kita harus ingat akan sebuah ayat al-Quran, bahwa “jika sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya!”. Nah, kalo sudah Go Public, hal-hal demikian tidak akan terjadi karena pergantian kepemimpinan akan ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau yang suka disingkat (RUPS), dan tentuya kalau secaa demokratis seperti itu akan ditempati oleh orang-orang yang professional di dalamnya. Dari segi keamanan kekayaan priibadi, kebijaksanaan pun tidak merugikan. Sebab entrepreuneur bisa tetap membagi presentasi pembagian saham antara keluarga dan masyarakat. Misalya fifty-fifty. Sehingga masih memungkinkan baginya untuk mengendalikan jalannya perusahaan.
3.      Keuntungan promosi. Bila perusahaan Go Public, maka pemilik perusahaan/pemegang saham (masyarakat) akan berharap perusahaan itu mendapat keuntungan yang besar. Keuntungan ini hanya didapat bila omzet perusahaan meningkat. Nah! Peningkatan omzet itu tentu saja didahului oleh barang-barang yang laku keras dipasaran. Karena mengharapkan keuntungan yang besar, maka masing-masing pemegang saham akan mempromosikan barang hasil produksi perusahaan kepada pihak lain. Promosi akan berlangsung dari mulut ke mulut dan dalam suasana kekeluargaan. Sehingga efektivitasnya akan melampaui iklan di mass media, maupun promosi penjualan.
Kiranya jelas, bahwa perusahaan yang Go Public-lah yang akan bertahan samapai kapan pun. Sehingga dapat diharapkan, dari perusahaan-perusahaan yang kecil akan muncul perusahaan raksasa yang mampu bersaing dipasar global.
Jika perusahaan2 keluarga dapat Go Public maka dana masyarakat tidak akan mengalir ke luar negeri, karena terhimpun oleh perusahaan2 dalam negeri yang Go Public. Dan perputaran ekonomi dalam negeripun dapat mencapai kecepatan tinggi, sehingga pertumbuhan ekonomi yang pesat dapat dicapai.

Klimax :D
Kalau kita cermati, ternyata perusahaan2 raksasa kelas dunia merupakan perusahaan public, artinya perusahaan yang sudah menjual saham/ obligasinya kepada masyarakat melalui bursa efek (go public). Karena sudah go public, majalah bisnis terkemuka akan mudah mengakses data perusahaan, dan menyajikannya di setiap tahun dengn laporan yang terkenal: fortune 500. Perusahaan yag masuk peringkat 500 dunia itupun menjadi amat bangga, danbisa dijadikan promosi gratis. Sementara itu, konsumen menjadi semakin loyal dan investor semakin memburu saham-sahamnya. Tapi jangan dikira, perusahaan yang mauk Fortune 500 itulangsungbesar, mereka juga mengawalinya dariperusahaan kecil. Namun, go public menjadi langkah besar menuju sukses berikutnya.
Pasar modal adalah cerminan masyrakat modern dan salah satu unsur terpentingnya adalah perusahaan go public. Pasar modal juga merupakan symbol kebutuhan, betapa tidak.. lihat saja, perusahaan Coca-cola misalnya, betapa menakjubkan menjadi minuman yang digandrungi oleh masyarakat di seluruh dunia. Tentu secara alami memang berawal dari perusahaan kecil. Seiring dengan meningkatnya omzet penjualan. Bagaimana memperbesar perusahaan? Terus menambahkan modal, guna menambah kapasitas produksi. Dari mana sumber modal itu? bisa saja dari Bank. Namun jumlahnya terbatas danbisa memberatkan keuangan perusahaan karena bunganya mencekik. Itulah sebabnya Coca-cola menjual sahamnya ke masyarakat. Kebijaksanaan demikian, selain bisa menggali modal dari masyarakat, masih mendapat manfaat lain, yaitu loyalitas dan perluasan konsumen., dengan membeli saham Coca-cola, maka pembeli saham (masyarakat) akan berusaha agar Coca-cola untung. Caranya terus mengkonsumsi Coca-cola dan memberitahu kepada orang lain agar mengkonsumsi Coca-cola. Pola demikianlah yang menjadikan perusahaan makin besar dan terkenal. Tidak inginkan perusahaan Indonesia menjadi setara dengan Coca Cila? Kalau ingin, lakukanlah Go Public.
 Nah, apa sih sebenarnya Go Public itu?
Go public itu artinya secara harafiah artinya ‘pergi ke masyarakat’ tapi secara konotatif memang khusus digunakan di dunia pasar modal. Artinya juga memang pergi ke masyarakat.jadi juka suatuperusahaan ingin menambah modalnya, maka bisa pergi ke masyarakat untuk mendapat modal tersebut.
Tentu menjadi obsesi semua pengusaha untuk menjadikan perusahaannya bertahan selamanya, bahkan menjadi besar. Namun untuk mencapai itu tidaklah mudah. Paling tidak harus dipenuhi 2 hal; pertama profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan dan kedua tambahan modal utnuk melakukan penigkatan kapasitas produksi. Go Public, bisa memenuhi kebutuhan kedua hal tersebut. Sebab, dengan go public penempatan orang-orang dalam jabatan di perusahaan tidak lagi ditentukan oleh satu orang –misalnya pendiri perusahaan- melainkan harus diputuskan melalui RUPS/


Referensi ::
Widoatmojo, Sawidji. 2004. Jurus Jitu Go Public. Jakarta: Elex Media Cpomputindo

Thanks to my Perpus Kampus, tempat nongkrong yang paling favorit untuk Saya… yang menjadi tampat dimana sumber inspirasi mengalir di dalamnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar