Jumat, 17 Januari 2014

Renungan :')

Masih tersimpan kuat, sebuah nasehat dari seorang sahabat. semoga menjadi nasehat bagi sahabat yang lainnya...

teruntuk saudara/i ku..

ini sebuah catatan, yang saatnya engkau malu pada Tuhanmu. tentang rasa 'cinta' yang tak halal untuk dirasa. tentang angan yang tak pantas untuk dibayangkan. Karena semua itu adalah suatu pengkhianatan, pada Nya dan pada seseorang yang kini sedang menjaga hatinya untukmu. ketahuilah disana ada insan yang setia menundukan pandangannya, yang menghijab hatinya, yang menunggu dan mengisi harinya dengan do'a terbaik untukmu. ia yang tak pernah ingin mengenalmu sebelum halal atasmu, karena dengan itu ia menjagamu. maka tak inginkah kau menghargainya ? ***

IZIn kopas akh, *****


Rabu, 04 Desember 2013

Beyond The Inspiration



Imperium Persia terbentang seluas 7.400.000 km2 di sebelah timur dengan peradaban yang telah dibangun selama 1173 tahun. Sementara di sebelah barat terbentang imperium Romawi seluas 5.000.000 km2 yang telah dibangun selama 650 tahun. Di antara keduanya, muncul satu peradaban yang kelak akan membebaskan kedua imperium dan peradaban tadi.

Pada 651 imperium Persia dibebaskan di tangan kaum Muslim dan menyusul imperium Romawi yang dibebaskan pada 1453. Islam lalu menyatukan kedua imperium dan meluaskan wilayahnya hingga mencapai 20.000.000 km2 dan memberikan kesejahteraan melebihi apa yang pernah diberikan kedua imperium sebelumnya.
Mengapa ada satu masa dimana Islam dapat menjadi inspirasi dan motivasi yang menjadikan pengembannya mulia dan tinggi namun, pada masa yang lain, justru menampakkan ummat dengan karakter yang berbeda?

Pertanyaan “Why”? inilah yang akan mengungkap suatu rahasia yang dipegang oleh Rasulullah saw dan para shahabat serta generasi terbaik Islam.
So, enjoy and keep read it in your sit !!

Aneh tapi nyata, sekaligus fenomenal, dalam satu sisi, suatu ummat yang berada di tengah2 peradaban besar dunia yang dibangun dalam hitungan abad, tiba2 dalam waktu singkat dapat bangkit dan mengungguli negara2 maju, kemudian tampil sebagi pemimpin konstelasi percaturan politik dunia. Bukan Arab, tapi kaum Muslim. Imperium Persia di sebelah timur dengan seluruh kejayaannya pernah menguasai wilayah yang sangat besar di dunia dan ditakuti karena pasukannya yang massif. Imperium Romawi terletak di sebelah barat dengan kekuatan pasukan yang tidak kalah luasnya dan sangat disegani.

Sementara ummat yang terletak diantara Persia dan Romawi, bangkit dalam waktu kurang dari 60 tahun mampu menempatkan diri sebagai pemimpin, bahkan pada akhirnya dapat menaklukkan Persia dan romawi dan kesejahteraan pada wilayahnya melebihi yang pernah diberikan oleh kedua imperium tersebut.

Kenapa pada satu sisi umat yang begitu mulainya dengan Islam, dan pada sisi lain dengan kondisi yang sama justru terpuruk. Dimana Islam pada satu masa dapat memberikan pencerahan dan harapan bagi seluruh umat manusia namun pada saat yang sama Islam di pandang rendah oleh ummat manusia. Padahal semuanya tidak ada yang berubah.

Jelas sudah, ada sesuatu dari Islam yang hilang. Seuatu dengan sengaja dihilangkan oleh orang2 yang tidak senang kepada Islam dengan segala daya dan upaya mereka. Sesuatu yang telah hilang inilah, yang akhirnya menimbulkan ketakutan (fobia) yang luarbiasa kaum Muslim terhadap islam. Sesuatu yang telah hilang ini, telah menjalarkan virus ketidakpercayaan dan ketakutan pengemban dakwah Islam untuk menyuarakan Islam. Sesuatu yang telah hilang ini pun mengakibatkan pemuda2 islam hidup tanpa tujuan yang jelas, mereka menjadi seorang ilmuwan tanpa agama dan menjadi ahli ibadah tanpa ilmu dunia, tertipu oleh paradigma berpikir yang diajukan oleh pemikir2 yang benci kepada islam. Ingin dunia tinggalkan agama dan agama tinggalkan dunia.

Sungguh, upaya dan daya dari orang2 dan kelompok yang tidak senang dengan Islam telah menemui keberhasilan mereka. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim bahwa agama Islam hanyalah ritual, sehingga mereka bisa lega dari ketakutan akan islam kaafah (ritual dan politis). Mereka telah berhasil membuat Al-Qur’an dan As-Sunah bukanlah satu-satunya sumber rujukan kaum Muslim tetapi hanya pilihan sehingga mereka bisa menjual standar, aturan dan nilai yang rendah kepada kaum Muslim.

Mereka telah berhasil membuat kaum muslim merasa takut, ketinggalan zaman ketika mempelajari Islam sehingga mereka dapat selamat dari ketakutan mereka, yaitu bersatunya kaum muslim dengan Islam kaaffah. Mereka berhasil membius kaum Muslim dengan budaya dan keindahan semu dunia sehingga mereka bisa tetap memeras kekayaan kaum Muslim. Mereka pun telah berhasil membuat kaum Muslim terpecah belah dengan oknum-oknum hasil didikan mereka sehingga mereka selamat dari kekuatan kaum muslim yang bersatu. Mereka berhasil membuat persepsi bahwa pengemban Islam adalah menakutkan dan tidak professional sehingga kaum Muslim yang belum mengerti justru berpaling menjauh dari dakwah Islam. (QS 2: 140).


Maybe it is right

That one’s who abandon reality is a dreamday
But who abandon their God because of reality
Is worse than daydreamer

Ifan obedience to Allah swt dan His messenger
Makes me called a fool, than I rather called a fool
Thatn to abandon Allah and his Messenger

After all, I definitely not daydreaming
But I am dreaming a day that definitely came
The day that today reality doesn't matter
because I have allah and Rasulullah promise!

Apa yang kita lihat pada diri orang lain dari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita dan mereka buat di masa lalu. Keadaan hidup kita di masa depan akan ditentukan oleh apa saja yang kita pilih saat ini. Sekarang pun sebenarnya kita sedang menulis kisah hidup kita sendiri di sebuah buku yang mempunyai judul dengan nama kita sendiri, dan saat ini pun kita sedang menuliskannya, setiap hari lembar demi lembar.

Kesungguhan dan keseriusan seseorang dalam mewujudkan keinginan masa depannya dapat dinilai dari pilihan-pilihan yang mereka buat saat ini. Kesungguhan adalah niat yang kuat dan tidak akan putus sebelum keinginannya tercapai. Keseriusan adalah melakukan aksi konkret yang relevan dengan besarnya keinginan. Apabila pilihan-pilihan yang dibuat adalah pilihan yang tidak berkorelasi dan tidak relevan dengan besarnya keinginan maka kita dapat menyimpulkan bahwa orang ini tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya.

Banyak orang yang tidak menyukai keberadaannya yang sekarang, mereka hanya membatasinya sampai pada keluhan, tanpa menyadari bahwa semua yang mereka keluhkan adalah hasil pilihan mereka sendiri. Artinya selama mereka tidak berubah maka keadaan tidak akan berubah..

One Time One Choice

Apabila kita memilih untuk fokus pada satu tujuan maka hambatannya tidak akan terasa, namun  apabila memilih untuk fokus di hambatan  maka tujuannya tidak akan mungkin tercapai..

Seorang yang visioner adalah orang yang mengubah fakta menjadi  agar sesuai dengan tujuannya, sedangkan orang yang pragmatis adalah orang yang mengubah tujuan sesuai dengan keadaan. Jelas kan bedanya? Muslim pun seperti itu, muslim yang visioner selalu diikuti dengan muslim yang pragmatis, yang menyerah dan berkompromi. Kita lihat presiden Palestine Mahmod Abbas yang berkompromi dengan musuh-musuh Islam. Hingga akhirnya ia kehilangan kepercayaan umat dan agamanya.
Orang yang tidak mengetahui tujuannya ada 2:
1.    Yang selalu mengeluh, merasa orang yang paling menderita
2.    Tidak istiqamah. Selalu membelokkan langkahnya mengikuti keadaan saat itu.
Rasulullah adalah orang yang visioner  (Fokus pada satu tujuan), terlihat ketika menjawab lobi yang dilakukan pamannya, Abu Thalib, “Demi Allah, seandainya./…. (HR Ibn Hisyam)

Hidup adalah pilihan, kalo kamu memilih satu maka kamu tidak dapat memilih yang lain.. tidak bisa memilih dua-duanya pada saat yang sama. Tidak ada konsep win-win solution dalam kebenaran dan kewajiban. Take it or leave it, konsep Islam sangat jelas. Haq atau Bathil. Tidak ada pertengahan
(QS. 3:85)

Ada pepatah yang mengatakan, “Jangan takut pada pendekar yang memiliki banyak jurus, tapi takutlah pada pendekar yangmemiliki satu jurus.” Dalam artian. “Orang yang menginginkan semuanya biasanya tidak mendapatkan semuanya”. Keahlian adalah kebiasaan yang dilakukan, sehingga orang yang mempunyai satu keahlian akan diperhitungkan…

With great Choice Comes Great Investment, Consequence & Risk

Mental kita seolah sudah dicuci dengan hal-hal yang berbau instan,. Seakan-akan resiko itu diperoleh tanpa investasi, padahal semakin besar risiko kita semakin besar pula pengorbanan dan investasi yang HARUS dilakukan. Hal yang paling menarik tentang konsekuensi dan risiko pilihan adalah fakta bahwa pilihan memiliki investasi wajib, yaitu  bahwa setiap pilihan mengonsumsi waktu. Dari seluruh sumberdaya yang ada inilah yang paling berharga karena dia tidak dapat dikembalikan dan diperbarui. Hal yang harus diingat adalah bahwa kita harus memilih pilihan-pilihan yang benar. Karena apabila salah memilih akan perlu dua kali lipat untuk memperbaikinya.

Biasa atau Istimewa?

Dalam hidup selalu ada dua pilihan. Orang istimewa pasti mendapatkan lebih banyak daripada yang didapatkan orang biasa. Yang istimewa lebih sedikit orangnya. Menjadi istimewa butuh pengorbanan, memerlukan kesabaran dan keteguhan. Istimewa berarti pusat perhatian, karena itulah istimewa mendapatkan balasan yang lebih. Sebaliknya, Al-Quran dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa kebanyakan manusia adalah fasik, tidak mengetahui dan tidak mengambil pelajaran. Kebanyakan manusia tidak berada dalam jalan kebenaran. Maka jagalah diri kita dari ‘golongan yang banyak’. Dan kebanyakan manusia memilih menjadi biasa karena lebih mudah. Sedikit yang mau menjalani jalan menuju Allah karena penuh dengan ujian.

Apakah anda Termasuk Istimewa?

So, which way will you choose?

Get The Guidance Easier.

“Allah menurunkan Islam untuk manusia yang telah dibekali dengan akal dan dengan akal itulah ada yang Mukmin dan ada yang kafir. Adapula hidayah dan kesesatan.
Keimanan adalah sebuah pilihan sadar dari manusia, pun kekufuran adalah sebuah pilihan sadar yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itulah, mereka akan dimintai pertanggung jawaban tentang imannya atau kufurnya. Surga pun adalah pilihan sebagaimana neraka juga adalah pilihan. Dalam peristiwa itulah, seorang Muslim harus menyibukkan dirinya, yaitu dalam perihal yang bisa mereka pilihan karena hal itu akan mereka pertanggungjawabkan. Kita harus menyadari secara penuh bahwa Allah Swt dan RasulNya tidak pernah meminta manusia untuk menyibukkan diri dengan perkara yang tidak dikuasainya, namun menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang dikuasainya.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian tidak pula kepada rupa kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati2 dan amal2 kalian.” (HR Bukhari Muslim)]
Niat dan amalan adalah sesuatu yang berada dalam kendali dan  pilihan manusia .. dia pun sadar bahwa pertolongan Allah dalam kebangkitan Islam adalah suatu kepastian, dan akan senantiasa berdakwah di jalan Allah dengan semangat dan dengan segenap kemapuan yang maksimal karena dia mengetahui bahwa amalnya yang akan dihisab, bukan hasilnya. Dia akan lebih bersemangat dalam mencari rezekinya di bumi Allah karena dia yakin bahwa rezekinya telah ditetapkan Allah. Selama dia berusaha dan belum sampai ajalnya, dia pasti akan mendapatkan jalan rezeki dari Nya karena memahami bahwa hanya Allah yang menghidupkan dan mematikan. Tidak akan mati suatu nyawa kecuali sudah sampai ajalnya. Dia akan lebih bijak menghadapi hidup ini, pandai bersyukur serta bersabar dalam perihal yang tidak mampu di kendalikan.

HIDAYAH PERLU REAL ACTION

Adalah sesuatu hal yang wajar apabila seseorang merasa ragu dalam menjalani hidayah yang Allah berikan kepada  kita, ada ketakutan2 yang selalu dibisikkan kepada diri kita sehingga kita meragukan petunjuk yang telah diberikan. Cara yang paling mudah untuk mengatasinya adalah segera take action! Ambil tindakan segera! Kemudahan dan taufikNya akan datang pada orang2 yang mengambil langkah nyata untuk menjalani hidayah Allah.

Sekelompok kaum Muslim lebih mengagung-agungkan dan mementingkan hafalan alquran dan cara membaca serta bagusnya pembacaan Alquran saja, lalu berhenti sampai disana. Mereka lupa bahwa ia adalah petunjuk, membacanya adalah sunnah, dan mengamalkannya adalah kewajiban. Namun, yang sekarang banyak difokuskan bukan pada pengamalannya. Maka wajarlah kalau umumnya kaum Muslim tidak pernah mencapai tujuan hidupnya karena petunjuk yang diberikan Allah hanya dijadikan sebagai hafalan dan bacaan tanpa ada pengamalan.

Singkatnya, jangan banyak berfikir dalam berbuat baik, namun pikirkanlah baik2 ketika kita akan berbuat maksiat kepada Allah. Fakta yang ada dalam mayarakat memang membuat kita menggelengkan kepala. Dalam menunaikan kebaikan, masyarakat cenderung berfikir sangat panjang, namun pendek pikirannya ketika berkaitan dengan keburukan.

Allah; Petunjuk dan Kesesatan..

Ada 3 golongan yang tidak akan Allah berikan petunjuk
1.    Kafir à yaitu terdiri dari golongan ahli kitab, dan golongan yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah (QS 98:6)
2.    Fasik à tidak mengindahkan perjanjian, mengingkari kesepakatan, dan menganggap remeh perintah Allah.
3.    Dzalim à mendustakan ayat2 Allah (memalsukan) dan mengingkari kebenaran

Hidayah dalam Alquran

Akal adalah karunia yang hanya diberikan Allah pada manusia, sekaligus menjadi suatu pertanda kelebihan manusia dibandingkan malaikat. Akal memiliki kemampuan untuk menghukumi fakta sesuai dengan cara berfikir tertentu, akal memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Singkatnya, akal adalah syarat wajib yang diperlukan untuk mencapai keimanan.

“Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim)”

Sekali lagi yang menjadi sandaran bagikita seharusnya adalah perintah Rasulullah untuk beramal dan tidak berserah diri pada takdir sehingga tidak mau  memilih untuk beramal dalam hidupnya.    

Kepala yang bersujud ketika letih, tangan yang terangkat ketika penat bersusah dalam ketaatan dan kesabaran dalam dakwah hanyalah dimiliki oleh seseorang yang berkeyakinan : “Sesungguhnya kami berasal hanya dari Allah dan sesungguhnya hanya kepadaNya kami akan kembali”

Makna Syahadah

Dalam Islam bisa kita artikan sebagai pengakuan, kesaksian, kesepakatan akad janji, 
pengakuan, atau komitmen. Hal itu mengharuskan adaya sesuatu yang disaksikan dan disadari oleh seorang Muslm sehingga dia menjadi paham dan yakin bahwa sesungguhnya tidak ada yang perlu disembah, ditakuti dan dimintai pertolongan kecuali Allah. Syahadat seharusnya muncul dari pergolakan pemikiran bukan taklid karena seseorang yang taqlid, tidak akan menyadari bukti sehingga kesaksiannya menjadi kosong. Saya mengibaratkan kesaksian itu seperti pengakuan seorang atlet tinju kepada lawannya ketika dia sudah bertarung, lalu kalah maka dia akan menyadari bahwa dirinya lemah dibandingkan lawannya dan akan mengatakn “Saya akui dia memang hebat”. Namun, bila  lawannya belum kalah maka pengakuan itu akan tidak bermakna. 

Sama seperti kita, manusia yang memang telah bertarung dan membuktikan keMahaan Allah akan mengakui kehebatan Allah dan pada saat yang sama akan menyadari kelemahan-kelemahan dan semua keterbatasan dirinya di hadapan Allah. Pengakuan inilah yang disebut syahadat.

Sebagaimana dalam dunia pemrograman komputer, kita mengenal angka 1 dan 0 sebgai basis penyusunan seluruh bahasa kommputerisasi. Komposisi semua program dibangun atas angka 1 tidak ada di tengah-tengahnya. Angka 1-0 inilah yang dalam keimanan seorang muslim hanya ada 1 atau 0. Angka 1-0 inilah syahadat sempurna yang menghasilkan ruh sebagai kesadaran. 0 adalah lambaang keterbatasan, kepasrahan, ketundukan, ketidaktahuan, kealpaan, kelemahan, dan ketidakpunyaan dan itulah lambang manusia ketika dia melihat jauh ke dalam dirinya. Sedangkan angka 1 adalah lambang kesempurnaan, kekuatan, keperkasaan, kebaikan dan keseluruhan. Seseorang dikatakan sempurna syahadatnya apabila dia berhasil men-1 kan Allah secara totalitas dalam hidupnya dan men-0 kan diri sendiri.

1 adalah Allah, kesombongan adalah pakaianNya. Kekayaan dan seluruh benda yang ada di langit maupun dibumi adalah kepunyaanNya. Kasih sayang dan cinta yang ada di dunia adalah milikNya dan Dialah yang menurunkannya untuk manusia.
0 adalah manusia, makhluk yang sangat terbatas, makhluk yang sangat hina dan tidak memiliki apapun selain yang dipinjamkan kepadanya. Manusia merasa memiliki sesuatu padahal dia sama sekali tidak memilikinya. Manusia seringkali merasa dia akan hidup selamanya padahal setiap detik, kematian akan semakin dekat kepadanya. Manusia kadang merasa sombong padahal dia tidak memiliki apapun untuk disombongkan. Manusia bisa merasa dirinya patut dimuliakan padahal dia adalah setetes mani yang dikeluarkan dari kemaluan. Manusia boleh merasa bahwa dirinya dan hanya dirinya yang menyebabkan dia mencapai suatu hasil dan merasa hebat, padahal Allah mampu menariknya  kapan saja Dia mau dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa Alllah yang menutupi seluruh aibnya. Sekali lagi, bila kita benar-benar berpikir tentang manusia itu sendiri maka kita pasti menyadari bahwa manusia terbatas dan lemah.
Inilah sunnatullah, bahwa manusia 0 dan Allah 1. Namun yang seringkali terjadi adalah manusia tidak menjadi 0 dan konsekuensinya Allah tidak menjadi 1. Ketika manusia mengambil sifat2 Allah maka dalam perspektif syahadat sempurna nilai 1 pada Allah akan berkurang, dan dirinya tidak akan merasa 0 sehingga orang tersebut tidak akan pernah mendapatkan syahadat yang sempurna. Dalam prakteknya, seseorang tidak merasa 0 pasti merasa dirinya bia menyaingi Allah atau bahkan lebih hebat daripada Allah.

Seringkali keimanan seseorang menjadi tidak sempurna ketika tanpa sadar, dia mengambil sesembahan selain Allah dan menjadikan sesembahan itu sebagai tandingan Allah. Ketika seseorang merasa bahwa kekayaan dapat melindunginya dan dapat membantunya maka dia akan menjadi sangat bakhil dan kikir dengan kekayaannya, dia merasa bisa menyelesaikan segala Sesuatu dengan uang dan akhirnya dia akan menjauh dari Allah, tidak bergantung kepada Allah melainkan kepada hartanya. Saat seseorang merasa pintar dan ahli, lantas dia merasa akalnya dapat menentukan yang mana yang benar dan mana yang salah maka dia menentukan sendiri hokum baginya dan bagi orang lain, dan pada saat yang sama, dia tidak akan pernah merujuk kepada Allah dalam segala perbuatan hidupnya. Pada saat seseorang merasa bahwa pasangan hidup dan anaknya penting dan menyayangi keduanya lebih daripada dia menyayangi Allah, pada saat yang sama pula, dia mengambil hak Allah. Apabila seseorang merasa kematian bukan datang karena ajal dari Alllah maka dia sangat menyayangi kehidupan dunia dan akhirnya dia menjauh dari perintah2 Allah untuk berjuang di jalan Islam yang dianggapnya penuh resiko. Ketika seorang wanita merasa kecantikannya bisa menjadi ‘modal’ hidupnya maka dia merasa kecantikannya adalah sesuatu yang harus dikagumi banyak orang dia akan mengumbar auratnya, dia merasa ridha Allah tidak cukup baginya sehingga dia harus mencari ridha manusia.

Padahal, berapa banyak kita melihat orang2 yang menggantukan dirinya kepada selain Allah yang hancur, baik dari masa kita ataupun belajar dari kelakuan manusia yang tidak me-nol-kan dirinya pada masa lalu. Pada saat gempa bumi terjadi, manusia baru menyadari bahwa bangunan yang mereka kira sebagai tempat yang mampu melindungi mereka, justru menjadi ancaman terbesar bagi mereka. Pada saat tsunami terjadi, masyarakat baru menyadari bahwa keindahan pantai dan laut seta seluruh ikan-ikan yang mereka jadikan sumber nafkah, ternyata menjadi mimpi buruk bagi mereka. Pada saat anak mereka membentak dan berbuat buruk atau terkena jerat narkoba maka manusia baru menyadari bawha uang yang selama ini mereka kira sebagai penyelamat justru telah membuat anak kesayangan mereka menjadi musuh yang menakutkan. Pada saat kematian mendatangi manusia, kita bisa melihat bahwa harta benda menjadi sumber perselisihan yang luar biasa. Pada saat usia lanjut telah tiba, manusia akan menyadari bahwa tulang dan daging yang selama ini mereka bangggakan dan mereka gunakan untuk membuatnya hidupnya lebih bahagia, ternyata kini menjadi beban dalam hidupnya. Berbagai penyakit bermunculan merepotkan dirinya.
(QS 19:81-82)

Syahadat effek

Muslim yang mengucapkan syahadatain sangat bervariasi dalam menjalankan amanahnya. Efek syahadat dalam kehidupan mereka bermacam2. Ada yang telah mengucapkan syahadatain, lalu dia tetap bermaksiat dan tidak kaaffah di dalam keislamannya. Namun, ada pula yang telah mengucapkan syahadatain lalu dia semangat dan kaaffah dalah keislamannya. Seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat seharusnya memiliki kesadaran dengan kalimat syahadat itu, dia terhubungkan dengan Allah sebgai Tuhannya, yang melihat dan mengawasi setiap perbuatannya. Inilah yang disebut dengan ruh yang merupakan sebuah kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah, yang selalu melihat dan mengawasinya. Apabila setelah bersyahadat, ruh ini tidak terbentuk pada diri seorang Muslim maka dipastikan kemaksiatan dan kemalasan untuk taat kepada Allah akan menjadi pilihan hidupnya.

Untuk mendapatkan ruh dalam syahadat kita dan menjadikan syahadat kita sempurna, marilah kita ambil pelajaran dari Umar RA, seorang yang sangat berbeda sifatnya sebelum dan setelah mengucapkan syahadatain. Sebelum bersyahadat, umar adalah seseroang yang sangat memusuhi Islam, bahkan ingin membunuh Rasulullah. Keislaman Umar sangat luar biasa, kadia sedang mendobrak rumah adiknya, Fathimah Binti Khatab yang sedang belajar membaca alQuran, Umar membukan al Quran lalu membaca surah Thaha ayat 1-14. Jiwanya semakin terguncang sekaligus terpeseona akan keindahan ayat-ayatNya saat membaca ayat 14.

Membaca 14 ayat itu, Umar RA lalu ‘membaca’, berpikir dan mendalami isi ayat2 terebut. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, beliau sangat memahami bahwa apa yang barusan dibacanya tidak mungin berasal dari manusia, melainkan dari Tuhan pencipta semesta alam. Oleh Karena itu, Umar pun segera berucap “Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad?”

Setelah dipertemukan dengan Rasuullullah saw Umar pun masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. Setelah itu, beliau berubah mejandi pembela islam, pembela Rasulullah dan pembela Allah. Sangat kontradiktif sekali dan berbdeda,
Inilah yang dicontohkan sebagai syahadat yang sempurna. Dalam kisah yang sangat masyhur tentang Nabi Ibrahim ketika dalam perjalannya menemukan syahadat yang sempurna, kita juga dapat menarik pelajaran yang sama tentang fungsi akan pikiran dalam syahadat. Sebelum menemukan Allah, Nabi Ibrahim adalah seorang anak muda yang hidup di tengah kebatilan masyarakat yang sangat terbiasa menyembah keapda patung berhala. Namun, karena kecerdasan berpikirnya, nabi Ibrahim menemukan Tuhan yang benar-benar layak untuk disembah.

Terbatasnya aturan manusia

Demokrasi adalah contoh sistem yang seringkali ditawarkan bagi manusia modern untuk menentukan aturan bagi manusia, dna mengatur kehidupan dengan sistem ini.
Sama halnya seperti aturan buatan manusia yang lain, demokrasi juga menampakkan keterbatasan bahkan justru kerusakan dalam masyarakat. Alih-alih menyuarakan suara rakyat dengan mewakilkan sejumlah orang teetentu untuk duduk di kursi wakil rakyat dan menyampaikan suara rakyat utnuk diterapkan pemerintah, demokrasi malah sering menjadi alat legitimasi bagi wakil rakyat untuk memaksakan kehendak mereka kepada rakyat. Alasan suara terbanyak telah melegalisasi setiap hukum yang bahkan tidak pernah masyarakat setuju dan sepakati. Mampu menentukan standar baik-buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain: sistem demokrasi!

Setidaknya hukum yang dibuat manusia selalu menghasilkan kerusakan yang dapat kita lihat pada dua perkara:
1.    Kehancuran kehidupan. Dalam segala bidang, dalam bidang politik, lahir tatanan politik imperial, eksploitasi bangsa dan perbudakan atas umat manusia
2.    Kerusakan alam. Tatanan kehidupan manusia itu juga menyebabkan kerusakan alam. Hutan dibabat semena-mena dan HPH hanya diperuntukkan oleh segelintir orang atau kelompok untuk mengeksploitasi, sedangkan masyarakat yang ingin memanfaatkan akan ditangkap. Gunung berubah menjadi danau akibat penambangan yang tidak bertanggung jwab. Pulau2 kecil tenggelam karena pasirnya disedot untuk reklamasi atau dijual ke negeri lain. Lautan porak-poranda akibat bom untuk menangkap ikan, airnya dicemari oleh berbagai limbah pabrik yang tidak diolah. Gunung digunduli diambil kayunya, banjir pun meluluhlantakkan berbagai desa dan kota.

Semua itu adalah pengelolaan alam ala sistem kapitalisme buatan manusia yang menyalahi fitrah manusia itu sendiri.
Sistem ekomoni ala kapitalisme:
Sukses membuat dunia terpisah menjadi 2 kutub dimana satu kutub bertahan hidup melawan obesitas dan kutub lainnya bertahan melawan mal nutrisi sistem inilah yang bertanggung jwab kepada kehancuran dunia
Kita perlu memahami bahwa peran aturan Allah secara mutlak ini hanya dimungkinkan dalam sitem yang mengakomodasi peraturan Allah (syariah), yakni tidak lain adalah sistem Islam itu sendiri. Dalam pandangan islam, Rasul tidak hanya menjadi pemimpin spiritual dan memberikan contoh  dalam masalah ritual saja. Melainkan juga pemimpin duniawi dan mengatur urusan-urusan politis. Karena alasan inilah, Michael Hart memposisikan Muhammad saw sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh sepanjang masa. Sistem kepemimpinan satu untuk seluruh manusia ini dikenal sejarah dengan nama khalifah. Apada kepemimpinan inilah Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Umar Bin Abdul Aziz, Sulaiman Al-Qanuqi memimpin. Maka wajarlah Abu Alhamid AlGhazali melukiskan pentingnya syariah Islam dan kepemimpinan yang menjaganya agar diterapkan dalam suatu kalimat yang beliau tuliskan dalam buku beliau:
“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agamamu kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama bagaikan saudara kembar; agama merupakan pondasi dan penguasanya adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.

Diskusi yang menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah, para sahabat adalah kaum yang sangat paham dengan berbagai peristiwa politik yang terjadi di dunia dan sudah biasa melakukan analisa politik akan keberadaan negara2 di dunia. Para sahabat pun adalah kaum yang sangat visioner. Hal ini ditunjukkan dengan cara bertanya mereka pada rasul, “manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Kejelian merka dalam memilih pertanyaan “yang mana yang lebih dulu” bukan “mungkinkah bisa” mmberitahu kita bahwa bagi para sahabat, penaklukkan Romawi Barat yang dilambangkan dengan Roma dan Romawi Timur yang dilambangkan dengan Konstantinopel adalah suatu kepastian karena Allah telah menjanjikan.
Dalam hal ini pula, Rasulullah adalah seorang yang sangat piawai dalam kepemimpinan, dengan membiasakan para sahabat berpikir besar dan global dan tidak meremehkan hal-hal kecil. Rasulullah menjawab “Kota Heraklius terlebih dahulu”. Jawaban Rasul ini menunjukkan keberanian dan visi yang diemban oleh seorang utusan Allah. Rasul tidak mengatakan bahwa menaklukkan Konstantinopel afalah angan2 atau sesuatu yang masih jauh kejadiannya. Namun Rasul malah membakar visi para sahabat dengan kabar gembiranya.

Akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan serta apapun yang ada sebelumnya dan sesudahnya. Diyakini dan diterima 100% dengan akal dan hati dan berdasarkan argumen yang kuat.

Syahadat adalah pintu antara muslim dan kafir syahadat seharusnya menghasilkan perubahan bagi pelakunya. Bila manusia tidak mengetahui keterbatasan dan kelemahan dirinya maka syahadat ini akan menjadi syahadat palsu semakin pintar seorang mukmin maka ia akan menyadari bahwa dia sangat lemah dan Allah-lah yang maha kuat.

Janji Allah bagaikan peneduh ditengah teriknya ujian dan tantangan dakwah Bisyarah Rasulullah saw bagaikan mataair di tengah kekeringan harapan akan makian manusia. Keyakinan akan janji Allah dan RasulNya adalah inspirasi terbesar bagi setiap insan yang merindukan kebangkitan Islam karena bagi mereka, hanya Allah dan RasulNya yang benar dan selain itu hanyalah fatamorgana kehidupan”.

Jadikanlah engkau di dunia ini seperti seorang asing atau bahkan seperti sekadar orang yang lewat.  (HR Bukhari)

“Jika hidup ini singkat dan melenakan. Jika allah menjanjikan surga beserta kenikmatannya. Jika akhirat betul-betul lebih daripada dunia. Jika ibadah yang akan kita lakukan adalah yang terakhir kalinya maka seperti apa kita akan mejalaninya?...

Referensi :

Yanuwar, Felix Siauw. 2010. Beyond The Inspiration. Jakarta : Khilafah Press

Minggu, 24 November 2013

AL-FATIH THE NEXT MEHMED II LEGACY

Sesungguhnya di balik ucapan Halil Pasha, kata-katanya terdapat keinginan untuk memadamkan api semangat yang ada di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun, dia tak akan pernah mendapatkan apapun kecuali keputusasaan dan kerugian. Sesungguhnya Alexander the Great yang berangkat dari Yunani dan berjalan hingga ke India serta menaklukan separuh Asia yang begitu besar dan luas itu, tidak lebih besar jumlah pasukannya ketimbang pasukan kita. Maka jika pasukannya itu mampu menguasai bumi yang luas, apakah pasukan kita tidak mampu melangkahi seonggok tanah di balik batu-batu yang bertumpuk (tembok konstantinopel) ini ??? Halil Pasha telah berkata kepada kita bahwa Negara-negara Barat akan dating pada kita untuk membalas dendam. Lalu, siapa yang dia maksudkan dengan Negara-negara Barat itu? apakah yang dia maksud Negara-negara (berbahasa) latin yang kini sedang dilanda permusuhan internal atau Negara-negara di Laut Mediterania yang tidak mampu melakukan apapun kecuali merampok dan mencuri? Andaikata Negara-negara itu ingin memberikan bantuan kepada Byzantium, pastilah mereka telah mengirimkan pasukan dan kapal-kapal perangnya. Andaikata orang-orang Barat itu beranjak untuk berperang dan memerangi kita maka apakah kita akan berpangku tangan dan tidak melakukan apapun? Bukankah kita memiliki tentara untuk mempertahankan kehormatan kita?

AL-FATIH THE NEXT
MEHMED II LEGACY
“Taklukan negeri mana saja yang kalian inginkan karena demi Dzat yang Abu Hurairah berada di tangan-Nya, tidaklah kalian menaklukan salah satu kota hingga hari kiamat melainkan Allah telah memberikan kunci-kuncinya kepada Muhammad saw sebelum itu.” (Abu Hurairah RA)

See Beyond The Eyes Can See

            Ketika ada yang bertanya, sikap mental apakah yang paling mnonjol pada seorang Mehmed Al-Fatih, dan menjawab “see beyond the eyes can see”, Melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata. Lebih jauh lagi, bahkan saya katakan ini adalah sikap mental yang terkait dengan inti ajaran islam, aqidah islam. Sebagian besar perkara keimanan dalan islam tidak dapat dilihat oleh mata dalam meyakininya menuntut seseorang untuk bisa melihat lebih dari mata. Eksistensi Allah, Malaikat, Hari Kiamat, Surga, dan Neraka dan perkara-perkara lain yang tak kasat mata.

            Allah Swt juga telah menjadikan ‘sesuatu yang tak terllihat oleh mata’ sebagai balasan yang baik bagi orang yang beriman dan ganjaran bagi yang mendustainya. Dalam Islam, janji dan prediksi serta kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya disebut Bisyarah. Bagi kaum Muslim, bisyarah adalah sumber energi tak terbatas, yang dapat mengatasi segala rintangan dan memungkinkan segala kemustahilan. Bisyarah juga membuat seorang Muslim rela mengorbankan apa yang ada di depan matanya untuk mengejar janji Allah dan Rasul-Nya yang jauh lebih baik walaupun tidak dapat dipandang oleh mata.

            Kita juga mengetahui bahwa seseorang akan jauh lebih semangat dan lebih tekun dalam menjalani sesuatu apabila dia mengetahui tujuan yang akan dicapainya. Semakin jelas tujuan itu, maka semakin besar energi yang muncul di dalam dirinya untuk menjalaninya. Pada faktanya, melihat jauh ke depan atau berfikir selangkah di depan adalah syarat wajib yang ada pada setiap pemimpin besar di dunia, orang zaman kini menyebutnya sebagai visi.

            Sejak awal pembentukannya, Rasulullah saw mendidik para sahabat agar tidak membatasi pandangan mereka pada realitas zaman. Rasulullah membentuk metal para sahabat agar tidak hanya percaya pada realitas di depan mata, tetapi lebih kepda hasil akhir yang ingin dicapai. Kita harus mengingat bahwa pada masa Rasul dan para sahabat, mempertahankan agama bukanlah hal yang mudah, di depan mata para sahabat terdapat keterbatasam halangan dan problematika kehidupan menjulang tinggi dan datang bergelombang tak henti-hentinya. Keterbatasan itu terlihat dalam jumlah kaum Muslim yang sedikit dibandingkan penentangnya, sumberdaya yang dikuasainya dan juga tampak dari propaganda, intimidasi bahkan penganiaan yang dilakkan oleh orang-orang kafir. Pada saat seperti itu, visi yang diberikan oleh Allah dan Rasulullah pada para sahabat ibarat minyak yang selalu akan menyalakan api harapan dalam dada mereka. Visi ini begitu jelas ditanamkan oleh Rasulullah saw sehingga apapun yang terjadi di depan mata mereka hanya menjadi sebuah fatamorgana kehidupan yang tidak dapat menandingi visi hidup yang diberikan islam, yaitu membebaskan dunia.
            “Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan barantya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku.” (HR. muslim)

            Seorang pemimpin, apalagi penakluk, wajib memiliki sikap seperti ini. Seseorang yang selalu melihat kekinian dan fakta di depan matanya tidak pantas, bahkan tidak layak menjadi pemimpin karena itulah seorang pemimpin dinilai dari seberapa yakin dia bisa mewujudkan apa yang dilihat dengan akalnya, bukan hanya dengan matanya. Pandangannya kepada masa depan dan keyakinan mencapainya adalah sesuatu yang membuatnya memiliki ketahanan yang lebih daripada yang biasanya, pemikiran yang lebih daripada yang biasanya, perbuatan yang lebih daripada yang biasanya dan seringkali prestasi yang lebih daripada yang biasanya.

            Dapat kita bayangkan, 54 hari pengepungan yang dilakukan oleh Sultan Mehmed dan lebih dari 30.000 pasukannya gugur di medan perang pada 1453. Sebuah kesulitan yang tidak terbayangkan, mengatur 250.000 pasukan, sementara di depan mata menghadapi tembok yang tidak tertembus selama 11 abad. Bila saja Sultan Mehmed melihat dengan matanya, sungguh Konstantinopel tidak akan bisa ditaklukkan.

            Namun, kenyataannya tidak seperti itu, keyakinannya bahwa Konstantinopel pasti akan ditaklukkan telah dibangunnya semenjak kanak-kanak, baginya ucapan Rasulullah saw adalah satu-satunya kebenaran. Seandainya seluruh dunia berkata, bahwa Konstantinopel tidak akan bisa ditaklukkan, selama Muhammad saw berkata “bisa” maka bagi Mehmed itu sudah cukup. Bagi Sultan Mehmed, Konstantinopel secara hakiki telah takluk ketika hadist itu keluar dari lisan Rasulullah yang mulia karena Rasulullah tidak pernah salah.

            Keyakinan yang benar-benar kuat dan teguh akan takluknya Konstantinopel adalah energi terbesar begi Mehmed, sekaligus menjadi keutamaan paling besar dalam sikap mentalnya. Keyakinannya sanggup mentranformasikan menjadi kekuatan untuk memindahkan 72 kapal dayung dari Selat Borphorus ke Teluk Tanduk, yang tidak akan terjadi apabila Sultan Mehmed hanya melihat pada fakta. Keyakinan yang sama telah membuatnya bekerja keras, memutar otak dan mencari akal dan cara baru untuk melancarkan serangan kepada Konstantinopel karena di dalam kepalanya, Konstantinopel pasti akan takluk, hanya memerlukan cara-cara yang lebih bagus agar itu terwujud menjadi kenyataan.

            Berbeda dengan orang-orang yang tidak bisa melihat lebih daripada yang biasa dilihat oleh mata, mereka akan selalu beralasan, mengeluh dengan hambatan dan rintangan yang menghadang mereka dan menjadikannya sebagai alasan untuk tidak melakukan apapun dalam hidupnya. Mereka kalah sebelum berperang dan orang yang tidak memiliki keyakinan maka peluang untuk berhasilnya menjadi nol. Mereka hanya sanggup melihat apa yang di depan mata dan tertipu karenanya, namun mereka tidak bisa melihat apapun di balik itu.

            Begitulah orang-orang yang tertipu dengan dunia, pada hakikatnya mereka juga orang-orang yang tidak mampu melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata”. Tatkala permasalahan harta benda, mereka berebut dan berlomba-lomba, seakan-akan petir dan gempa tidak dapat menghalangi mereka. Mereka sangat fasih berbicara tentang uang, membanggakan apapun yang mereka miliki dengan semangat berkobar-kobar namun ketika tiba persoalan agama, tiba-tiba mereka jadi yang paling bodoh, miskin dan lemah. Allah mengkritik mereka dalam Al-Qur’an
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum [30]:7)

            Visi yang diberikan Rasulullah juga melatih para sahabat untuk berfikir besar, sebagaimana yang juga terlihat pada Sultan Mehmed II. Kebiasaan berfikir besar pada gilirannya menghasilkan prestasi yang besar pula sebagaimana kaum Muslim yang telah kita ketahui.

            Jadi Muslim adalah seseorang yang yakin akan ‘keberadaan’ yang lebih dari dirinya dan layak disembah. Oleh karenanya, mereka berserah dan tunduk total kepada-Nya dan apapun yang Dia tentukan. Kemampuan untuk mengetahui dan meyakini sesutatu sebelum semuanya terjadi, inilah dasar keimanan Muslim. To see beyond the eyes can see.

Mereka melihat realitas lebih daripada yang dapat dilihat oleh mata, hal itu ibarat motor yang terus memberikan energi tak terbatas. Mereka beribadah kepada Allah seolah-olah mereka melihat Allah karena itu ibadah yang mereka lakukan adalah ibadah yang maksimal bukan minimal. Mereka tekun dalam shalatnya karena mereka yankin dengan kematian dan pertemuannya dengan Allah. Mereka bisa melaksanakan puasa karena telah terbayang dengan jelas kenikmatan memandang wajah Allah di hari pertemuan dengan-Nya. Dalam berusaha, mereka juga lebih bersemangat daripada yang lain karena mereka meyakini bahwa Allah telah menentukan kadar rizqi buat masing-masing hamba-Nya. Perjuangan membangkitkan Islam menjadi manis karena bagi kaum Muslim itu laksana kenikmatan yang tertunda. Mereka berjihad seolah surga sudah di depan mata sehingga syahid dalam jihad adalah sesuatu yang dirindukan. Mereka berperang dengan gagah seolah kemenangan sudah dalam genggaman mereka.

            Percaya pada realitas di depan mata ataukah visi yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, semua itu adalah pilihan kita. Apapun pilihan kita, takdir Allah sudah digariskan dan kenyataan nantinya tidak akan pernah berubah, sebagaimana yang telah Rasulullah tegaskan dalam salah satu surat seruan dakwah Islam yang dikirim kepada al-Mundzir bin Sawa, penguasa Bahrain.
Bismillahirrahmanirrahiim, dari Muhammad Rasulullah Saw kepada al-Mundzir bin Sawa, keselamatan untuk siapa saja yang mengikuti hidayah (Islam). Ammaba’du, aku menyeru engkau memeluk Islam. Maka masuk Islamlah, engkau akan selamat. Masuk Islamlah maka Allah akan menjadikan apa yang berada dalam genggaman kedua tanganmu tetap menjadi milikmu. Ketauhilah, bahwa agamaku ini akn menuai kemenangan hingga unta dan kuda terakhir!
             
Al-A’la bis al-Hadhrami, utusan yang membawa surat ini mengingatkan kepada al-Mundzir bin Sawa, “Wahai Mundzir, engkau adalah orang yang mempunyai intelektualitas yang luar biasa di dunia ini maka janganlah sekali-kali engkau mengecilkan akhirat”, seraya berpesan kepadanya untuk senantiasa berpikir dan menggunakan akal dalam merespons surat Rasulullah saw. Setelah membaca isi surat ini maka Al-Mundzir bin Sawa berkata:
“Aku memang telah mempertimbangkan urusan yang ada dalam genggamanku ini; aku memang menemukannya semata-mata untuk kepentingan dunia,bukan akhirat. Kemudian aku memerhatikan agama kalian dan aku pun menemukannya untuk kepentingan akhirat juga dunia sekaligus. Lalu, apa yang menghalangiku utnuk menerima agama yang mengajarkan kedamaian hidup dan ketenangan mati? Kemarin, aku merasa heran dengan orang yang menerimanya, dan kini aku merasa heran dengan orang yang menolaknya.”
         
   Mahabenar Allah ketika menyampaikan kepada kita bahwa orang-orang kafir dan munafiq senantiasa pintar dalam urusan dunia yang terlihat, tapi lalai dalam urusan akhirat. Sama seperti visi Rasulullah yang memang sepertinya sangat tergantung dari taraf berfikir seseorang. Memang akhirnya semua kembali kepada tingkatan berpikir yang pada gilirannya akan melahirkan keimanan. Begitu pula kisah Islamnya Adi bin Hatim yang memperlihatkan tingkatan berpikirnya ketika berdialog dengan Nabi Muhammad saw.
“Wahai Adi, bukankah engkau penganut Rukus?” Adi bin Hatim menjawab “Benar!”. Beliau bertanya: “Bukankah engkau mengambil langkah dengan menetapkan bagian ¼ ghanimah (untukmu) di antara kaummu?”. Adi menjawab “Benar!”. Beliau bertanya lagi “Sebenarnya menurut agamamu hal itu tidak dihalalkan bagimu”. Berkata Adi “Demi Allah, memang benar!”. Kemudian, beliau berkata : “Wahai Adi barangkali ada sesuatu yang menghalangimu memeluk agama ini karena engkau memandang mereka itu miskin? Demi Allah, kelak harta kekayaan dan akan diguyurkan dengan melimpah di tengah-tengah mereka hingga tidak ada satupun yang akan mengambilnya. Barangkali sesuatu yang menghaalangimu measik islam adalah karena engkau  memandang musuh mereka banyak, sementara jumlah mereka hanya sedikit? Demi Allah, kelak engkau pasti mendengar ada seorang wanita klaur dariQadisiyah dengan menunggang untanya, wanita itu pasti akan mengunjungi Baitullah ini tanpa rasa takut! Barangkali yang menghalangimu masuk islam karena engkau memandang kerajaan dan kekuasaan itu dipegang oleh selain mereka? demi Allah, kelak engkau kan melihat Istana Putih (Istana Kisra) dari Bumi Bail (Persia) akan ditaklukkan untuk mereka.” lalu Adi Bin Hatim pun masuk Islam.

            Adi Bin Hatim sebelum meninggal pada 688 akhirnya menyaksikan dua hal yang dijanjikan Rasul dengan matanya, takluknya Istana Putih Persia dan juga seorang wanita yang keluar dari Qadsiyah menuju ke Baitullah untuk menunaikan haji tanpa ada gangguan dan ia yakin, kelak satu hal yang lain yang akan segera terwujud. Bagi kaum muslim yang menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, perkara janji dan bisyarah Allah serta Rasulullah serta semua visi yang disampaikan kepada ummatNya adalah perkara yang tidak perlu didiskusikan lagi kepastiannnya. Bahasa Imannnya adalkah qadarullah --ketentuan Allah-- atau takdir Allah. Persis seperti yang disyaratkan kepada kita dalam ayat (QS Al-Fath :21)

(al-ahzab : 10-12 ayat ini menceritakan tentang bagaimana kaum Muslim itu diuji dengan kengerian dan ketakutan setelah itu ddatanglah kemenangan. Demikian lah Allah menguji hambaNya dengan cara yang Dia ketahui. Agat disitu terlihat siapa yang benar-benar meyakini janjiNya dan siapa yang mendustai bahkan mengadakan prasangka-prasangka buruk kepada Allah. Prasangka buruk tersebut adalah : “terbesit pada mereka bahwa Allah mengingkari janjiNya.
“The sacred promise os not a matter of choice, but it is a fate”

Source of All Victory

Kalau seandainya ada pemimpin Muslim yang tidak pernah masbuq dalam shalatnya, dialah Sultan Muhammad Al-Fatih. (Syaikh Samsuddin)

            Di  antara rahasia kemenangan Sultan Mehmed dalam upayanya mewujudkan bisyarah islam dan Nubuwwah Rasulullah saw, tentang penaklukkan kota Konstantinopel adalah keualitas amal shaleh Sultan Mehmed dalam mendirikan shalat. Dalam catatan sejarah, nama Sultan Mehmed tercatat dengan tinta emas mengabadikan dirinya sebagai pemimpin yang teguh mendirikan shalat. Tidak hanya shalat fardhu yang lima waktu, namun juga shalat sunah, seperti shalat rawatib dan shalat tahajjud. Dia begitu meyakini bahwa kemenangan pasukan Islam bukan hanya karena jumlah yang banyak, teknologi persenjataan yang hebat atau strategi militer yang brilian. Namun, sultan Mehmed meyakini sepenuhnya bahwa setiap kemenangan pasukan yang dipimpinnya merupakan pertolongan nyata dari Allah swt.

Keyakinan Sultan Mehmed ini terungkap secara nyata di hadapan pasukannya, saat dia mengumpulkan mereka pada 27 Mei 1453. Sultan Mehmed melihat kemenangan atas Konstantinopel sudah semakin dekat, dia berkhutbah di hadapan pasukannya, mengingatkan mereka akan tujuan penaklukkan atas Konstantinopel.
“Jika penaklukkan kota Konstaninopel sukses maka sabda Rasulullah saw telah terbukti. Kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits nii, berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada para pasuka satu persatu bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Unutk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu di depan matanya dan jangan sampai ada di antara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut pertempuran.”

Khutbah Sultan Mehmed ini adalah penegasan kepada pasukannya bahwa kemenangan tidak akan bisa dicapai dengan mengadalkan kekuatan belaka, bukan pula karena kecerdasan dan strategi perang, dia sangat memahami bahwa kemenangan hanya akan tercapai dengan izin dan pertolongan dari Allah. Bahkan, dia meminta kepada seluruh pasukannya untuk bermunajat kepada Alllah swt, menjauhkan diri dari maksiat, bertahajjud dan berpuasa pada esok harinya.

Demikian pula dengan dirinya sebagai pemimpin seluruh pasukan, Sultan Mehmed menjadi orang pertama yang memberi contoh kepada pasukannya. Dia mengerjakan apa yang telah diperintahkannya. Bahkan, tinta para sejarawan menuliskan bahwa untuk menjaga kedekatannya atas keinginan yang sangat kuat untuk menaklukkan Konstantinopel, sejak usia baligh, Mehmed remaja tidak pernah melalaikan shalat. Dia tidak hanya salat tepat waktu, namun dia juga mengerjakan secara berjamaan. Dan tidak pernah masbuq. Kalau rawatib saja saja tidak pernah lalai apalagi wajib, tentu Mehmed lebih mengutamakannya.

Selain itu, sejak remaja, Mehmed tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud barang semalam pun. Bahkan, pada saat dia bangun dari segitiga malam terakhirnya untuk bersimpuh sujud di hadapan Allah ada dan Mehmed ingin mengikuti tabiat Rasul yang menegakkan shalat malam sepanjang malam dalam hidupnya. Shalat tahajjud Rasulullah saw merupakan kewajiban yang tak bisa beliau tinggalkan, sebagai takhsis baginnya. Sultan Mehmed adalah ahli qiyamul lail yang selalu kontak dengan energi terbesar dalam alam semesta, Allah swt.

Bahkan Mehmed punya kebiasaan yang cukup unik, dia selalu berkelilng setiap malam, memeriksa kondisi teman dan rakyatnya. Dia bersengaja berkeliling untuk memastikan apakah rakyat dan teman-temannya terbangun untuk menunaikan shalat malam, atau tidak !

Kesalehan pribadi Sultan Mehmed terbukti ketika suatu hari, muncul pada saat pasukan Islam hendak melaksanakan shalat jumat yang kali pertama di Konstantinopel. “Siapakah yang layak menjadi imam salat jumat”

Namun, tidak seoarng pun yang berani menawarkan dirinya. Melihat hal itu Sultan Mehmed segera bangun dari kursi dan sama2 berdiri kemudian, dia bertanya: “Siapakah di antara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu? Duduklah:

Subhanallah! Mahasuci Allah! tidak ada seorangpun di antara pasukan Islam yang duduk. Semuanya masih tegak berdiri. Artinya, pasukan Islam yang dipimpin Sultan Mehmed sejak mereka hingga pada hari itu, tidak ada seorang pun yang pernah meninggalkan shalat wajib. Tidak sekalipun, mreka melalaikan shalat fardhu.

Mehmed tersenyum, kemudian bertanya untuk kali kedua: “Siapakah di antara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib?? Duduklah:

Sebagian di antara pasukan Islam yang mereasa pernah meninggalkan shalat rawatib, mereka segera duduk. Namun sebagian dia antara pasukan Islam saat itu masih berdiri tegak. Artinya, sejak masa remajanya, mereka tidak pernah meninggalkan shalat rawatib, yaitu shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai Muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur.

Sultan Mehmed pun kembali berseru sambil mengedarkan matanya kepada seluruh pasukannya yang masih berdiri tegak: “Siapakah di antara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya ini pernah meninggalkan shalat sunnah sunnah di kesunyian malam??  Bagi yang merasa pernah meninggalkan atau kosong, Duduklah:

Apa yang tetrjadi? Pasukan Islam yang sebelumnya masih banyak yang berdiri tegak dengan segera mereka duduk rapi kembali., ada pemandangan yang menakjubkan, ternyata ada seorang yang masih tetap tegak berdiri. Dia adalah Sultan mehmed II bin Murad II, sang penakluk Konstantinopel. Dialah yang pantas jadi imam shalat Jumat pada hari itu karena hanya dialah yang sejak akil baligh dan usia remajanya selalu mengisi kesunyian malamnya dengan bersujud kepada Allah!  

Berkat jiwa kepahlawanan, keberanian, kecerdasan, kesalehan, dan perestasinya inilah, mehmed II bin Murad IIdi beri gelar Al-Fatih. Itulah sebuah kisah sejarah yang sungguh indah dalam bingkai ketakwaan kepada Allah swt. kisah Pedang Malam yang merupakan rahasia sukses dari seorang pribadi pengubah sejarah, bernama al-Fatih Sultan Mehmed. Keberadaan dirinya yang luar biasa telah diprediksi oleh Rasulullah saw dalam sabdanya yangmulia :
Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki . pemimpin yang menaklukkkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan” (HR Ahmad bin Hambal)

Itulah salah satu di antara rahasia kemenangan Sultan Mehmed dalam mewujudkan bisyarah Islam dan nubuwwah Rasul-Nya, yaitu penaklukkan Konstantinopel. Sultan Mehmed memilik pribadi luar biasa dalam dirinya, salah satunya adalah kualitas amal shalehnya, shalat!

Untuk meneladani apa yang telah dicontohkan oleh sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan yang digelari sang Penakluk ini dalam meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah dengan kualitas ibadah kita, khusunya shalat maka kita harus memahami latar belakang  kedudukan shalat sebagai pembuktian ketundukan dan penghambaan diri terhadap Allah pada satu sisi dan pada sisi lainnya sebagai bentuk syukur terhadap nikmat Allah.

Di antaranya adalah, nikmat penciptaan makhluk Allah telah menjadikan manusia dengan bentuk uang sempurna, ahsani taqwim, sekaligus khayrul barriyah, hingga tak seorang pun berharap diciptakan dengan selain bentuk ini.

Begitu pula nikmat sehat karena dengan kesehatan anggota badan, seseorang mampu berbuat banyak kebaikan termasuk di dalamnya nikmat pemberian sendi-sendi yang elastis dalam anatomi tubuh yang senpurna sehingga dapat difungsikan dalam kondisi apapun. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan nikmat-nikmat itu dalam kepatuhan. Dalam shalat, kita padukan anggota badan, lisan, hati serta jiwa untuk berlutut dan memuja kepada Nya agar semua anggota dapat mensyukuri nikmat yang ada. Inilah yang dirasakan Sultan Mehmed dalam setiap shalatnya.

Kalau kita perhatikan perintah shalat dalam al-Quran, ditemukan bahwa perintah itu selalu dimulai dngan kata ‘aqimu’. Kata ‘aqimu’ ini biasa diterjemahkan dengan ‘mendirikan’, meskipun sebenarnya terjemahan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena, seperti kata Imama al-Qurthuby dalam tafsirnya , ‘aqimu’ bukan terambil dari kata ‘qama’ yangberarti ‘berdiri’, tetapi  kata itu berarti ‘bersinambung dan sempurna; sehingga perintah tersebut berarti ‘melaksanakannya dengan baik, khusyuk dan bersinambungan sesuai dengan syarat rukun dan sunnahnya.

Sultan Mehmed pun dalam upaya taqarrubnya kepada Sang Penolong dan Sang Pemberi Kemenangan kepada pasukannya selalu ‘bersinambung dan sempurna’ dalam shalatnya dengan mengerjakan shalat tepat waktu , berjamaah dan di kerjakan di masjid sesuai dengan syarat rukun dan sunnahnya. Dia telah menjadi ahli sujud yang terpercaya, sebagai para ahlul bayt nabi yang digelari As-sajjad.

Para ulama mu’tabar menyatakan bahwa shalat memiliki kedudukan yang utama dalam keseluruhan ibadah kepada Allah swt. Mereka merumuskan dari beberapa hadits Rasul yang menjelaskan kedudukan shalat dapat disimpukan :
1.      Shalat merupakan mi’rajul mukminin.
2.     Shalat juga sebagai tiang agama, barang siapa menegakkannya berarti telah menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti merusak agama;
3.      Shalat sebagai amal ibadah yang membedakan antara umat Islam dan orang kafir;
4.      Shalat merupakan ibadah yang pertama dihisab.

Apabila umat Islam telah menegakkan shalat secara sempurna, khusyu dalam shalatnya dan Ikhlas dalam pengamalannya maka shalatnya itu akan memberikan dampak yang positif terhadap suasana batin, kejiwaan, atau psikologisnya yang tentram. Kondisi ini amat mendukung bagi terbentuknya kepribadian yang utuh, sehat, produktif, atau efektif. Sultan Mehmed pun mendapatkan apa yang dinamakan kepribadian yang efektif itu yang memiliki ciri sebagai berikut :
1.      Komitmen terhadap nilai-nilai dan aturan Islam;
2.      Konsisten atau istiqamah dalam kebenaran;
3.      Kreatif, banyak ide atau gagasan dalam menebarkan kebaikan atau kebenaran;
4.      Kompeten dalam mengamalkan ajaran agama.

Dalam uraian pada bahasan sebelumnya, kita akan dapat mengetahui kelima ciri kepribadian yang efektif itu telah mengakar kuat pada pribadi Sultan Mehmed, terutama saat ekspedisi penaklukannnya atas kota Konstantinopel. Semua itu bermula dari kualitas ibadah shalatnya yang istimewa.

Sultan Mehmed II bin Murad II memahami benar apa yang selalu diingatkan Rasulullah saw tentang kualitas amal shalat ini.
“yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, apabila shalatnya sempurna, maka ditulis sempurna, dan apabila terdapat kekurangan, Allah berkata: “Lihatlah apakah dia mempunyai shalat sunnah untuk melengkapi kekurangan shalat wajibnya dari shalat sunnah”, kemudian barulah dihisab amal-amal yang lain seperti yang demikian itu.”
Bahkan dalam hadits yang lain, Rasulullah saw mengingatkan bahwa apabila hasil perhitungan amal shalat ini sempurna maka amal-amal ibadah yang lainnya pun akan sempurna. Namun sebaliknya, apabila hasil hisab shalat atas seorang hamba ini tidak beres maka dapat dipastikan kualitas amal ibadah yang lainnya pun tidak beres.

Oleh karena itulah, shalat merupakan wasilah dan cahaya. Rahmat dan pembuka jalan untuk mencapai keridhaan Allah swt, jannah-Nya, dan pertolongan-Nya. Sungguh sejak Sultan Mehmed mendapatkan pendidikan dini dari Syaikh Ahmad Al-Kurni dan Syaikh Aaq Syamsudin, dia telah mengabdikan dirinya kepada Allah swt demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Salah satu di antara buktinya, dia telah menjadi ahli sujud, as-Sajjad sekaligus menjadi ahli masjid.

Di samping semua itu, juga merupakan bentuk penjagaan yang bersih suci dan kuat terhadap masyarakat. Karena itu, bagi seorang Muslim ketika ada saudaranya di dalam masjid mempunyai tujuan yang sama, yaitu ridha Allah. Saat dia berdiri di samping saudaranya dalam satu shaff shalat, dia menyaksikan saudaranya berdiri di hadapan Allah seperti apa yang dikerjakannya maka hali itu menguatkan mereka untuk saling mengenal dan memahami. Hati mereka senantiasa terikat dan terhubung. Allah swt akan menjadikan kesatuan yang kuat dan suci di antara merkea ketika persaudaraan itu jujur. Sedangkan buah dari semua itu adalah persatuan Islam yang tidak akan putus.

Demikian pula dengan Sultan Mehmed yang tidak pernah melewatkan shalat fardhu dengan berjamaah. Dia menjalin silah ukhuwah kepada sesama Mukmin dan rakyatnya, sekaligus menjalin kedekatan dengan aparatur Negara dan anggota pasukannya, dia ingin meneladani akhlaq Rasul untuk selalu dekat dengan umatnya.

Shalat juga merupakan keteraturan dan kebersihan. Amal dan gerakan. Ilmu dan pelaksanaan. Saling mengasihi dan menyayangi. Pembinaan jiwa dan penguat ruh. Penghias dan penyeimbang. Oleh karena itulah, tidak salah apabila ada yang mengatakan bahwa shalat merupakan sekolah tinggi pendidikan dalam Islam, dan Sultan Mehmed II sudah memberikan contohnya untuk kita ikuti.

Mari kita tunaikan kewajiban asasi kita sebagai sarana bagi kaum Muslim untuk meminta pertolongan dari Allah swt, yang memiliki kunci kemenangan daam perjuangan.
(QS Al-baqarah :2)

Whatever it takes!

Mehmed adalah gabungan dari keberanian, kegigihan dan kecerdasan dalam berjuang. Dia memiliki satu penentu, yaitu memberikan yang terbaik dalam setiap pilihan hidupnya. To do whatever it takes. Banyak Muslim di dunia ini yang kalah sebelum berperang, mereka tidak mampu menunjukkan kemampuan maksimal yang mereka miliki. Bahkan, sejak awal mereka meragukan pancapaian yang diinginkannya. Namun, tidak bagi Sultan Mehmed, sejak awal dia adalah seorang pemberani karena agama Allah dan hal itu ditunjukkan melalui perbuatan dan kata-katanya dalam setiap kesempatan.

Keberanian dan kegigihan Mehmed juga mewujudkan kepercayaan diri yang besar pada pribadinya dan keyakinan ini berhasil ditransfer dengan baik olehnya kepada seluruh pasukan Utsmani sehingga pasukannya dapat memberikan kontribusi maksimal untuk perjuangan Islam.

Ketika Sultan Mehmed dalam perjalanannya menaklukan Trebizond, dia harus melewati gunung-gunung dan mendaki bukit-bukit serta serentetan halangan lain yang membuat pasukannya mengalami kesulitan. Pada saat itu, penguasa Trebizond juga dibantu oleh kabilah Turkman yang dioleh Hasan Uzun. Dalam perjalanan yang sulit itu, Sultan Mehmed bertemu dengan Ibu dari Hasan Uzun yang menginginkan menjadi mediator ishlah antara anaknya dan Sultan Mehmed, Si Ibu bertanya kepadanya,

“Kenapa kau harus bersusah payah melakukan ini wahai anakku? Apakah Trebizond berhak untuk kau perjuangkan dengan cara seperti ini?” maka Mehmed menjawab : “Wahai Ibu, sesungguhnya Allah telah meletakkan pedang di tanganku untuk berjihad di jalan-Nya maka jika aku tidak mampu bersabar untuk menghahapi kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku lakukan kewajibanku dengan pedang ini maka sangat tidak pantas bagiku untuk mendapatkan gelar al-Ghazi yang aku sandang sekarang ini. Lalu, bagaimana aku akan menemui Allah pada hari Kiamat nanti?”

Pernyataan Mehmed sangat jelas menggambarkan keberanian dan keteguhan hatinya dalam memperjuangkan Islam. Bila kita memerhatikan kisah penaklukkan Konstantinopel maka sikap mental seperti inilah yang selalu dia tunjukkan ketika berperang, memimpin pasukan, bahkan menanggapi suatu peristiwa.

Sikap ini pula yang tampak pada Sultan Mehmed pada saat mendapatkan informasi tentang Papal Bull (Surat keputusan yang dikeluarkan oleh Pasu Gereja Katholik, semacam seruan untuk setiap ummat katolik di seluruh dunia) yang dikeluarkan oleh Paus Pius 1463 perihal seruan Paus untuk menyatukan seluruh pasukan Kristen Eropa untuk meneriakkan perang alib sekali lagi kepada kaum Muslim. Reaksi Sultan Mehmed :
“Aku akan membantu orang tua malang itu akan kesusahan perjalanan jauh yang harus ditempuh dirinya dan pasukan Kristen, dengan memberangkatkan pasukanku menuju kepadanya dan mencari mereka semua di rumah-rumah  mereka!”

Tentu saja, yang paling terkenal di antara semuanya adalah ketika Sultan Mehmed memindahkan 72 kapal dari selar Bosphorus menuju Teluk Tanduk dalam waktu semalam. whatever it Takes for the sake of Allah, dia melaksanakan apapun yang harus dilakukan demi Allah.

Sultan Mehmed tidak pernah menghabiskan waktunya untuk mencari-cari alasan atas kegagalan yang dia peroleh, namun menghabiskan waktunya untuk mencari cara agar apa yng diinginkannya dapat terwujud, walau dengan cara-cara yang tidak terbayangkan sebelunya. Mehmed menyadari bahwa tidak ada yang lebih besar dan masalah yang lebih banyak. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan penghargaan karena membuat alasan yang paling banyak. Namun, banyak orang mendapatkan penghargaan karena dia menemukan cara untuk tidak beralasan dan akhirnya memperoleh apa yang ditujunya. Begitu pula Sultan Mehmed, baginya alasan adalah penghalang kemenangan dan menghambat seseorang untuk melakukan yang terbaik.

Lebih dari pada itu, Sultan Mehmed telah mengajarkan satu hal yang sangat penting bagi kaum Muslim yang ingin menapaki jalan perjuangan Islam setelahnya. Pertanyaannya bukanlah Bisa atau Tidak Bisa? Bukan juga Mungkin atau Tidak Mungkin. Kita tentu sangat paham, tidak ada yang tidak mungkin di dunia kecuali “Allah itu dua”. Namun, Sultan Mehmed mengajarkan kepada kita bahwa pertanyaanya adalah, Mau atau Tidak Mau?!

Apabila kita “Mau” maka semua yang kita lakukan pasti yang terbaik dan kita tidak akan menghabiskan waktu untuk mengasihani diri sendiri, beralasan dan membenarkan kegagalan-kegagalan kita. Namun, kita akan terus mencari cara terbaik untuk  mencapai tujuan yang kita inginkan dan kegagalan justru akan menjadi pengalaman berharga untuk dijadikan bahan perbaikan.

Berbeda dengan orang yang “Tidak Mau”, maka seberapapun kemungkinan dan kemudahan yang didapatkannya, namun itu tidak akan bisa mendorongnya untuk berbuat maksimal dan yang keluar dari dirinya adalah alasan demi alasan, mengasihani diri, mengeluh, dan melegitimasi kegagalan yang diperolehnya. Kegagalan akan menjadi kambing hitam dalam hidupnya.

Hal inilah yang harus kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, sesuai dengan pepatah Melayu : “Nak atau Tak Nak? Kalau Nak; 1000 daye, Kalau Tak Nak; 1000 daleh.


Akhinya, marilah kita bercermin dengn kata-kata terakhir yang diucapkan leh Penakluk Agung, dalam sisa-sisa  hidupnya,  merupakan wasiat yang disampaikannya kepada turunannya dan siapa pun yang menjadikan Roma sebagai Tujuannya:
“Tak lama lagi aku akan menghadap Allh swt. namun, aku sama sekali tidak merasa menyesal karena aku meninggalkan pengganti sepertimu. Jadilah engkau seorang pemimpin yang adil, salih dan penyayang. Rentangkan perlindunganmu untuk seluruh rakyatmu, tanpa kecuali. Bekerjalah engkau untuk menyebarkan  Islam karena sesungguhnya itu merupakan kewajiban agama di muka bumi. Kedepankan kepentingan agama di atas kepentingan lain apapun. Janganlah engkau lemah dan lengah untuk terus menjalaninya, janganlah sekali-kali engkau angkat jadi pegawaimu mereka yang tidak peduli dengan agama, yang tidak menjauhi dosa besar dan yang tenggelam dalam dosa. Jauhilah olehmu bid’ah yang merusak agama. Jauhilah pula mereka yang menggodamu untuk memasukinya. Lakukan perluasan setiap jengkal tanah Islam dengan jihad. Lindungi harta Baitul Mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali tanganmu mengambil harta rakyatmu kecuali sesuai ketentuan dalam Islam. Pastikan mereka yang lemah dan fakir mendapatkan kekuatan darimu dan berikanlah penghormatanmu untuk siapa yang memang berhak.”
“Ketauhilah sesungguhnya para ulama adalah  pewaris kekuatan di tengah tubuh Negara maka muliakanlah mereka, semangati mereka. bila ada dari mereka yang tinggal di tempat lain maka hadirkanlah dan hormatilah mereka, cukupilah keperluan mereka.”
“Berhati-hatilah, waspadalah jangan sampai engkau tertipu oleh harta benda maupun banyaknya tentara. Jangan samapi engkau jauhkan ahli syariat dari pintumu. Jangan sampai engaku sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam karena sesungguhnya agama itulah tujuan sebab itulah kita dimenangkan.”
“ambillah dariku pelajaran ini. Aku hadir ke negeri ini bagaikan seekor semut yang kecil, lalu Allah member nikmat demikian besar ini maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah engkau untuk meninggikan agama Allah ini dan hormatilah ahlinya. Janganlah engkau hamburkan harta Negara, berfoya-foya dan menggunakannya melampaui bata-batas yang semestinya. Sungguh itu semua adalah sebab-sebab terbesar datangnya kehancuran.”

Generasi penakluk. Generasi yang akan membenamkan semua ide-ide kufur lalu menggantinya dengan ide Islam yang orisinil. Generasi yang akan meninggikan kalimatullah dan membangkitkan kembali kehormatan kaum Muslim denganpenerapan syariat Islam dalam bentuk Khilafah Islam.

Dengan kekuatan khilafah Islam ini kaum Muslim dakan dipersatukan untuk kali keduanya baik wilayah maupun jumlah penduduknya, lalu menggenapkan sabda Rasulullah saw tentang takluknya kota Roma. Insya Allah.

Referensi :
Yanwar, Felix Siauw. 2011. MUHAMMAD AL-FATIH 1453. Jakarta: Khilafah Press

Thanks to CP3R yang membuatku termotivasi, jangan mau kalah sayang.... perbaikan diri artinya memperbaiki jodoh. :D hehe