Kesiapan SDM Indonesia dalam MEnghadapi Asean Economic Community (AEC) 2015
Improve your Skill
Kamis, 08 Januari 2015
Jumat, 17 Januari 2014
Renungan :')
Masih tersimpan kuat, sebuah nasehat dari seorang sahabat. semoga menjadi nasehat bagi sahabat yang lainnya...
teruntuk saudara/i ku..
ini sebuah catatan, yang saatnya engkau malu pada Tuhanmu. tentang rasa 'cinta' yang tak halal untuk dirasa. tentang angan yang tak pantas untuk dibayangkan. Karena semua itu adalah suatu pengkhianatan, pada Nya dan pada seseorang yang kini sedang menjaga hatinya untukmu. ketahuilah disana ada insan yang setia menundukan pandangannya, yang menghijab hatinya, yang menunggu dan mengisi harinya dengan do'a terbaik untukmu. ia yang tak pernah ingin mengenalmu sebelum halal atasmu, karena dengan itu ia menjagamu. maka tak inginkah kau menghargainya ? ***
IZIn kopas akh, *****
teruntuk saudara/i ku..
ini sebuah catatan, yang saatnya engkau malu pada Tuhanmu. tentang rasa 'cinta' yang tak halal untuk dirasa. tentang angan yang tak pantas untuk dibayangkan. Karena semua itu adalah suatu pengkhianatan, pada Nya dan pada seseorang yang kini sedang menjaga hatinya untukmu. ketahuilah disana ada insan yang setia menundukan pandangannya, yang menghijab hatinya, yang menunggu dan mengisi harinya dengan do'a terbaik untukmu. ia yang tak pernah ingin mengenalmu sebelum halal atasmu, karena dengan itu ia menjagamu. maka tak inginkah kau menghargainya ? ***
IZIn kopas akh, *****
Rabu, 04 Desember 2013
Beyond The Inspiration
Imperium
Persia terbentang seluas 7.400.000 km2 di sebelah timur dengan
peradaban yang telah dibangun selama 1173 tahun. Sementara di sebelah barat
terbentang imperium Romawi seluas 5.000.000 km2 yang telah dibangun
selama 650 tahun. Di antara keduanya, muncul satu peradaban yang kelak akan
membebaskan kedua imperium dan peradaban tadi.
Pada
651 imperium Persia dibebaskan di tangan kaum Muslim dan menyusul imperium
Romawi yang dibebaskan pada 1453. Islam lalu menyatukan kedua imperium dan meluaskan
wilayahnya hingga mencapai 20.000.000 km2 dan memberikan
kesejahteraan melebihi apa yang pernah diberikan kedua imperium sebelumnya.
Mengapa
ada satu masa dimana Islam dapat menjadi inspirasi dan motivasi yang menjadikan
pengembannya mulia dan tinggi namun, pada masa yang lain, justru menampakkan
ummat dengan karakter yang berbeda?
Pertanyaan
“Why”? inilah yang akan mengungkap suatu rahasia yang dipegang oleh Rasulullah
saw dan para shahabat serta generasi terbaik Islam.
So, enjoy and
keep read it in your sit !!
Aneh
tapi nyata, sekaligus fenomenal, dalam satu sisi, suatu ummat yang berada di
tengah2 peradaban besar dunia yang dibangun dalam hitungan abad, tiba2 dalam
waktu singkat dapat bangkit dan mengungguli negara2 maju, kemudian tampil sebagi
pemimpin konstelasi percaturan politik dunia. Bukan Arab, tapi kaum Muslim.
Imperium Persia di sebelah timur dengan seluruh kejayaannya pernah menguasai
wilayah yang sangat besar di dunia dan ditakuti karena pasukannya yang massif.
Imperium Romawi terletak di sebelah barat dengan kekuatan pasukan yang tidak
kalah luasnya dan sangat disegani.
Sementara
ummat yang terletak diantara Persia dan Romawi, bangkit dalam waktu kurang dari
60 tahun mampu menempatkan diri sebagai pemimpin, bahkan pada akhirnya dapat
menaklukkan Persia dan romawi dan kesejahteraan pada wilayahnya melebihi yang
pernah diberikan oleh kedua imperium tersebut.
Kenapa
pada satu sisi umat yang begitu mulainya dengan Islam, dan pada sisi lain
dengan kondisi yang sama justru terpuruk. Dimana Islam pada satu masa dapat
memberikan pencerahan dan harapan bagi seluruh umat manusia namun pada saat
yang sama Islam di pandang rendah oleh ummat manusia. Padahal semuanya tidak ada
yang berubah.
Jelas
sudah, ada sesuatu dari Islam yang hilang. Seuatu dengan sengaja dihilangkan
oleh orang2 yang tidak senang kepada Islam dengan segala daya dan upaya mereka.
Sesuatu yang telah hilang inilah, yang akhirnya menimbulkan ketakutan (fobia)
yang luarbiasa kaum Muslim terhadap islam. Sesuatu yang telah hilang ini, telah
menjalarkan virus ketidakpercayaan dan ketakutan pengemban dakwah Islam untuk
menyuarakan Islam. Sesuatu yang telah hilang ini pun mengakibatkan pemuda2 islam
hidup tanpa tujuan yang jelas, mereka menjadi seorang ilmuwan tanpa agama dan
menjadi ahli ibadah tanpa ilmu dunia, tertipu oleh paradigma berpikir yang
diajukan oleh pemikir2 yang benci kepada islam. Ingin dunia tinggalkan agama
dan agama tinggalkan dunia.
Sungguh,
upaya dan daya dari orang2 dan kelompok yang tidak senang dengan Islam telah
menemui keberhasilan mereka. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim bahwa
agama Islam hanyalah ritual, sehingga mereka bisa lega dari ketakutan akan
islam kaafah (ritual dan politis). Mereka telah berhasil membuat Al-Qur’an dan As-Sunah bukanlah satu-satunya sumber rujukan kaum Muslim tetapi
hanya pilihan sehingga mereka bisa menjual standar, aturan dan nilai yang
rendah kepada kaum Muslim.
Mereka
telah berhasil membuat kaum muslim merasa takut, ketinggalan zaman ketika
mempelajari Islam sehingga mereka dapat selamat dari ketakutan mereka, yaitu
bersatunya kaum muslim dengan Islam kaaffah. Mereka berhasil membius kaum
Muslim dengan budaya dan keindahan semu dunia sehingga mereka bisa tetap
memeras kekayaan kaum Muslim. Mereka pun telah berhasil membuat kaum Muslim
terpecah belah dengan oknum-oknum hasil didikan mereka sehingga mereka selamat
dari kekuatan kaum muslim yang bersatu. Mereka berhasil membuat persepsi bahwa
pengemban Islam adalah menakutkan dan tidak professional sehingga kaum Muslim
yang belum mengerti justru berpaling menjauh dari dakwah Islam. (QS 2: 140).
Maybe it is
right
That one’s who
abandon reality is a dreamday
But who abandon
their God because of reality
Is worse than
daydreamer
Ifan obedience
to Allah swt dan His messenger
Makes me called
a fool, than I rather called a fool
Thatn to
abandon Allah and his Messenger
After all, I
definitely not daydreaming
But I am
dreaming a day that definitely came
The day that
today reality doesn't matter
because I have
allah and Rasulullah promise!
Apa
yang kita lihat pada diri orang lain dari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan
yang kita dan mereka buat di masa lalu. Keadaan hidup kita di masa depan akan
ditentukan oleh apa saja yang kita pilih saat ini. Sekarang pun sebenarnya kita
sedang menulis kisah hidup kita sendiri di sebuah buku yang mempunyai judul
dengan nama kita sendiri, dan saat ini pun kita sedang menuliskannya, setiap
hari lembar demi lembar.
Kesungguhan
dan keseriusan seseorang dalam mewujudkan keinginan masa depannya dapat dinilai
dari pilihan-pilihan yang mereka buat saat ini. Kesungguhan adalah niat yang
kuat dan tidak akan putus sebelum keinginannya tercapai. Keseriusan adalah
melakukan aksi konkret yang relevan dengan besarnya keinginan. Apabila
pilihan-pilihan yang dibuat adalah pilihan yang tidak berkorelasi dan tidak
relevan dengan besarnya keinginan maka kita dapat menyimpulkan bahwa orang ini
tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya.
Banyak
orang yang tidak menyukai keberadaannya yang sekarang, mereka hanya
membatasinya sampai pada keluhan, tanpa menyadari bahwa semua yang mereka
keluhkan adalah hasil pilihan mereka sendiri. Artinya selama mereka tidak
berubah maka keadaan tidak akan berubah..
One Time One
Choice
Apabila
kita memilih untuk fokus pada satu tujuan maka hambatannya tidak akan terasa,
namun apabila memilih untuk fokus di
hambatan maka tujuannya tidak akan
mungkin tercapai..
Seorang
yang visioner adalah orang yang mengubah fakta menjadi agar sesuai dengan tujuannya, sedangkan orang
yang pragmatis adalah orang yang mengubah tujuan sesuai dengan keadaan. Jelas
kan bedanya? Muslim pun seperti itu, muslim yang visioner selalu diikuti dengan
muslim yang pragmatis, yang menyerah dan berkompromi. Kita lihat presiden
Palestine Mahmod Abbas yang berkompromi dengan musuh-musuh Islam. Hingga
akhirnya ia kehilangan kepercayaan umat dan agamanya.
Orang
yang tidak mengetahui tujuannya ada 2:
1.
Yang
selalu mengeluh, merasa orang yang paling menderita
2.
Tidak
istiqamah. Selalu membelokkan langkahnya mengikuti keadaan saat itu.
Rasulullah adalah orang yang
visioner (Fokus pada satu tujuan),
terlihat ketika menjawab lobi yang dilakukan pamannya, Abu Thalib, “Demi Allah,
seandainya./…. (HR Ibn Hisyam)
Hidup
adalah pilihan, kalo kamu memilih satu maka kamu tidak dapat memilih yang
lain.. tidak bisa memilih dua-duanya pada saat yang sama. Tidak ada konsep win-win solution dalam kebenaran dan
kewajiban. Take it or leave it,
konsep Islam sangat jelas. Haq atau Bathil. Tidak ada pertengahan
(QS.
3:85)
Ada
pepatah yang mengatakan, “Jangan takut pada pendekar yang memiliki banyak
jurus, tapi takutlah pada pendekar yangmemiliki satu jurus.” Dalam artian. “Orang
yang menginginkan semuanya biasanya tidak mendapatkan semuanya”. Keahlian
adalah kebiasaan yang dilakukan, sehingga orang yang mempunyai satu keahlian
akan diperhitungkan…
With great
Choice Comes Great Investment, Consequence & Risk
Mental
kita seolah sudah dicuci dengan hal-hal yang berbau instan,. Seakan-akan resiko
itu diperoleh tanpa investasi, padahal semakin besar risiko kita semakin besar
pula pengorbanan dan investasi yang HARUS dilakukan. Hal yang paling menarik
tentang konsekuensi dan risiko pilihan adalah fakta bahwa pilihan memiliki
investasi wajib, yaitu bahwa setiap
pilihan mengonsumsi waktu. Dari seluruh sumberdaya yang ada inilah yang paling
berharga karena dia tidak dapat dikembalikan dan diperbarui. Hal yang harus
diingat adalah bahwa kita harus memilih pilihan-pilihan yang benar. Karena
apabila salah memilih akan perlu dua kali lipat untuk memperbaikinya.
Biasa atau
Istimewa?
Dalam
hidup selalu ada dua pilihan. Orang istimewa pasti mendapatkan lebih banyak
daripada yang didapatkan orang biasa. Yang istimewa lebih sedikit orangnya. Menjadi
istimewa butuh pengorbanan, memerlukan kesabaran dan keteguhan. Istimewa
berarti pusat perhatian, karena itulah istimewa mendapatkan balasan yang lebih.
Sebaliknya, Al-Quran dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa kebanyakan
manusia adalah fasik, tidak mengetahui dan tidak mengambil pelajaran.
Kebanyakan manusia tidak berada dalam jalan kebenaran. Maka jagalah diri kita
dari ‘golongan yang banyak’. Dan kebanyakan manusia memilih menjadi biasa
karena lebih mudah. Sedikit yang mau menjalani jalan menuju Allah karena penuh
dengan ujian.
Apakah anda
Termasuk Istimewa?
So, which way
will you choose?
Get The Guidance
Easier.
“Allah
menurunkan Islam untuk manusia yang telah dibekali dengan akal dan dengan akal
itulah ada yang Mukmin dan ada yang kafir. Adapula hidayah dan kesesatan.
Keimanan
adalah sebuah pilihan sadar dari manusia, pun kekufuran adalah sebuah pilihan
sadar yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itulah, mereka akan dimintai
pertanggung jawaban tentang imannya atau kufurnya. Surga pun adalah pilihan sebagaimana
neraka juga adalah pilihan. Dalam peristiwa itulah, seorang Muslim harus
menyibukkan dirinya, yaitu dalam perihal yang bisa mereka pilihan karena hal
itu akan mereka pertanggungjawabkan. Kita harus menyadari secara penuh bahwa
Allah Swt dan RasulNya tidak pernah meminta manusia untuk menyibukkan diri
dengan perkara yang tidak dikuasainya, namun menyibukkan diri dengan
perkara-perkara yang dikuasainya.
“Sesungguhnya
Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian tidak pula kepada rupa kalian,
akan tetapi Dia melihat kepada hati2 dan amal2 kalian.” (HR Bukhari Muslim)]
Niat
dan amalan adalah sesuatu yang berada dalam kendali dan pilihan manusia .. dia pun sadar bahwa
pertolongan Allah dalam kebangkitan Islam adalah suatu kepastian, dan akan
senantiasa berdakwah di jalan Allah dengan semangat dan dengan segenap kemapuan
yang maksimal karena dia mengetahui bahwa amalnya yang akan dihisab, bukan hasilnya.
Dia akan lebih bersemangat dalam mencari rezekinya di bumi Allah karena dia
yakin bahwa rezekinya telah ditetapkan Allah. Selama dia berusaha dan belum
sampai ajalnya, dia pasti akan mendapatkan jalan rezeki dari Nya karena
memahami bahwa hanya Allah yang menghidupkan dan mematikan. Tidak akan mati
suatu nyawa kecuali sudah sampai ajalnya. Dia akan lebih bijak menghadapi hidup
ini, pandai bersyukur serta bersabar dalam perihal yang tidak mampu di
kendalikan.
HIDAYAH PERLU
REAL ACTION
Adalah
sesuatu hal yang wajar apabila seseorang merasa ragu dalam menjalani hidayah
yang Allah berikan kepada kita, ada
ketakutan2 yang selalu dibisikkan kepada diri kita sehingga kita meragukan
petunjuk yang telah diberikan. Cara yang paling mudah untuk mengatasinya adalah
segera take action! Ambil tindakan segera!
Kemudahan dan taufikNya akan datang pada orang2 yang mengambil langkah nyata
untuk menjalani hidayah Allah.
Sekelompok
kaum Muslim lebih mengagung-agungkan dan mementingkan hafalan alquran dan cara
membaca serta bagusnya pembacaan Alquran
saja, lalu berhenti sampai disana. Mereka lupa bahwa ia adalah petunjuk,
membacanya adalah sunnah, dan mengamalkannya adalah kewajiban. Namun, yang
sekarang banyak difokuskan bukan pada pengamalannya. Maka wajarlah kalau
umumnya kaum Muslim tidak pernah mencapai tujuan hidupnya karena petunjuk yang
diberikan Allah hanya dijadikan sebagai hafalan dan bacaan tanpa ada
pengamalan.
Singkatnya,
jangan banyak berfikir dalam berbuat baik, namun pikirkanlah baik2 ketika kita
akan berbuat maksiat kepada Allah. Fakta yang ada dalam mayarakat memang
membuat kita menggelengkan kepala. Dalam menunaikan kebaikan, masyarakat
cenderung berfikir sangat panjang, namun pendek pikirannya ketika berkaitan
dengan keburukan.
Allah; Petunjuk
dan Kesesatan..
Ada
3 golongan yang tidak akan Allah berikan petunjuk
1.
Kafir
à yaitu terdiri dari golongan
ahli kitab, dan golongan yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah (QS
98:6)
2.
Fasik
à tidak mengindahkan
perjanjian, mengingkari kesepakatan, dan menganggap remeh perintah Allah.
3.
Dzalim
à mendustakan ayat2 Allah
(memalsukan) dan mengingkari kebenaran
Hidayah dalam
Alquran
Akal
adalah karunia yang hanya diberikan Allah pada manusia, sekaligus menjadi suatu
pertanda kelebihan manusia dibandingkan malaikat. Akal memiliki kemampuan untuk
menghukumi fakta sesuai dengan cara berfikir tertentu, akal memiliki kemampuan
untuk mempelajari sesuatu. Singkatnya, akal adalah syarat wajib yang diperlukan
untuk mencapai keimanan.
“Adapun
orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya
pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah
dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala
yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih
Muslim)”
Sekali
lagi yang menjadi sandaran bagikita seharusnya adalah perintah Rasulullah untuk
beramal dan tidak berserah diri pada takdir sehingga tidak mau memilih untuk beramal dalam hidupnya.
Kepala yang
bersujud ketika letih, tangan yang terangkat ketika penat bersusah dalam
ketaatan dan kesabaran dalam dakwah hanyalah dimiliki oleh seseorang yang berkeyakinan
: “Sesungguhnya kami berasal hanya dari Allah dan sesungguhnya hanya kepadaNya
kami akan kembali”
Makna Syahadah
Dalam
Islam bisa kita artikan sebagai pengakuan, kesaksian, kesepakatan akad janji,
pengakuan, atau komitmen. Hal itu mengharuskan adaya sesuatu yang disaksikan
dan disadari oleh seorang Muslm sehingga dia menjadi paham dan yakin bahwa
sesungguhnya tidak ada yang perlu disembah, ditakuti dan dimintai pertolongan
kecuali Allah. Syahadat seharusnya muncul dari pergolakan pemikiran bukan
taklid karena seseorang yang taqlid, tidak akan menyadari bukti sehingga
kesaksiannya menjadi kosong. Saya mengibaratkan kesaksian itu seperti pengakuan
seorang atlet tinju kepada lawannya ketika dia sudah bertarung, lalu kalah maka
dia akan menyadari bahwa dirinya lemah dibandingkan lawannya dan akan mengatakn
“Saya akui dia memang hebat”. Namun, bila
lawannya belum kalah maka pengakuan itu akan tidak bermakna.
Sama
seperti kita, manusia yang memang telah bertarung dan membuktikan keMahaan
Allah akan mengakui kehebatan Allah dan pada saat yang sama akan menyadari
kelemahan-kelemahan dan semua keterbatasan dirinya di hadapan Allah. Pengakuan
inilah yang disebut syahadat.
Sebagaimana
dalam dunia pemrograman komputer, kita mengenal angka 1 dan 0 sebgai basis
penyusunan seluruh bahasa kommputerisasi. Komposisi semua program dibangun atas
angka 1 tidak ada di tengah-tengahnya. Angka 1-0 inilah yang dalam keimanan
seorang muslim hanya ada 1 atau 0. Angka 1-0 inilah syahadat sempurna yang
menghasilkan ruh sebagai kesadaran. 0 adalah lambaang keterbatasan, kepasrahan,
ketundukan, ketidaktahuan, kealpaan, kelemahan, dan ketidakpunyaan dan itulah
lambang manusia ketika dia melihat jauh ke dalam dirinya. Sedangkan angka 1
adalah lambang kesempurnaan, kekuatan, keperkasaan, kebaikan dan keseluruhan.
Seseorang dikatakan sempurna syahadatnya apabila dia berhasil men-1 kan Allah
secara totalitas dalam hidupnya dan men-0 kan diri sendiri.
1
adalah Allah, kesombongan adalah pakaianNya. Kekayaan dan seluruh benda yang
ada di langit maupun dibumi adalah kepunyaanNya. Kasih sayang dan cinta yang
ada di dunia adalah milikNya dan Dialah yang menurunkannya untuk manusia.
0
adalah manusia, makhluk yang sangat terbatas, makhluk yang sangat hina dan
tidak memiliki apapun selain yang dipinjamkan kepadanya. Manusia merasa
memiliki sesuatu padahal dia sama sekali tidak memilikinya. Manusia seringkali
merasa dia akan hidup selamanya padahal setiap detik, kematian akan semakin
dekat kepadanya. Manusia kadang merasa sombong padahal dia tidak memiliki
apapun untuk disombongkan. Manusia bisa merasa dirinya patut dimuliakan padahal
dia adalah setetes mani yang dikeluarkan dari kemaluan. Manusia boleh merasa
bahwa dirinya dan hanya dirinya yang menyebabkan dia mencapai suatu hasil dan
merasa hebat, padahal Allah mampu menariknya
kapan saja Dia mau dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa Alllah yang
menutupi seluruh aibnya. Sekali lagi, bila kita benar-benar berpikir tentang
manusia itu sendiri maka kita pasti menyadari bahwa manusia terbatas dan lemah.
Inilah
sunnatullah, bahwa manusia 0 dan Allah 1. Namun yang seringkali terjadi adalah
manusia tidak menjadi 0 dan konsekuensinya Allah tidak menjadi 1. Ketika
manusia mengambil sifat2 Allah maka dalam perspektif syahadat sempurna nilai 1
pada Allah akan berkurang, dan dirinya tidak akan merasa 0 sehingga orang
tersebut tidak akan pernah mendapatkan syahadat yang sempurna. Dalam
prakteknya, seseorang tidak merasa 0 pasti merasa dirinya bia menyaingi Allah
atau bahkan lebih hebat daripada Allah.
Seringkali
keimanan seseorang menjadi tidak sempurna ketika tanpa sadar, dia mengambil
sesembahan selain Allah dan menjadikan sesembahan itu sebagai tandingan Allah.
Ketika seseorang merasa bahwa kekayaan dapat melindunginya dan dapat
membantunya maka dia akan menjadi sangat bakhil dan kikir dengan kekayaannya,
dia merasa bisa menyelesaikan segala Sesuatu dengan uang dan akhirnya dia akan menjauh
dari Allah, tidak bergantung kepada Allah melainkan kepada hartanya. Saat
seseorang merasa pintar dan ahli, lantas dia merasa akalnya dapat menentukan
yang mana yang benar dan mana yang salah maka dia menentukan sendiri hokum
baginya dan bagi orang lain, dan pada saat yang sama, dia tidak akan pernah
merujuk kepada Allah dalam segala perbuatan hidupnya. Pada saat seseorang
merasa bahwa pasangan hidup dan anaknya penting dan menyayangi keduanya lebih
daripada dia menyayangi Allah, pada saat yang sama pula, dia mengambil hak
Allah. Apabila seseorang merasa kematian bukan datang karena ajal dari Alllah
maka dia sangat menyayangi kehidupan dunia dan akhirnya dia menjauh dari
perintah2 Allah untuk berjuang di jalan Islam yang dianggapnya penuh resiko.
Ketika seorang wanita merasa kecantikannya bisa menjadi ‘modal’ hidupnya maka
dia merasa kecantikannya adalah sesuatu yang harus dikagumi banyak orang dia
akan mengumbar auratnya, dia merasa ridha Allah tidak cukup baginya sehingga
dia harus mencari ridha manusia.
Padahal,
berapa banyak kita melihat orang2 yang menggantukan dirinya kepada selain Allah
yang hancur, baik dari masa kita ataupun belajar dari kelakuan manusia yang
tidak me-nol-kan dirinya pada masa lalu. Pada saat gempa bumi terjadi, manusia
baru menyadari bahwa bangunan yang mereka kira sebagai tempat yang mampu
melindungi mereka, justru menjadi ancaman terbesar bagi mereka. Pada saat
tsunami terjadi, masyarakat baru menyadari bahwa keindahan pantai dan laut seta
seluruh ikan-ikan yang mereka jadikan sumber nafkah, ternyata menjadi mimpi
buruk bagi mereka. Pada saat anak mereka membentak dan berbuat buruk atau
terkena jerat narkoba maka manusia baru menyadari bawha uang yang selama ini
mereka kira sebagai penyelamat justru telah membuat anak kesayangan mereka
menjadi musuh yang menakutkan. Pada saat kematian mendatangi manusia, kita bisa
melihat bahwa harta benda menjadi sumber perselisihan yang luar biasa. Pada
saat usia lanjut telah tiba, manusia akan menyadari bahwa tulang dan daging
yang selama ini mereka bangggakan dan mereka gunakan untuk membuatnya hidupnya
lebih bahagia, ternyata kini menjadi beban dalam hidupnya. Berbagai penyakit
bermunculan merepotkan dirinya.
(QS
19:81-82)
Syahadat effek
Muslim
yang mengucapkan syahadatain sangat bervariasi dalam menjalankan amanahnya. Efek
syahadat dalam kehidupan mereka bermacam2. Ada yang telah mengucapkan
syahadatain, lalu dia tetap bermaksiat dan tidak kaaffah di dalam keislamannya.
Namun, ada pula yang telah mengucapkan syahadatain lalu dia semangat dan
kaaffah dalah keislamannya. Seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat
seharusnya memiliki kesadaran dengan kalimat syahadat itu, dia terhubungkan dengan
Allah sebgai Tuhannya, yang melihat dan mengawasi setiap perbuatannya. Inilah
yang disebut dengan ruh yang merupakan sebuah kesadaran manusia akan hubungannya
dengan Allah, yang selalu melihat dan mengawasinya. Apabila setelah
bersyahadat, ruh ini tidak terbentuk pada diri seorang Muslim maka dipastikan
kemaksiatan dan kemalasan untuk taat kepada Allah akan menjadi pilihan
hidupnya.
Untuk
mendapatkan ruh dalam syahadat kita dan menjadikan syahadat kita sempurna, marilah
kita ambil pelajaran dari Umar RA, seorang yang sangat berbeda sifatnya sebelum
dan setelah mengucapkan syahadatain. Sebelum bersyahadat, umar adalah seseroang
yang sangat memusuhi Islam, bahkan ingin membunuh Rasulullah. Keislaman Umar
sangat luar biasa, kadia sedang mendobrak rumah adiknya, Fathimah Binti Khatab
yang sedang belajar membaca alQuran, Umar membukan al Quran lalu membaca surah
Thaha ayat 1-14. Jiwanya semakin terguncang sekaligus terpeseona akan keindahan
ayat-ayatNya saat membaca ayat 14.
Membaca
14 ayat itu, Umar RA lalu ‘membaca’, berpikir dan mendalami isi ayat2 terebut.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, beliau sangat memahami bahwa apa yang
barusan dibacanya tidak mungin berasal dari manusia, melainkan dari Tuhan
pencipta semesta alam. Oleh Karena itu, Umar pun segera berucap “Betapa indah
dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad?”
Setelah
dipertemukan dengan Rasuullullah saw Umar pun masuk Islam dan mengucapkan dua
kalimah syahadat. Setelah itu, beliau berubah mejandi pembela islam, pembela
Rasulullah dan pembela Allah. Sangat kontradiktif sekali dan berbdeda,
Inilah
yang dicontohkan sebagai syahadat yang sempurna. Dalam kisah yang sangat
masyhur tentang Nabi Ibrahim ketika dalam perjalannya menemukan syahadat yang
sempurna, kita juga dapat menarik pelajaran yang sama tentang fungsi akan
pikiran dalam syahadat. Sebelum menemukan Allah, Nabi Ibrahim adalah seorang
anak muda yang hidup di tengah kebatilan masyarakat yang sangat terbiasa
menyembah keapda patung berhala. Namun, karena kecerdasan berpikirnya, nabi Ibrahim
menemukan Tuhan yang benar-benar layak untuk disembah.
Terbatasnya
aturan manusia
Demokrasi
adalah contoh sistem yang seringkali ditawarkan bagi manusia modern untuk
menentukan aturan bagi manusia, dna mengatur kehidupan dengan sistem ini.
Sama
halnya seperti aturan buatan manusia yang lain, demokrasi juga menampakkan keterbatasan
bahkan justru kerusakan dalam masyarakat. Alih-alih menyuarakan suara rakyat
dengan mewakilkan sejumlah orang teetentu untuk duduk di kursi wakil rakyat dan
menyampaikan suara rakyat utnuk diterapkan pemerintah, demokrasi malah sering
menjadi alat legitimasi bagi wakil rakyat untuk memaksakan kehendak mereka
kepada rakyat. Alasan suara terbanyak telah melegalisasi setiap hukum yang
bahkan tidak pernah masyarakat setuju dan sepakati. Mampu menentukan standar
baik-buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain: sistem demokrasi!
Setidaknya
hukum yang dibuat manusia selalu menghasilkan kerusakan yang dapat kita lihat
pada dua perkara:
1.
Kehancuran
kehidupan. Dalam segala bidang, dalam bidang politik, lahir tatanan politik
imperial, eksploitasi bangsa dan perbudakan atas umat manusia
2.
Kerusakan
alam. Tatanan kehidupan manusia itu juga menyebabkan kerusakan alam. Hutan
dibabat semena-mena dan HPH hanya diperuntukkan oleh segelintir orang atau
kelompok untuk mengeksploitasi, sedangkan masyarakat yang ingin memanfaatkan
akan ditangkap. Gunung berubah menjadi danau akibat penambangan yang tidak
bertanggung jwab. Pulau2 kecil tenggelam karena pasirnya disedot untuk
reklamasi atau dijual ke negeri lain. Lautan porak-poranda akibat bom untuk menangkap
ikan, airnya dicemari oleh berbagai limbah pabrik yang tidak diolah. Gunung
digunduli diambil kayunya, banjir pun meluluhlantakkan berbagai desa dan kota.
Semua itu adalah pengelolaan
alam ala sistem kapitalisme buatan manusia yang menyalahi fitrah manusia itu
sendiri.
Sistem ekomoni ala kapitalisme:
Sukses membuat dunia terpisah
menjadi 2 kutub dimana satu kutub bertahan hidup melawan obesitas dan kutub
lainnya bertahan melawan mal nutrisi sistem inilah yang bertanggung jwab kepada
kehancuran dunia
Kita
perlu memahami bahwa peran aturan Allah secara mutlak ini hanya dimungkinkan
dalam sitem yang mengakomodasi peraturan Allah (syariah), yakni tidak lain
adalah sistem Islam itu sendiri. Dalam pandangan islam, Rasul tidak hanya
menjadi pemimpin spiritual dan memberikan contoh dalam masalah ritual saja. Melainkan juga
pemimpin duniawi dan mengatur urusan-urusan politis. Karena alasan inilah, Michael
Hart memposisikan Muhammad saw sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh
sepanjang masa. Sistem kepemimpinan satu untuk seluruh manusia ini dikenal
sejarah dengan nama khalifah. Apada kepemimpinan inilah Abu Bakr, Umar, Utsman,
Ali, Umar Bin Abdul Aziz, Sulaiman Al-Qanuqi memimpin. Maka wajarlah Abu
Alhamid AlGhazali melukiskan pentingnya syariah Islam dan kepemimpinan yang
menjaganya agar diterapkan dalam suatu kalimat yang beliau tuliskan dalam buku
beliau:
“Sesungguhnya
dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agamamu kecuali dengan
dunia. Kekuasaan dan agama bagaikan saudara kembar; agama merupakan pondasi dan
penguasanya adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan
hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah
sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.
Diskusi
yang menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah, para sahabat adalah kaum yang
sangat paham dengan berbagai peristiwa politik yang terjadi di dunia dan sudah
biasa melakukan analisa politik akan keberadaan negara2 di dunia. Para sahabat
pun adalah kaum yang sangat visioner. Hal ini ditunjukkan dengan cara bertanya
mereka pada rasul, “manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel
atau Roma? Kejelian merka dalam memilih pertanyaan “yang mana yang lebih dulu”
bukan “mungkinkah bisa” mmberitahu kita bahwa bagi para sahabat, penaklukkan Romawi
Barat yang dilambangkan dengan Roma dan Romawi Timur yang dilambangkan dengan
Konstantinopel adalah suatu kepastian karena Allah telah menjanjikan.
Dalam
hal ini pula, Rasulullah adalah seorang yang sangat piawai dalam kepemimpinan,
dengan membiasakan para sahabat berpikir besar dan global dan tidak meremehkan
hal-hal kecil. Rasulullah menjawab “Kota Heraklius terlebih dahulu”. Jawaban
Rasul ini menunjukkan keberanian dan visi yang diemban oleh seorang utusan Allah.
Rasul tidak mengatakan bahwa menaklukkan Konstantinopel afalah angan2 atau
sesuatu yang masih jauh kejadiannya. Namun Rasul malah membakar visi para
sahabat dengan kabar gembiranya.
Akidah
adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan serta
apapun yang ada sebelumnya dan sesudahnya. Diyakini dan diterima 100% dengan
akal dan hati dan berdasarkan argumen yang kuat.
Syahadat
adalah pintu antara muslim dan kafir syahadat seharusnya menghasilkan perubahan
bagi pelakunya. Bila manusia tidak mengetahui keterbatasan dan kelemahan dirinya
maka syahadat ini akan menjadi syahadat palsu semakin pintar seorang mukmin
maka ia akan menyadari bahwa dia sangat lemah dan Allah-lah yang maha kuat.
Janji
Allah bagaikan peneduh ditengah teriknya ujian dan tantangan dakwah Bisyarah
Rasulullah saw bagaikan mataair di tengah kekeringan harapan akan makian
manusia. Keyakinan akan janji Allah dan RasulNya adalah inspirasi terbesar bagi
setiap insan yang merindukan kebangkitan Islam karena bagi mereka, hanya Allah
dan RasulNya yang benar dan selain itu hanyalah fatamorgana kehidupan”.
Jadikanlah
engkau di dunia ini seperti seorang asing atau bahkan seperti sekadar orang
yang lewat. (HR Bukhari)
“Jika
hidup ini singkat dan melenakan. Jika allah menjanjikan surga beserta
kenikmatannya. Jika akhirat betul-betul lebih daripada dunia. Jika ibadah yang
akan kita lakukan adalah yang terakhir kalinya maka seperti apa kita akan
mejalaninya?...
Referensi :
Yanuwar,
Felix Siauw. 2010. Beyond The Inspiration.
Jakarta : Khilafah Press
Minggu, 24 November 2013
AL-FATIH THE NEXT MEHMED II LEGACY
Sesungguhnya di balik ucapan Halil
Pasha, kata-katanya terdapat keinginan untuk memadamkan api semangat yang ada
di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun, dia tak akan
pernah mendapatkan apapun kecuali keputusasaan dan kerugian. Sesungguhnya
Alexander the Great yang berangkat dari Yunani dan berjalan hingga ke India
serta menaklukan separuh Asia yang begitu besar dan luas itu, tidak lebih besar
jumlah pasukannya ketimbang pasukan kita. Maka jika pasukannya itu mampu
menguasai bumi yang luas, apakah pasukan kita tidak mampu melangkahi seonggok
tanah di balik batu-batu yang bertumpuk (tembok konstantinopel) ini ??? Halil
Pasha telah berkata kepada kita bahwa Negara-negara Barat akan dating pada kita
untuk membalas dendam. Lalu, siapa yang dia maksudkan dengan Negara-negara
Barat itu? apakah yang dia maksud Negara-negara (berbahasa) latin yang kini
sedang dilanda permusuhan internal atau Negara-negara di Laut Mediterania yang
tidak mampu melakukan apapun kecuali merampok dan mencuri? Andaikata
Negara-negara itu ingin memberikan bantuan kepada Byzantium, pastilah mereka
telah mengirimkan pasukan dan kapal-kapal perangnya. Andaikata orang-orang
Barat itu beranjak untuk berperang dan memerangi kita maka apakah kita akan
berpangku tangan dan tidak melakukan apapun? Bukankah kita memiliki tentara
untuk mempertahankan kehormatan kita?
AL-FATIH THE NEXT
MEHMED II LEGACY
“Taklukan
negeri mana saja yang kalian inginkan karena demi Dzat yang Abu Hurairah berada
di tangan-Nya, tidaklah kalian menaklukan salah satu kota hingga hari kiamat
melainkan Allah telah memberikan kunci-kuncinya kepada Muhammad saw sebelum
itu.” (Abu Hurairah RA)
See Beyond The Eyes Can See
Ketika ada yang bertanya, sikap mental
apakah yang paling mnonjol pada seorang Mehmed Al-Fatih, dan menjawab “see
beyond the eyes can see”, Melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata.
Lebih jauh lagi, bahkan saya katakan ini adalah sikap mental yang terkait
dengan inti ajaran islam, aqidah islam. Sebagian besar perkara keimanan dalan
islam tidak dapat dilihat oleh mata dalam meyakininya menuntut seseorang untuk
bisa melihat lebih dari mata. Eksistensi Allah, Malaikat, Hari Kiamat, Surga,
dan Neraka dan perkara-perkara lain yang tak kasat mata.
Allah Swt juga
telah menjadikan ‘sesuatu yang tak terllihat oleh mata’ sebagai balasan yang baik
bagi orang yang beriman dan ganjaran bagi yang mendustainya. Dalam Islam, janji
dan prediksi serta kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya disebut Bisyarah.
Bagi kaum Muslim, bisyarah adalah sumber energi tak terbatas, yang dapat
mengatasi segala rintangan dan memungkinkan segala kemustahilan. Bisyarah juga
membuat seorang Muslim rela mengorbankan apa yang ada di depan matanya untuk
mengejar janji Allah dan Rasul-Nya yang jauh lebih baik walaupun tidak dapat
dipandang oleh mata.
Kita juga
mengetahui bahwa seseorang akan jauh lebih semangat dan lebih tekun dalam
menjalani sesuatu apabila dia mengetahui tujuan yang akan dicapainya. Semakin
jelas tujuan itu, maka semakin besar energi yang muncul di dalam dirinya untuk
menjalaninya. Pada faktanya, melihat jauh ke depan atau berfikir selangkah di
depan adalah syarat wajib yang ada pada setiap pemimpin besar di dunia, orang
zaman kini menyebutnya sebagai visi.
Sejak awal
pembentukannya, Rasulullah saw mendidik para sahabat agar tidak membatasi
pandangan mereka pada realitas zaman. Rasulullah membentuk metal para sahabat
agar tidak hanya percaya pada realitas di depan mata, tetapi lebih kepda hasil
akhir yang ingin dicapai. Kita harus mengingat bahwa pada masa Rasul dan para
sahabat, mempertahankan agama bukanlah hal yang mudah, di depan mata para
sahabat terdapat keterbatasam halangan dan problematika kehidupan menjulang
tinggi dan datang bergelombang tak henti-hentinya. Keterbatasan itu terlihat
dalam jumlah kaum Muslim yang sedikit dibandingkan penentangnya, sumberdaya
yang dikuasainya dan juga tampak dari propaganda, intimidasi bahkan penganiaan
yang dilakkan oleh orang-orang kafir. Pada saat seperti itu, visi yang diberikan
oleh Allah dan Rasulullah pada para sahabat ibarat minyak yang selalu akan
menyalakan api harapan dalam dada mereka. Visi ini begitu jelas ditanamkan oleh
Rasulullah saw sehingga apapun yang terjadi di depan mata mereka hanya menjadi
sebuah fatamorgana kehidupan yang tidak dapat menandingi visi hidup yang
diberikan islam, yaitu membebaskan dunia.
“Sesungguhnya
Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan barantya dan sesungguhnya
kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku.” (HR. muslim)
Seorang pemimpin, apalagi penakluk,
wajib memiliki sikap seperti ini. Seseorang yang selalu melihat kekinian dan
fakta di depan matanya tidak pantas, bahkan tidak layak menjadi pemimpin karena
itulah seorang pemimpin dinilai dari seberapa yakin dia bisa mewujudkan apa
yang dilihat dengan akalnya, bukan hanya dengan matanya. Pandangannya kepada
masa depan dan keyakinan mencapainya adalah sesuatu yang membuatnya memiliki
ketahanan yang lebih daripada yang biasanya, pemikiran yang lebih daripada yang
biasanya, perbuatan yang lebih daripada yang biasanya dan seringkali prestasi
yang lebih daripada yang biasanya.
Dapat kita bayangkan, 54 hari pengepungan
yang dilakukan oleh Sultan Mehmed dan lebih dari 30.000 pasukannya gugur di
medan perang pada 1453. Sebuah kesulitan yang tidak terbayangkan, mengatur
250.000 pasukan, sementara di depan mata menghadapi tembok yang tidak tertembus
selama 11 abad. Bila saja Sultan Mehmed melihat dengan matanya, sungguh
Konstantinopel tidak akan bisa ditaklukkan.
Namun,
kenyataannya tidak seperti itu, keyakinannya bahwa Konstantinopel pasti akan
ditaklukkan telah dibangunnya semenjak kanak-kanak, baginya ucapan Rasulullah
saw adalah satu-satunya kebenaran. Seandainya seluruh dunia berkata, bahwa Konstantinopel
tidak akan bisa ditaklukkan, selama Muhammad saw berkata “bisa” maka bagi
Mehmed itu sudah cukup. Bagi Sultan Mehmed, Konstantinopel secara hakiki telah
takluk ketika hadist itu keluar dari lisan Rasulullah yang mulia karena
Rasulullah tidak pernah salah.
Keyakinan yang
benar-benar kuat dan teguh akan takluknya Konstantinopel adalah energi terbesar
begi Mehmed, sekaligus menjadi keutamaan paling besar dalam sikap mentalnya.
Keyakinannya sanggup mentranformasikan menjadi kekuatan untuk memindahkan 72
kapal dayung dari Selat Borphorus ke Teluk Tanduk, yang tidak akan terjadi
apabila Sultan Mehmed hanya melihat pada fakta. Keyakinan yang sama telah
membuatnya bekerja keras, memutar otak dan mencari akal dan cara baru untuk
melancarkan serangan kepada Konstantinopel karena di dalam kepalanya,
Konstantinopel pasti akan takluk, hanya memerlukan cara-cara yang lebih bagus
agar itu terwujud menjadi kenyataan.
Berbeda dengan
orang-orang yang tidak bisa melihat lebih daripada yang biasa dilihat oleh
mata, mereka akan selalu beralasan, mengeluh dengan hambatan dan rintangan yang
menghadang mereka dan menjadikannya sebagai alasan untuk tidak melakukan apapun
dalam hidupnya. Mereka kalah sebelum berperang dan orang yang tidak memiliki
keyakinan maka peluang untuk berhasilnya menjadi nol. Mereka hanya sanggup
melihat apa yang di depan mata dan tertipu karenanya, namun mereka tidak bisa
melihat apapun di balik itu.
Begitulah
orang-orang yang tertipu dengan dunia, pada hakikatnya mereka juga orang-orang
yang tidak mampu melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata”. Tatkala
permasalahan harta benda, mereka berebut dan berlomba-lomba, seakan-akan petir
dan gempa tidak dapat menghalangi mereka. Mereka sangat fasih berbicara tentang
uang, membanggakan apapun yang mereka miliki dengan semangat berkobar-kobar
namun ketika tiba persoalan agama, tiba-tiba mereka jadi yang paling bodoh,
miskin dan lemah. Allah mengkritik mereka dalam Al-Qur’an
“Mereka hanya mengetahui yang lahir
(saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah
lalai.” (QS. Ar-Rum [30]:7)
Visi yang diberikan Rasulullah juga
melatih para sahabat untuk berfikir besar, sebagaimana yang juga terlihat pada
Sultan Mehmed II. Kebiasaan berfikir besar pada gilirannya menghasilkan
prestasi yang besar pula sebagaimana kaum Muslim yang telah kita ketahui.
Jadi Muslim
adalah seseorang yang yakin akan ‘keberadaan’ yang lebih dari dirinya dan layak
disembah. Oleh karenanya, mereka berserah dan tunduk total kepada-Nya dan
apapun yang Dia tentukan. Kemampuan untuk mengetahui dan meyakini sesutatu
sebelum semuanya terjadi, inilah dasar keimanan Muslim. To see beyond the eyes can see.
Mereka melihat realitas lebih daripada
yang dapat dilihat oleh mata, hal itu ibarat motor yang terus memberikan energi
tak terbatas. Mereka beribadah kepada Allah seolah-olah mereka melihat Allah
karena itu ibadah yang mereka lakukan adalah ibadah yang maksimal bukan
minimal. Mereka tekun dalam shalatnya karena mereka yankin dengan kematian dan pertemuannya
dengan Allah. Mereka bisa melaksanakan puasa karena telah terbayang dengan
jelas kenikmatan memandang wajah Allah di hari pertemuan dengan-Nya. Dalam
berusaha, mereka juga lebih bersemangat daripada yang lain karena mereka
meyakini bahwa Allah telah menentukan kadar rizqi buat masing-masing hamba-Nya.
Perjuangan membangkitkan Islam menjadi manis karena bagi kaum Muslim itu
laksana kenikmatan yang tertunda. Mereka berjihad seolah surga sudah di depan
mata sehingga syahid dalam jihad
adalah sesuatu yang dirindukan. Mereka berperang dengan gagah seolah kemenangan
sudah dalam genggaman mereka.
Percaya pada realitas
di depan mata ataukah visi yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, semua itu adalah
pilihan kita. Apapun pilihan kita, takdir Allah sudah digariskan dan kenyataan
nantinya tidak akan pernah berubah, sebagaimana yang telah Rasulullah tegaskan
dalam salah satu surat seruan dakwah Islam yang dikirim kepada al-Mundzir bin
Sawa, penguasa Bahrain.
Bismillahirrahmanirrahiim, dari
Muhammad Rasulullah Saw kepada al-Mundzir bin Sawa, keselamatan untuk siapa
saja yang mengikuti hidayah (Islam). Ammaba’du, aku menyeru engkau memeluk
Islam. Maka masuk Islamlah, engkau akan selamat. Masuk Islamlah maka Allah akan
menjadikan apa yang berada dalam genggaman kedua tanganmu tetap menjadi
milikmu. Ketauhilah, bahwa agamaku ini akn menuai kemenangan hingga unta dan
kuda terakhir!
Al-A’la bis
al-Hadhrami, utusan yang membawa surat ini mengingatkan kepada al-Mundzir bin
Sawa, “Wahai Mundzir, engkau adalah orang yang mempunyai intelektualitas yang
luar biasa di dunia ini maka janganlah sekali-kali engkau mengecilkan akhirat”,
seraya berpesan kepadanya untuk senantiasa berpikir dan menggunakan akal dalam
merespons surat Rasulullah saw. Setelah membaca isi surat ini maka Al-Mundzir
bin Sawa berkata:
“Aku memang telah mempertimbangkan
urusan yang ada dalam genggamanku ini; aku memang menemukannya semata-mata
untuk kepentingan dunia,bukan akhirat. Kemudian aku memerhatikan agama kalian
dan aku pun menemukannya untuk kepentingan akhirat juga dunia sekaligus. Lalu,
apa yang menghalangiku utnuk menerima agama yang mengajarkan kedamaian hidup
dan ketenangan mati? Kemarin, aku merasa heran dengan orang yang menerimanya,
dan kini aku merasa heran dengan orang yang menolaknya.”
Mahabenar Allah
ketika menyampaikan kepada kita bahwa orang-orang kafir dan munafiq senantiasa
pintar dalam urusan dunia yang terlihat, tapi lalai dalam urusan akhirat. Sama
seperti visi Rasulullah yang memang sepertinya sangat tergantung dari taraf
berfikir seseorang. Memang akhirnya semua kembali kepada tingkatan berpikir yang
pada gilirannya akan melahirkan keimanan. Begitu pula kisah Islamnya Adi bin
Hatim yang memperlihatkan tingkatan berpikirnya ketika berdialog dengan Nabi
Muhammad saw.
“Wahai Adi, bukankah engkau penganut
Rukus?” Adi bin Hatim menjawab “Benar!”. Beliau bertanya: “Bukankah engkau
mengambil langkah dengan menetapkan bagian ¼ ghanimah (untukmu) di antara
kaummu?”. Adi menjawab “Benar!”. Beliau bertanya lagi “Sebenarnya menurut
agamamu hal itu tidak dihalalkan bagimu”. Berkata Adi “Demi Allah, memang benar!”.
Kemudian, beliau berkata : “Wahai Adi barangkali ada sesuatu yang menghalangimu
memeluk agama ini karena engkau memandang mereka itu miskin? Demi Allah, kelak
harta kekayaan dan akan diguyurkan dengan melimpah di tengah-tengah mereka
hingga tidak ada satupun yang akan mengambilnya. Barangkali sesuatu yang menghaalangimu
measik islam adalah karena engkau
memandang musuh mereka banyak, sementara jumlah mereka hanya sedikit?
Demi Allah, kelak engkau pasti mendengar ada seorang wanita klaur dariQadisiyah
dengan menunggang untanya, wanita itu pasti akan mengunjungi Baitullah ini
tanpa rasa takut! Barangkali yang menghalangimu masuk islam karena engkau
memandang kerajaan dan kekuasaan itu dipegang oleh selain mereka? demi Allah,
kelak engkau kan melihat Istana Putih (Istana Kisra) dari Bumi Bail (Persia)
akan ditaklukkan untuk mereka.” lalu Adi Bin Hatim pun masuk Islam.
Adi Bin Hatim
sebelum meninggal pada 688 akhirnya menyaksikan dua hal yang dijanjikan Rasul dengan
matanya, takluknya Istana Putih Persia dan juga seorang wanita yang keluar dari
Qadsiyah menuju ke Baitullah untuk menunaikan haji tanpa ada gangguan dan ia
yakin, kelak satu hal yang lain yang akan segera terwujud. Bagi kaum muslim
yang menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, perkara janji dan bisyarah
Allah serta Rasulullah serta semua visi yang disampaikan kepada ummatNya adalah
perkara yang tidak perlu didiskusikan lagi kepastiannnya. Bahasa Imannnya
adalkah qadarullah --ketentuan Allah-- atau takdir Allah. Persis seperti yang
disyaratkan kepada kita dalam ayat (QS Al-Fath :21)
(al-ahzab : 10-12 ayat ini
menceritakan tentang bagaimana kaum Muslim itu diuji dengan kengerian dan
ketakutan setelah itu ddatanglah kemenangan. Demikian lah Allah menguji
hambaNya dengan cara yang Dia ketahui. Agat disitu terlihat siapa yang
benar-benar meyakini janjiNya dan siapa yang mendustai bahkan mengadakan
prasangka-prasangka buruk kepada Allah. Prasangka buruk tersebut adalah :
“terbesit pada mereka bahwa Allah mengingkari janjiNya.
“The sacred promise os not a matter of choice, but it is a fate”
Source of All Victory
Kalau
seandainya ada pemimpin Muslim yang tidak pernah masbuq dalam shalatnya, dialah
Sultan Muhammad Al-Fatih. (Syaikh Samsuddin)
Di
antara rahasia kemenangan Sultan Mehmed dalam upayanya mewujudkan
bisyarah islam dan Nubuwwah Rasulullah saw, tentang penaklukkan kota
Konstantinopel adalah keualitas amal shaleh Sultan Mehmed dalam mendirikan
shalat. Dalam catatan sejarah, nama Sultan Mehmed tercatat dengan tinta emas
mengabadikan dirinya sebagai pemimpin yang teguh mendirikan shalat. Tidak hanya
shalat fardhu yang lima waktu, namun juga shalat sunah, seperti shalat rawatib
dan shalat tahajjud. Dia begitu meyakini bahwa kemenangan pasukan Islam bukan
hanya karena jumlah yang banyak, teknologi persenjataan yang hebat atau
strategi militer yang brilian. Namun, sultan Mehmed meyakini sepenuhnya bahwa
setiap kemenangan pasukan yang dipimpinnya merupakan pertolongan nyata dari
Allah swt.
Keyakinan Sultan Mehmed ini terungkap
secara nyata di hadapan pasukannya, saat dia mengumpulkan mereka pada 27 Mei
1453. Sultan Mehmed melihat kemenangan atas Konstantinopel sudah semakin dekat,
dia berkhutbah di hadapan pasukannya, mengingatkan mereka akan tujuan
penaklukkan atas Konstantinopel.
“Jika
penaklukkan kota Konstaninopel sukses maka sabda Rasulullah saw telah terbukti.
Kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits nii,
berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada para
pasuka satu persatu bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan
menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Unutk itu, wajib bagi setiap pasukan,
menjadikan syariat selalu di depan matanya dan jangan sampai ada di antara
mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik
tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para
pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut pertempuran.”
Khutbah Sultan Mehmed ini adalah
penegasan kepada pasukannya bahwa kemenangan tidak akan bisa dicapai dengan
mengadalkan kekuatan belaka, bukan pula karena kecerdasan dan strategi perang,
dia sangat memahami bahwa kemenangan hanya akan tercapai dengan izin dan
pertolongan dari Allah. Bahkan, dia meminta kepada seluruh pasukannya untuk
bermunajat kepada Alllah swt, menjauhkan diri dari maksiat, bertahajjud dan
berpuasa pada esok harinya.
Demikian pula dengan dirinya sebagai pemimpin
seluruh pasukan, Sultan Mehmed menjadi orang pertama yang memberi contoh kepada
pasukannya. Dia mengerjakan apa yang telah diperintahkannya. Bahkan, tinta para
sejarawan menuliskan bahwa untuk menjaga kedekatannya atas keinginan yang
sangat kuat untuk menaklukkan Konstantinopel, sejak usia baligh, Mehmed remaja
tidak pernah melalaikan shalat. Dia tidak hanya salat tepat waktu, namun dia
juga mengerjakan secara berjamaan. Dan tidak pernah masbuq. Kalau rawatib saja
saja tidak pernah lalai apalagi wajib, tentu Mehmed lebih mengutamakannya.
Selain itu, sejak remaja, Mehmed tidak
pernah meninggalkan shalat tahajjud barang semalam pun. Bahkan, pada saat dia
bangun dari segitiga malam terakhirnya untuk bersimpuh sujud di hadapan Allah
ada dan Mehmed ingin mengikuti tabiat Rasul yang menegakkan shalat malam
sepanjang malam dalam hidupnya. Shalat tahajjud Rasulullah saw merupakan
kewajiban yang tak bisa beliau tinggalkan, sebagai takhsis baginnya. Sultan
Mehmed adalah ahli qiyamul lail yang selalu kontak dengan energi terbesar dalam
alam semesta, Allah swt.
Bahkan Mehmed punya kebiasaan yang
cukup unik, dia selalu berkelilng setiap malam, memeriksa kondisi teman dan
rakyatnya. Dia bersengaja berkeliling untuk memastikan apakah rakyat dan
teman-temannya terbangun untuk menunaikan shalat malam, atau tidak !
Kesalehan pribadi Sultan Mehmed
terbukti ketika suatu hari, muncul pada saat pasukan Islam hendak melaksanakan
shalat jumat yang kali pertama di Konstantinopel. “Siapakah yang layak menjadi
imam salat jumat”
Namun, tidak seoarng pun yang berani
menawarkan dirinya. Melihat hal itu Sultan Mehmed segera bangun dari kursi dan sama2
berdiri kemudian, dia bertanya: “Siapakah
di antara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya ini pernah
meninggalkan shalat wajib lima waktu? Duduklah:
Subhanallah! Mahasuci Allah! tidak ada
seorangpun di antara pasukan Islam yang duduk. Semuanya masih tegak berdiri.
Artinya, pasukan Islam yang dipimpin Sultan Mehmed sejak mereka hingga pada
hari itu, tidak ada seorang pun yang pernah meninggalkan shalat wajib. Tidak
sekalipun, mreka melalaikan shalat fardhu.
Mehmed tersenyum, kemudian bertanya
untuk kali kedua: “Siapakah di antara
kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya ini pernah meninggalkan shalat
sunnah rawatib?? Duduklah:
Sebagian di antara pasukan Islam yang
mereasa pernah meninggalkan shalat rawatib, mereka segera duduk. Namun sebagian
dia antara pasukan Islam saat itu masih berdiri tegak. Artinya, sejak masa
remajanya, mereka tidak pernah meninggalkan shalat rawatib, yaitu shalat sunnah
yang mengikuti shalat fardhu. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka
sebagai Muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur.
Sultan Mehmed pun kembali berseru
sambil mengedarkan matanya kepada seluruh pasukannya yang masih berdiri tegak:
“Siapakah di antara kalian yang sejak
remaja, sejak akil balighnya ini pernah meninggalkan shalat sunnah sunnah di
kesunyian malam?? Bagi yang merasa
pernah meninggalkan atau kosong, Duduklah:
Apa yang tetrjadi? Pasukan Islam yang sebelumnya
masih banyak yang berdiri tegak dengan segera mereka duduk rapi kembali., ada pemandangan
yang menakjubkan, ternyata ada seorang yang masih tetap tegak berdiri. Dia
adalah Sultan mehmed II bin Murad II, sang penakluk Konstantinopel. Dialah yang
pantas jadi imam shalat Jumat pada hari itu karena hanya dialah yang sejak akil
baligh dan usia remajanya selalu mengisi kesunyian malamnya dengan bersujud
kepada Allah!
Berkat jiwa kepahlawanan, keberanian,
kecerdasan, kesalehan, dan perestasinya inilah, mehmed II bin Murad IIdi beri
gelar Al-Fatih. Itulah sebuah kisah sejarah yang sungguh indah dalam bingkai
ketakwaan kepada Allah swt. kisah Pedang Malam yang merupakan rahasia sukses
dari seorang pribadi pengubah sejarah, bernama al-Fatih Sultan Mehmed.
Keberadaan dirinya yang luar biasa telah diprediksi oleh Rasulullah saw dalam
sabdanya yangmulia :
Konstantinopel
akan jatuh ke tangan seorang laki-laki . pemimpin yang menaklukkkannya adalah
sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah
sebaik-baik pasukan” (HR Ahmad bin Hambal)
Itulah salah satu di antara rahasia
kemenangan Sultan Mehmed dalam mewujudkan bisyarah Islam dan nubuwwah
Rasul-Nya, yaitu penaklukkan Konstantinopel. Sultan Mehmed memilik pribadi luar
biasa dalam dirinya, salah satunya adalah kualitas amal shalehnya, shalat!
Untuk meneladani apa yang telah
dicontohkan oleh sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan yang digelari
sang Penakluk ini dalam meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah dengan kualitas
ibadah kita, khusunya shalat maka kita harus memahami latar belakang kedudukan shalat sebagai pembuktian
ketundukan dan penghambaan diri terhadap Allah pada satu sisi dan pada sisi
lainnya sebagai bentuk syukur terhadap nikmat Allah.
Di antaranya adalah, nikmat penciptaan
makhluk Allah telah menjadikan manusia dengan bentuk uang sempurna, ahsani taqwim, sekaligus khayrul barriyah, hingga tak seorang pun
berharap diciptakan dengan selain bentuk ini.
Begitu pula nikmat sehat karena dengan
kesehatan anggota badan, seseorang mampu berbuat banyak kebaikan termasuk di
dalamnya nikmat pemberian sendi-sendi yang elastis dalam anatomi tubuh yang
senpurna sehingga dapat difungsikan dalam kondisi apapun. Allah memerintahkan
kita untuk menggunakan nikmat-nikmat itu dalam kepatuhan. Dalam shalat, kita padukan
anggota badan, lisan, hati serta jiwa untuk berlutut dan memuja kepada Nya agar
semua anggota dapat mensyukuri nikmat yang ada. Inilah yang dirasakan Sultan
Mehmed dalam setiap shalatnya.
Kalau kita perhatikan perintah shalat
dalam al-Quran, ditemukan bahwa perintah itu selalu dimulai dngan kata ‘aqimu’.
Kata ‘aqimu’ ini biasa diterjemahkan dengan ‘mendirikan’, meskipun sebenarnya
terjemahan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena, seperti kata Imama
al-Qurthuby dalam tafsirnya , ‘aqimu’ bukan terambil dari kata ‘qama’
yangberarti ‘berdiri’, tetapi kata itu
berarti ‘bersinambung dan sempurna; sehingga perintah tersebut berarti
‘melaksanakannya dengan baik, khusyuk dan bersinambungan sesuai dengan syarat
rukun dan sunnahnya.
Sultan Mehmed pun dalam upaya
taqarrubnya kepada Sang Penolong dan Sang Pemberi Kemenangan kepada pasukannya
selalu ‘bersinambung dan sempurna’ dalam shalatnya dengan mengerjakan shalat
tepat waktu , berjamaah dan di kerjakan di masjid sesuai dengan syarat rukun
dan sunnahnya. Dia telah menjadi ahli sujud yang terpercaya, sebagai para ahlul bayt nabi yang digelari As-sajjad.
Para ulama mu’tabar menyatakan bahwa
shalat memiliki kedudukan yang utama dalam keseluruhan ibadah kepada Allah swt.
Mereka merumuskan dari beberapa hadits Rasul yang menjelaskan kedudukan shalat
dapat disimpukan :
1.
Shalat
merupakan mi’rajul mukminin.
2. Shalat
juga sebagai tiang agama, barang siapa menegakkannya berarti telah menegakkan
agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti merusak agama;
3.
Shalat
sebagai amal ibadah yang membedakan antara umat Islam dan orang kafir;
4.
Shalat
merupakan ibadah yang pertama dihisab.
Apabila umat Islam telah menegakkan
shalat secara sempurna, khusyu dalam shalatnya dan Ikhlas dalam pengamalannya
maka shalatnya itu akan memberikan dampak yang positif terhadap suasana batin,
kejiwaan, atau psikologisnya yang tentram. Kondisi ini amat mendukung bagi
terbentuknya kepribadian yang utuh, sehat, produktif, atau efektif. Sultan Mehmed
pun mendapatkan apa yang dinamakan kepribadian yang efektif itu yang memiliki ciri
sebagai berikut :
1.
Komitmen
terhadap nilai-nilai dan aturan Islam;
2.
Konsisten
atau istiqamah dalam kebenaran;
3.
Kreatif,
banyak ide atau gagasan dalam menebarkan kebaikan atau kebenaran;
4.
Kompeten
dalam mengamalkan ajaran agama.
Dalam uraian pada bahasan sebelumnya,
kita akan dapat mengetahui kelima ciri kepribadian yang efektif itu telah
mengakar kuat pada pribadi Sultan Mehmed, terutama saat ekspedisi
penaklukannnya atas kota Konstantinopel. Semua itu bermula dari kualitas ibadah
shalatnya yang istimewa.
Sultan Mehmed II bin Murad II memahami
benar apa yang selalu diingatkan Rasulullah saw tentang kualitas amal shalat
ini.
“yang
pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya,
apabila shalatnya sempurna, maka ditulis sempurna, dan apabila terdapat
kekurangan, Allah berkata: “Lihatlah apakah dia mempunyai shalat sunnah untuk
melengkapi kekurangan shalat wajibnya dari shalat sunnah”, kemudian barulah
dihisab amal-amal yang lain seperti yang demikian itu.”
Bahkan dalam hadits yang lain,
Rasulullah saw mengingatkan bahwa apabila hasil perhitungan amal shalat ini
sempurna maka amal-amal ibadah yang lainnya pun akan sempurna. Namun
sebaliknya, apabila hasil hisab shalat atas seorang hamba ini tidak beres maka
dapat dipastikan kualitas amal ibadah yang lainnya pun tidak beres.
Oleh karena itulah, shalat merupakan
wasilah dan cahaya. Rahmat dan pembuka jalan untuk mencapai keridhaan Allah
swt, jannah-Nya, dan pertolongan-Nya. Sungguh sejak Sultan Mehmed mendapatkan
pendidikan dini dari Syaikh Ahmad Al-Kurni dan Syaikh Aaq Syamsudin, dia telah
mengabdikan dirinya kepada Allah swt demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim.
Salah satu di antara buktinya, dia telah menjadi ahli sujud, as-Sajjad sekaligus menjadi ahli masjid.
Di samping semua itu, juga merupakan
bentuk penjagaan yang bersih suci dan kuat terhadap masyarakat. Karena itu, bagi
seorang Muslim ketika ada saudaranya di dalam masjid mempunyai tujuan yang
sama, yaitu ridha Allah. Saat dia berdiri di samping saudaranya dalam satu shaff shalat, dia menyaksikan saudaranya
berdiri di hadapan Allah seperti apa yang dikerjakannya maka hali itu menguatkan
mereka untuk saling mengenal dan memahami. Hati mereka senantiasa terikat dan
terhubung. Allah swt akan menjadikan kesatuan yang kuat dan suci di antara
merkea ketika persaudaraan itu jujur. Sedangkan buah dari semua itu adalah
persatuan Islam yang tidak akan putus.
Demikian pula dengan Sultan Mehmed
yang tidak pernah melewatkan shalat fardhu dengan berjamaah. Dia menjalin silah
ukhuwah kepada sesama Mukmin dan rakyatnya, sekaligus menjalin kedekatan dengan
aparatur Negara dan anggota pasukannya, dia ingin meneladani akhlaq Rasul untuk
selalu dekat dengan umatnya.
Shalat juga merupakan keteraturan dan
kebersihan. Amal dan gerakan. Ilmu dan pelaksanaan. Saling mengasihi dan menyayangi.
Pembinaan jiwa dan penguat ruh. Penghias dan penyeimbang. Oleh karena itulah,
tidak salah apabila ada yang mengatakan bahwa shalat merupakan sekolah tinggi
pendidikan dalam Islam, dan Sultan Mehmed II sudah memberikan contohnya untuk
kita ikuti.
Mari kita tunaikan kewajiban asasi
kita sebagai sarana bagi kaum Muslim untuk meminta pertolongan dari Allah swt,
yang memiliki kunci kemenangan daam perjuangan.
(QS Al-baqarah :2)
Whatever it takes!
Mehmed adalah gabungan dari
keberanian, kegigihan dan kecerdasan dalam berjuang. Dia memiliki satu penentu,
yaitu memberikan yang terbaik dalam setiap pilihan hidupnya. To do whatever it takes. Banyak Muslim
di dunia ini yang kalah sebelum berperang, mereka tidak mampu menunjukkan
kemampuan maksimal yang mereka miliki. Bahkan, sejak awal mereka meragukan
pancapaian yang diinginkannya. Namun, tidak bagi Sultan Mehmed, sejak awal dia
adalah seorang pemberani karena agama Allah dan hal itu ditunjukkan melalui
perbuatan dan kata-katanya dalam setiap kesempatan.
Keberanian dan kegigihan Mehmed juga
mewujudkan kepercayaan diri yang besar pada pribadinya dan keyakinan ini
berhasil ditransfer dengan baik olehnya kepada seluruh pasukan Utsmani sehingga
pasukannya dapat memberikan kontribusi maksimal untuk perjuangan Islam.
Ketika Sultan Mehmed dalam
perjalanannya menaklukan Trebizond, dia harus melewati gunung-gunung dan
mendaki bukit-bukit serta serentetan halangan lain yang membuat pasukannya
mengalami kesulitan. Pada saat itu, penguasa Trebizond juga dibantu oleh kabilah
Turkman yang dioleh Hasan Uzun. Dalam perjalanan yang sulit itu, Sultan Mehmed
bertemu dengan Ibu dari Hasan Uzun yang menginginkan menjadi mediator ishlah antara anaknya dan Sultan Mehmed,
Si Ibu bertanya kepadanya,
“Kenapa
kau harus bersusah payah melakukan ini wahai anakku? Apakah Trebizond berhak
untuk kau perjuangkan dengan cara seperti ini?” maka Mehmed menjawab : “Wahai
Ibu, sesungguhnya Allah telah meletakkan pedang di tanganku untuk berjihad di
jalan-Nya maka jika aku tidak mampu bersabar untuk menghahapi
kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku lakukan kewajibanku dengan pedang ini
maka sangat tidak pantas bagiku untuk mendapatkan gelar al-Ghazi yang aku
sandang sekarang ini. Lalu, bagaimana aku akan menemui Allah pada hari Kiamat
nanti?”
Pernyataan Mehmed sangat jelas
menggambarkan keberanian dan keteguhan hatinya dalam memperjuangkan Islam. Bila
kita memerhatikan kisah penaklukkan Konstantinopel maka sikap mental seperti
inilah yang selalu dia tunjukkan ketika berperang, memimpin pasukan, bahkan
menanggapi suatu peristiwa.
Sikap ini pula yang tampak pada Sultan
Mehmed pada saat mendapatkan informasi tentang Papal Bull (Surat keputusan yang dikeluarkan oleh Pasu Gereja
Katholik, semacam seruan untuk setiap ummat katolik di seluruh dunia) yang
dikeluarkan oleh Paus Pius 1463 perihal seruan Paus untuk menyatukan seluruh
pasukan Kristen Eropa untuk meneriakkan perang alib sekali lagi kepada kaum
Muslim. Reaksi Sultan Mehmed :
“Aku
akan membantu orang tua malang itu akan kesusahan perjalanan jauh yang harus
ditempuh dirinya dan pasukan Kristen, dengan memberangkatkan pasukanku menuju
kepadanya dan mencari mereka semua di rumah-rumah mereka!”
Tentu saja, yang paling terkenal di
antara semuanya adalah ketika Sultan Mehmed memindahkan 72 kapal dari selar
Bosphorus menuju Teluk Tanduk dalam waktu semalam. whatever it Takes for the sake of Allah, dia melaksanakan apapun
yang harus dilakukan demi Allah.
Sultan Mehmed tidak pernah
menghabiskan waktunya untuk mencari-cari alasan atas kegagalan yang dia peroleh,
namun menghabiskan waktunya untuk mencari cara agar apa yng diinginkannya dapat
terwujud, walau dengan cara-cara yang tidak terbayangkan sebelunya. Mehmed
menyadari bahwa tidak ada yang lebih besar dan masalah yang lebih banyak. Tidak
ada seorang pun yang mendapatkan penghargaan karena membuat alasan yang paling
banyak. Namun, banyak orang mendapatkan penghargaan karena dia menemukan cara
untuk tidak beralasan dan akhirnya memperoleh apa yang ditujunya. Begitu pula
Sultan Mehmed, baginya alasan adalah penghalang kemenangan dan menghambat
seseorang untuk melakukan yang terbaik.
Lebih dari pada itu, Sultan Mehmed
telah mengajarkan satu hal yang sangat penting bagi kaum Muslim yang ingin
menapaki jalan perjuangan Islam setelahnya. Pertanyaannya bukanlah Bisa atau
Tidak Bisa? Bukan juga Mungkin atau Tidak Mungkin. Kita tentu sangat paham,
tidak ada yang tidak mungkin di dunia kecuali “Allah itu dua”. Namun, Sultan
Mehmed mengajarkan kepada kita bahwa pertanyaanya adalah, Mau atau Tidak Mau?!
Apabila kita “Mau” maka semua yang kita
lakukan pasti yang terbaik dan kita tidak akan menghabiskan waktu untuk
mengasihani diri sendiri, beralasan dan membenarkan kegagalan-kegagalan kita.
Namun, kita akan terus mencari cara terbaik untuk mencapai tujuan yang kita inginkan dan
kegagalan justru akan menjadi pengalaman berharga untuk dijadikan bahan
perbaikan.
Berbeda dengan orang yang “Tidak Mau”,
maka seberapapun kemungkinan dan kemudahan yang didapatkannya, namun itu tidak
akan bisa mendorongnya untuk berbuat maksimal dan yang keluar dari dirinya
adalah alasan demi alasan, mengasihani diri, mengeluh, dan melegitimasi
kegagalan yang diperolehnya. Kegagalan akan menjadi kambing hitam dalam hidupnya.
Hal inilah yang harus kita tanyakan
kepada diri kita masing-masing, sesuai dengan pepatah Melayu : “Nak atau Tak
Nak? Kalau Nak; 1000 daye, Kalau Tak Nak; 1000 daleh.
Akhinya, marilah kita bercermin dengn
kata-kata terakhir yang diucapkan leh Penakluk Agung, dalam sisa-sisa hidupnya,
merupakan wasiat yang disampaikannya kepada turunannya dan siapa pun
yang menjadikan Roma sebagai Tujuannya:
“Tak
lama lagi aku akan menghadap Allh swt. namun, aku sama sekali tidak merasa
menyesal karena aku meninggalkan pengganti sepertimu. Jadilah engkau seorang pemimpin
yang adil, salih dan penyayang. Rentangkan perlindunganmu untuk seluruh
rakyatmu, tanpa kecuali. Bekerjalah engkau untuk menyebarkan Islam karena sesungguhnya itu merupakan
kewajiban agama di muka bumi. Kedepankan kepentingan agama di atas kepentingan
lain apapun. Janganlah engkau lemah dan lengah untuk terus menjalaninya,
janganlah sekali-kali engkau angkat jadi pegawaimu mereka yang tidak peduli
dengan agama, yang tidak menjauhi dosa besar dan yang tenggelam dalam dosa.
Jauhilah olehmu bid’ah yang merusak agama. Jauhilah pula mereka yang menggodamu
untuk memasukinya. Lakukan perluasan setiap jengkal tanah Islam dengan jihad.
Lindungi harta Baitul Mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali
tanganmu mengambil harta rakyatmu kecuali sesuai ketentuan dalam Islam. Pastikan
mereka yang lemah dan fakir mendapatkan kekuatan darimu dan berikanlah
penghormatanmu untuk siapa yang memang berhak.”
“Ketauhilah
sesungguhnya para ulama adalah pewaris
kekuatan di tengah tubuh Negara maka muliakanlah mereka, semangati mereka. bila
ada dari mereka yang tinggal di tempat lain maka hadirkanlah dan hormatilah
mereka, cukupilah keperluan mereka.”
“Berhati-hatilah,
waspadalah jangan sampai engkau tertipu oleh harta benda maupun banyaknya
tentara. Jangan samapi engkau jauhkan ahli syariat dari pintumu. Jangan sampai
engaku sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam
karena sesungguhnya agama itulah tujuan sebab itulah kita dimenangkan.”
“ambillah
dariku pelajaran ini. Aku hadir ke negeri ini bagaikan seekor semut yang kecil,
lalu Allah member nikmat demikian besar ini maka berjalanlah seperti apa yang
aku lakukan. Bekerjalah engkau untuk meninggikan agama Allah ini dan hormatilah
ahlinya. Janganlah engkau hamburkan harta Negara, berfoya-foya dan
menggunakannya melampaui bata-batas yang semestinya. Sungguh itu semua adalah
sebab-sebab terbesar datangnya kehancuran.”
Generasi penakluk. Generasi yang akan
membenamkan semua ide-ide kufur lalu menggantinya dengan ide Islam yang
orisinil. Generasi yang akan meninggikan kalimatullah dan membangkitkan kembali
kehormatan kaum Muslim denganpenerapan syariat Islam dalam bentuk Khilafah
Islam.
Dengan kekuatan khilafah Islam ini
kaum Muslim dakan dipersatukan untuk kali keduanya baik wilayah maupun jumlah
penduduknya, lalu menggenapkan sabda Rasulullah saw tentang takluknya kota
Roma. Insya Allah.
Referensi :
Yanwar, Felix Siauw. 2011. MUHAMMAD
AL-FATIH 1453. Jakarta: Khilafah Press
Thanks to CP3R yang membuatku termotivasi, jangan mau kalah sayang.... perbaikan diri artinya memperbaiki jodoh. :D hehe
Langganan:
Postingan (Atom)