Minggu, 24 November 2013

AL-FATIH THE NEXT MEHMED II LEGACY

Sesungguhnya di balik ucapan Halil Pasha, kata-katanya terdapat keinginan untuk memadamkan api semangat yang ada di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun, dia tak akan pernah mendapatkan apapun kecuali keputusasaan dan kerugian. Sesungguhnya Alexander the Great yang berangkat dari Yunani dan berjalan hingga ke India serta menaklukan separuh Asia yang begitu besar dan luas itu, tidak lebih besar jumlah pasukannya ketimbang pasukan kita. Maka jika pasukannya itu mampu menguasai bumi yang luas, apakah pasukan kita tidak mampu melangkahi seonggok tanah di balik batu-batu yang bertumpuk (tembok konstantinopel) ini ??? Halil Pasha telah berkata kepada kita bahwa Negara-negara Barat akan dating pada kita untuk membalas dendam. Lalu, siapa yang dia maksudkan dengan Negara-negara Barat itu? apakah yang dia maksud Negara-negara (berbahasa) latin yang kini sedang dilanda permusuhan internal atau Negara-negara di Laut Mediterania yang tidak mampu melakukan apapun kecuali merampok dan mencuri? Andaikata Negara-negara itu ingin memberikan bantuan kepada Byzantium, pastilah mereka telah mengirimkan pasukan dan kapal-kapal perangnya. Andaikata orang-orang Barat itu beranjak untuk berperang dan memerangi kita maka apakah kita akan berpangku tangan dan tidak melakukan apapun? Bukankah kita memiliki tentara untuk mempertahankan kehormatan kita?

AL-FATIH THE NEXT
MEHMED II LEGACY
“Taklukan negeri mana saja yang kalian inginkan karena demi Dzat yang Abu Hurairah berada di tangan-Nya, tidaklah kalian menaklukan salah satu kota hingga hari kiamat melainkan Allah telah memberikan kunci-kuncinya kepada Muhammad saw sebelum itu.” (Abu Hurairah RA)

See Beyond The Eyes Can See

            Ketika ada yang bertanya, sikap mental apakah yang paling mnonjol pada seorang Mehmed Al-Fatih, dan menjawab “see beyond the eyes can see”, Melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata. Lebih jauh lagi, bahkan saya katakan ini adalah sikap mental yang terkait dengan inti ajaran islam, aqidah islam. Sebagian besar perkara keimanan dalan islam tidak dapat dilihat oleh mata dalam meyakininya menuntut seseorang untuk bisa melihat lebih dari mata. Eksistensi Allah, Malaikat, Hari Kiamat, Surga, dan Neraka dan perkara-perkara lain yang tak kasat mata.

            Allah Swt juga telah menjadikan ‘sesuatu yang tak terllihat oleh mata’ sebagai balasan yang baik bagi orang yang beriman dan ganjaran bagi yang mendustainya. Dalam Islam, janji dan prediksi serta kabar gembira dari Allah dan Rasul-Nya disebut Bisyarah. Bagi kaum Muslim, bisyarah adalah sumber energi tak terbatas, yang dapat mengatasi segala rintangan dan memungkinkan segala kemustahilan. Bisyarah juga membuat seorang Muslim rela mengorbankan apa yang ada di depan matanya untuk mengejar janji Allah dan Rasul-Nya yang jauh lebih baik walaupun tidak dapat dipandang oleh mata.

            Kita juga mengetahui bahwa seseorang akan jauh lebih semangat dan lebih tekun dalam menjalani sesuatu apabila dia mengetahui tujuan yang akan dicapainya. Semakin jelas tujuan itu, maka semakin besar energi yang muncul di dalam dirinya untuk menjalaninya. Pada faktanya, melihat jauh ke depan atau berfikir selangkah di depan adalah syarat wajib yang ada pada setiap pemimpin besar di dunia, orang zaman kini menyebutnya sebagai visi.

            Sejak awal pembentukannya, Rasulullah saw mendidik para sahabat agar tidak membatasi pandangan mereka pada realitas zaman. Rasulullah membentuk metal para sahabat agar tidak hanya percaya pada realitas di depan mata, tetapi lebih kepda hasil akhir yang ingin dicapai. Kita harus mengingat bahwa pada masa Rasul dan para sahabat, mempertahankan agama bukanlah hal yang mudah, di depan mata para sahabat terdapat keterbatasam halangan dan problematika kehidupan menjulang tinggi dan datang bergelombang tak henti-hentinya. Keterbatasan itu terlihat dalam jumlah kaum Muslim yang sedikit dibandingkan penentangnya, sumberdaya yang dikuasainya dan juga tampak dari propaganda, intimidasi bahkan penganiaan yang dilakkan oleh orang-orang kafir. Pada saat seperti itu, visi yang diberikan oleh Allah dan Rasulullah pada para sahabat ibarat minyak yang selalu akan menyalakan api harapan dalam dada mereka. Visi ini begitu jelas ditanamkan oleh Rasulullah saw sehingga apapun yang terjadi di depan mata mereka hanya menjadi sebuah fatamorgana kehidupan yang tidak dapat menandingi visi hidup yang diberikan islam, yaitu membebaskan dunia.
            “Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan barantya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku.” (HR. muslim)

            Seorang pemimpin, apalagi penakluk, wajib memiliki sikap seperti ini. Seseorang yang selalu melihat kekinian dan fakta di depan matanya tidak pantas, bahkan tidak layak menjadi pemimpin karena itulah seorang pemimpin dinilai dari seberapa yakin dia bisa mewujudkan apa yang dilihat dengan akalnya, bukan hanya dengan matanya. Pandangannya kepada masa depan dan keyakinan mencapainya adalah sesuatu yang membuatnya memiliki ketahanan yang lebih daripada yang biasanya, pemikiran yang lebih daripada yang biasanya, perbuatan yang lebih daripada yang biasanya dan seringkali prestasi yang lebih daripada yang biasanya.

            Dapat kita bayangkan, 54 hari pengepungan yang dilakukan oleh Sultan Mehmed dan lebih dari 30.000 pasukannya gugur di medan perang pada 1453. Sebuah kesulitan yang tidak terbayangkan, mengatur 250.000 pasukan, sementara di depan mata menghadapi tembok yang tidak tertembus selama 11 abad. Bila saja Sultan Mehmed melihat dengan matanya, sungguh Konstantinopel tidak akan bisa ditaklukkan.

            Namun, kenyataannya tidak seperti itu, keyakinannya bahwa Konstantinopel pasti akan ditaklukkan telah dibangunnya semenjak kanak-kanak, baginya ucapan Rasulullah saw adalah satu-satunya kebenaran. Seandainya seluruh dunia berkata, bahwa Konstantinopel tidak akan bisa ditaklukkan, selama Muhammad saw berkata “bisa” maka bagi Mehmed itu sudah cukup. Bagi Sultan Mehmed, Konstantinopel secara hakiki telah takluk ketika hadist itu keluar dari lisan Rasulullah yang mulia karena Rasulullah tidak pernah salah.

            Keyakinan yang benar-benar kuat dan teguh akan takluknya Konstantinopel adalah energi terbesar begi Mehmed, sekaligus menjadi keutamaan paling besar dalam sikap mentalnya. Keyakinannya sanggup mentranformasikan menjadi kekuatan untuk memindahkan 72 kapal dayung dari Selat Borphorus ke Teluk Tanduk, yang tidak akan terjadi apabila Sultan Mehmed hanya melihat pada fakta. Keyakinan yang sama telah membuatnya bekerja keras, memutar otak dan mencari akal dan cara baru untuk melancarkan serangan kepada Konstantinopel karena di dalam kepalanya, Konstantinopel pasti akan takluk, hanya memerlukan cara-cara yang lebih bagus agar itu terwujud menjadi kenyataan.

            Berbeda dengan orang-orang yang tidak bisa melihat lebih daripada yang biasa dilihat oleh mata, mereka akan selalu beralasan, mengeluh dengan hambatan dan rintangan yang menghadang mereka dan menjadikannya sebagai alasan untuk tidak melakukan apapun dalam hidupnya. Mereka kalah sebelum berperang dan orang yang tidak memiliki keyakinan maka peluang untuk berhasilnya menjadi nol. Mereka hanya sanggup melihat apa yang di depan mata dan tertipu karenanya, namun mereka tidak bisa melihat apapun di balik itu.

            Begitulah orang-orang yang tertipu dengan dunia, pada hakikatnya mereka juga orang-orang yang tidak mampu melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata”. Tatkala permasalahan harta benda, mereka berebut dan berlomba-lomba, seakan-akan petir dan gempa tidak dapat menghalangi mereka. Mereka sangat fasih berbicara tentang uang, membanggakan apapun yang mereka miliki dengan semangat berkobar-kobar namun ketika tiba persoalan agama, tiba-tiba mereka jadi yang paling bodoh, miskin dan lemah. Allah mengkritik mereka dalam Al-Qur’an
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum [30]:7)

            Visi yang diberikan Rasulullah juga melatih para sahabat untuk berfikir besar, sebagaimana yang juga terlihat pada Sultan Mehmed II. Kebiasaan berfikir besar pada gilirannya menghasilkan prestasi yang besar pula sebagaimana kaum Muslim yang telah kita ketahui.

            Jadi Muslim adalah seseorang yang yakin akan ‘keberadaan’ yang lebih dari dirinya dan layak disembah. Oleh karenanya, mereka berserah dan tunduk total kepada-Nya dan apapun yang Dia tentukan. Kemampuan untuk mengetahui dan meyakini sesutatu sebelum semuanya terjadi, inilah dasar keimanan Muslim. To see beyond the eyes can see.

Mereka melihat realitas lebih daripada yang dapat dilihat oleh mata, hal itu ibarat motor yang terus memberikan energi tak terbatas. Mereka beribadah kepada Allah seolah-olah mereka melihat Allah karena itu ibadah yang mereka lakukan adalah ibadah yang maksimal bukan minimal. Mereka tekun dalam shalatnya karena mereka yankin dengan kematian dan pertemuannya dengan Allah. Mereka bisa melaksanakan puasa karena telah terbayang dengan jelas kenikmatan memandang wajah Allah di hari pertemuan dengan-Nya. Dalam berusaha, mereka juga lebih bersemangat daripada yang lain karena mereka meyakini bahwa Allah telah menentukan kadar rizqi buat masing-masing hamba-Nya. Perjuangan membangkitkan Islam menjadi manis karena bagi kaum Muslim itu laksana kenikmatan yang tertunda. Mereka berjihad seolah surga sudah di depan mata sehingga syahid dalam jihad adalah sesuatu yang dirindukan. Mereka berperang dengan gagah seolah kemenangan sudah dalam genggaman mereka.

            Percaya pada realitas di depan mata ataukah visi yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, semua itu adalah pilihan kita. Apapun pilihan kita, takdir Allah sudah digariskan dan kenyataan nantinya tidak akan pernah berubah, sebagaimana yang telah Rasulullah tegaskan dalam salah satu surat seruan dakwah Islam yang dikirim kepada al-Mundzir bin Sawa, penguasa Bahrain.
Bismillahirrahmanirrahiim, dari Muhammad Rasulullah Saw kepada al-Mundzir bin Sawa, keselamatan untuk siapa saja yang mengikuti hidayah (Islam). Ammaba’du, aku menyeru engkau memeluk Islam. Maka masuk Islamlah, engkau akan selamat. Masuk Islamlah maka Allah akan menjadikan apa yang berada dalam genggaman kedua tanganmu tetap menjadi milikmu. Ketauhilah, bahwa agamaku ini akn menuai kemenangan hingga unta dan kuda terakhir!
             
Al-A’la bis al-Hadhrami, utusan yang membawa surat ini mengingatkan kepada al-Mundzir bin Sawa, “Wahai Mundzir, engkau adalah orang yang mempunyai intelektualitas yang luar biasa di dunia ini maka janganlah sekali-kali engkau mengecilkan akhirat”, seraya berpesan kepadanya untuk senantiasa berpikir dan menggunakan akal dalam merespons surat Rasulullah saw. Setelah membaca isi surat ini maka Al-Mundzir bin Sawa berkata:
“Aku memang telah mempertimbangkan urusan yang ada dalam genggamanku ini; aku memang menemukannya semata-mata untuk kepentingan dunia,bukan akhirat. Kemudian aku memerhatikan agama kalian dan aku pun menemukannya untuk kepentingan akhirat juga dunia sekaligus. Lalu, apa yang menghalangiku utnuk menerima agama yang mengajarkan kedamaian hidup dan ketenangan mati? Kemarin, aku merasa heran dengan orang yang menerimanya, dan kini aku merasa heran dengan orang yang menolaknya.”
         
   Mahabenar Allah ketika menyampaikan kepada kita bahwa orang-orang kafir dan munafiq senantiasa pintar dalam urusan dunia yang terlihat, tapi lalai dalam urusan akhirat. Sama seperti visi Rasulullah yang memang sepertinya sangat tergantung dari taraf berfikir seseorang. Memang akhirnya semua kembali kepada tingkatan berpikir yang pada gilirannya akan melahirkan keimanan. Begitu pula kisah Islamnya Adi bin Hatim yang memperlihatkan tingkatan berpikirnya ketika berdialog dengan Nabi Muhammad saw.
“Wahai Adi, bukankah engkau penganut Rukus?” Adi bin Hatim menjawab “Benar!”. Beliau bertanya: “Bukankah engkau mengambil langkah dengan menetapkan bagian ¼ ghanimah (untukmu) di antara kaummu?”. Adi menjawab “Benar!”. Beliau bertanya lagi “Sebenarnya menurut agamamu hal itu tidak dihalalkan bagimu”. Berkata Adi “Demi Allah, memang benar!”. Kemudian, beliau berkata : “Wahai Adi barangkali ada sesuatu yang menghalangimu memeluk agama ini karena engkau memandang mereka itu miskin? Demi Allah, kelak harta kekayaan dan akan diguyurkan dengan melimpah di tengah-tengah mereka hingga tidak ada satupun yang akan mengambilnya. Barangkali sesuatu yang menghaalangimu measik islam adalah karena engkau  memandang musuh mereka banyak, sementara jumlah mereka hanya sedikit? Demi Allah, kelak engkau pasti mendengar ada seorang wanita klaur dariQadisiyah dengan menunggang untanya, wanita itu pasti akan mengunjungi Baitullah ini tanpa rasa takut! Barangkali yang menghalangimu masuk islam karena engkau memandang kerajaan dan kekuasaan itu dipegang oleh selain mereka? demi Allah, kelak engkau kan melihat Istana Putih (Istana Kisra) dari Bumi Bail (Persia) akan ditaklukkan untuk mereka.” lalu Adi Bin Hatim pun masuk Islam.

            Adi Bin Hatim sebelum meninggal pada 688 akhirnya menyaksikan dua hal yang dijanjikan Rasul dengan matanya, takluknya Istana Putih Persia dan juga seorang wanita yang keluar dari Qadsiyah menuju ke Baitullah untuk menunaikan haji tanpa ada gangguan dan ia yakin, kelak satu hal yang lain yang akan segera terwujud. Bagi kaum muslim yang menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, perkara janji dan bisyarah Allah serta Rasulullah serta semua visi yang disampaikan kepada ummatNya adalah perkara yang tidak perlu didiskusikan lagi kepastiannnya. Bahasa Imannnya adalkah qadarullah --ketentuan Allah-- atau takdir Allah. Persis seperti yang disyaratkan kepada kita dalam ayat (QS Al-Fath :21)

(al-ahzab : 10-12 ayat ini menceritakan tentang bagaimana kaum Muslim itu diuji dengan kengerian dan ketakutan setelah itu ddatanglah kemenangan. Demikian lah Allah menguji hambaNya dengan cara yang Dia ketahui. Agat disitu terlihat siapa yang benar-benar meyakini janjiNya dan siapa yang mendustai bahkan mengadakan prasangka-prasangka buruk kepada Allah. Prasangka buruk tersebut adalah : “terbesit pada mereka bahwa Allah mengingkari janjiNya.
“The sacred promise os not a matter of choice, but it is a fate”

Source of All Victory

Kalau seandainya ada pemimpin Muslim yang tidak pernah masbuq dalam shalatnya, dialah Sultan Muhammad Al-Fatih. (Syaikh Samsuddin)

            Di  antara rahasia kemenangan Sultan Mehmed dalam upayanya mewujudkan bisyarah islam dan Nubuwwah Rasulullah saw, tentang penaklukkan kota Konstantinopel adalah keualitas amal shaleh Sultan Mehmed dalam mendirikan shalat. Dalam catatan sejarah, nama Sultan Mehmed tercatat dengan tinta emas mengabadikan dirinya sebagai pemimpin yang teguh mendirikan shalat. Tidak hanya shalat fardhu yang lima waktu, namun juga shalat sunah, seperti shalat rawatib dan shalat tahajjud. Dia begitu meyakini bahwa kemenangan pasukan Islam bukan hanya karena jumlah yang banyak, teknologi persenjataan yang hebat atau strategi militer yang brilian. Namun, sultan Mehmed meyakini sepenuhnya bahwa setiap kemenangan pasukan yang dipimpinnya merupakan pertolongan nyata dari Allah swt.

Keyakinan Sultan Mehmed ini terungkap secara nyata di hadapan pasukannya, saat dia mengumpulkan mereka pada 27 Mei 1453. Sultan Mehmed melihat kemenangan atas Konstantinopel sudah semakin dekat, dia berkhutbah di hadapan pasukannya, mengingatkan mereka akan tujuan penaklukkan atas Konstantinopel.
“Jika penaklukkan kota Konstaninopel sukses maka sabda Rasulullah saw telah terbukti. Kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits nii, berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah kepada para pasuka satu persatu bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Unutk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu di depan matanya dan jangan sampai ada di antara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut pertempuran.”

Khutbah Sultan Mehmed ini adalah penegasan kepada pasukannya bahwa kemenangan tidak akan bisa dicapai dengan mengadalkan kekuatan belaka, bukan pula karena kecerdasan dan strategi perang, dia sangat memahami bahwa kemenangan hanya akan tercapai dengan izin dan pertolongan dari Allah. Bahkan, dia meminta kepada seluruh pasukannya untuk bermunajat kepada Alllah swt, menjauhkan diri dari maksiat, bertahajjud dan berpuasa pada esok harinya.

Demikian pula dengan dirinya sebagai pemimpin seluruh pasukan, Sultan Mehmed menjadi orang pertama yang memberi contoh kepada pasukannya. Dia mengerjakan apa yang telah diperintahkannya. Bahkan, tinta para sejarawan menuliskan bahwa untuk menjaga kedekatannya atas keinginan yang sangat kuat untuk menaklukkan Konstantinopel, sejak usia baligh, Mehmed remaja tidak pernah melalaikan shalat. Dia tidak hanya salat tepat waktu, namun dia juga mengerjakan secara berjamaan. Dan tidak pernah masbuq. Kalau rawatib saja saja tidak pernah lalai apalagi wajib, tentu Mehmed lebih mengutamakannya.

Selain itu, sejak remaja, Mehmed tidak pernah meninggalkan shalat tahajjud barang semalam pun. Bahkan, pada saat dia bangun dari segitiga malam terakhirnya untuk bersimpuh sujud di hadapan Allah ada dan Mehmed ingin mengikuti tabiat Rasul yang menegakkan shalat malam sepanjang malam dalam hidupnya. Shalat tahajjud Rasulullah saw merupakan kewajiban yang tak bisa beliau tinggalkan, sebagai takhsis baginnya. Sultan Mehmed adalah ahli qiyamul lail yang selalu kontak dengan energi terbesar dalam alam semesta, Allah swt.

Bahkan Mehmed punya kebiasaan yang cukup unik, dia selalu berkelilng setiap malam, memeriksa kondisi teman dan rakyatnya. Dia bersengaja berkeliling untuk memastikan apakah rakyat dan teman-temannya terbangun untuk menunaikan shalat malam, atau tidak !

Kesalehan pribadi Sultan Mehmed terbukti ketika suatu hari, muncul pada saat pasukan Islam hendak melaksanakan shalat jumat yang kali pertama di Konstantinopel. “Siapakah yang layak menjadi imam salat jumat”

Namun, tidak seoarng pun yang berani menawarkan dirinya. Melihat hal itu Sultan Mehmed segera bangun dari kursi dan sama2 berdiri kemudian, dia bertanya: “Siapakah di antara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya ini pernah meninggalkan shalat wajib lima waktu? Duduklah:

Subhanallah! Mahasuci Allah! tidak ada seorangpun di antara pasukan Islam yang duduk. Semuanya masih tegak berdiri. Artinya, pasukan Islam yang dipimpin Sultan Mehmed sejak mereka hingga pada hari itu, tidak ada seorang pun yang pernah meninggalkan shalat wajib. Tidak sekalipun, mreka melalaikan shalat fardhu.

Mehmed tersenyum, kemudian bertanya untuk kali kedua: “Siapakah di antara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya ini pernah meninggalkan shalat sunnah rawatib?? Duduklah:

Sebagian di antara pasukan Islam yang mereasa pernah meninggalkan shalat rawatib, mereka segera duduk. Namun sebagian dia antara pasukan Islam saat itu masih berdiri tegak. Artinya, sejak masa remajanya, mereka tidak pernah meninggalkan shalat rawatib, yaitu shalat sunnah yang mengikuti shalat fardhu. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai Muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur.

Sultan Mehmed pun kembali berseru sambil mengedarkan matanya kepada seluruh pasukannya yang masih berdiri tegak: “Siapakah di antara kalian yang sejak remaja, sejak akil balighnya ini pernah meninggalkan shalat sunnah sunnah di kesunyian malam??  Bagi yang merasa pernah meninggalkan atau kosong, Duduklah:

Apa yang tetrjadi? Pasukan Islam yang sebelumnya masih banyak yang berdiri tegak dengan segera mereka duduk rapi kembali., ada pemandangan yang menakjubkan, ternyata ada seorang yang masih tetap tegak berdiri. Dia adalah Sultan mehmed II bin Murad II, sang penakluk Konstantinopel. Dialah yang pantas jadi imam shalat Jumat pada hari itu karena hanya dialah yang sejak akil baligh dan usia remajanya selalu mengisi kesunyian malamnya dengan bersujud kepada Allah!  

Berkat jiwa kepahlawanan, keberanian, kecerdasan, kesalehan, dan perestasinya inilah, mehmed II bin Murad IIdi beri gelar Al-Fatih. Itulah sebuah kisah sejarah yang sungguh indah dalam bingkai ketakwaan kepada Allah swt. kisah Pedang Malam yang merupakan rahasia sukses dari seorang pribadi pengubah sejarah, bernama al-Fatih Sultan Mehmed. Keberadaan dirinya yang luar biasa telah diprediksi oleh Rasulullah saw dalam sabdanya yangmulia :
Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki . pemimpin yang menaklukkkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan” (HR Ahmad bin Hambal)

Itulah salah satu di antara rahasia kemenangan Sultan Mehmed dalam mewujudkan bisyarah Islam dan nubuwwah Rasul-Nya, yaitu penaklukkan Konstantinopel. Sultan Mehmed memilik pribadi luar biasa dalam dirinya, salah satunya adalah kualitas amal shalehnya, shalat!

Untuk meneladani apa yang telah dicontohkan oleh sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan yang digelari sang Penakluk ini dalam meningkatkan kualitas diri di hadapan Allah dengan kualitas ibadah kita, khusunya shalat maka kita harus memahami latar belakang  kedudukan shalat sebagai pembuktian ketundukan dan penghambaan diri terhadap Allah pada satu sisi dan pada sisi lainnya sebagai bentuk syukur terhadap nikmat Allah.

Di antaranya adalah, nikmat penciptaan makhluk Allah telah menjadikan manusia dengan bentuk uang sempurna, ahsani taqwim, sekaligus khayrul barriyah, hingga tak seorang pun berharap diciptakan dengan selain bentuk ini.

Begitu pula nikmat sehat karena dengan kesehatan anggota badan, seseorang mampu berbuat banyak kebaikan termasuk di dalamnya nikmat pemberian sendi-sendi yang elastis dalam anatomi tubuh yang senpurna sehingga dapat difungsikan dalam kondisi apapun. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan nikmat-nikmat itu dalam kepatuhan. Dalam shalat, kita padukan anggota badan, lisan, hati serta jiwa untuk berlutut dan memuja kepada Nya agar semua anggota dapat mensyukuri nikmat yang ada. Inilah yang dirasakan Sultan Mehmed dalam setiap shalatnya.

Kalau kita perhatikan perintah shalat dalam al-Quran, ditemukan bahwa perintah itu selalu dimulai dngan kata ‘aqimu’. Kata ‘aqimu’ ini biasa diterjemahkan dengan ‘mendirikan’, meskipun sebenarnya terjemahan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena, seperti kata Imama al-Qurthuby dalam tafsirnya , ‘aqimu’ bukan terambil dari kata ‘qama’ yangberarti ‘berdiri’, tetapi  kata itu berarti ‘bersinambung dan sempurna; sehingga perintah tersebut berarti ‘melaksanakannya dengan baik, khusyuk dan bersinambungan sesuai dengan syarat rukun dan sunnahnya.

Sultan Mehmed pun dalam upaya taqarrubnya kepada Sang Penolong dan Sang Pemberi Kemenangan kepada pasukannya selalu ‘bersinambung dan sempurna’ dalam shalatnya dengan mengerjakan shalat tepat waktu , berjamaah dan di kerjakan di masjid sesuai dengan syarat rukun dan sunnahnya. Dia telah menjadi ahli sujud yang terpercaya, sebagai para ahlul bayt nabi yang digelari As-sajjad.

Para ulama mu’tabar menyatakan bahwa shalat memiliki kedudukan yang utama dalam keseluruhan ibadah kepada Allah swt. Mereka merumuskan dari beberapa hadits Rasul yang menjelaskan kedudukan shalat dapat disimpukan :
1.      Shalat merupakan mi’rajul mukminin.
2.     Shalat juga sebagai tiang agama, barang siapa menegakkannya berarti telah menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti merusak agama;
3.      Shalat sebagai amal ibadah yang membedakan antara umat Islam dan orang kafir;
4.      Shalat merupakan ibadah yang pertama dihisab.

Apabila umat Islam telah menegakkan shalat secara sempurna, khusyu dalam shalatnya dan Ikhlas dalam pengamalannya maka shalatnya itu akan memberikan dampak yang positif terhadap suasana batin, kejiwaan, atau psikologisnya yang tentram. Kondisi ini amat mendukung bagi terbentuknya kepribadian yang utuh, sehat, produktif, atau efektif. Sultan Mehmed pun mendapatkan apa yang dinamakan kepribadian yang efektif itu yang memiliki ciri sebagai berikut :
1.      Komitmen terhadap nilai-nilai dan aturan Islam;
2.      Konsisten atau istiqamah dalam kebenaran;
3.      Kreatif, banyak ide atau gagasan dalam menebarkan kebaikan atau kebenaran;
4.      Kompeten dalam mengamalkan ajaran agama.

Dalam uraian pada bahasan sebelumnya, kita akan dapat mengetahui kelima ciri kepribadian yang efektif itu telah mengakar kuat pada pribadi Sultan Mehmed, terutama saat ekspedisi penaklukannnya atas kota Konstantinopel. Semua itu bermula dari kualitas ibadah shalatnya yang istimewa.

Sultan Mehmed II bin Murad II memahami benar apa yang selalu diingatkan Rasulullah saw tentang kualitas amal shalat ini.
“yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya, apabila shalatnya sempurna, maka ditulis sempurna, dan apabila terdapat kekurangan, Allah berkata: “Lihatlah apakah dia mempunyai shalat sunnah untuk melengkapi kekurangan shalat wajibnya dari shalat sunnah”, kemudian barulah dihisab amal-amal yang lain seperti yang demikian itu.”
Bahkan dalam hadits yang lain, Rasulullah saw mengingatkan bahwa apabila hasil perhitungan amal shalat ini sempurna maka amal-amal ibadah yang lainnya pun akan sempurna. Namun sebaliknya, apabila hasil hisab shalat atas seorang hamba ini tidak beres maka dapat dipastikan kualitas amal ibadah yang lainnya pun tidak beres.

Oleh karena itulah, shalat merupakan wasilah dan cahaya. Rahmat dan pembuka jalan untuk mencapai keridhaan Allah swt, jannah-Nya, dan pertolongan-Nya. Sungguh sejak Sultan Mehmed mendapatkan pendidikan dini dari Syaikh Ahmad Al-Kurni dan Syaikh Aaq Syamsudin, dia telah mengabdikan dirinya kepada Allah swt demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Salah satu di antara buktinya, dia telah menjadi ahli sujud, as-Sajjad sekaligus menjadi ahli masjid.

Di samping semua itu, juga merupakan bentuk penjagaan yang bersih suci dan kuat terhadap masyarakat. Karena itu, bagi seorang Muslim ketika ada saudaranya di dalam masjid mempunyai tujuan yang sama, yaitu ridha Allah. Saat dia berdiri di samping saudaranya dalam satu shaff shalat, dia menyaksikan saudaranya berdiri di hadapan Allah seperti apa yang dikerjakannya maka hali itu menguatkan mereka untuk saling mengenal dan memahami. Hati mereka senantiasa terikat dan terhubung. Allah swt akan menjadikan kesatuan yang kuat dan suci di antara merkea ketika persaudaraan itu jujur. Sedangkan buah dari semua itu adalah persatuan Islam yang tidak akan putus.

Demikian pula dengan Sultan Mehmed yang tidak pernah melewatkan shalat fardhu dengan berjamaah. Dia menjalin silah ukhuwah kepada sesama Mukmin dan rakyatnya, sekaligus menjalin kedekatan dengan aparatur Negara dan anggota pasukannya, dia ingin meneladani akhlaq Rasul untuk selalu dekat dengan umatnya.

Shalat juga merupakan keteraturan dan kebersihan. Amal dan gerakan. Ilmu dan pelaksanaan. Saling mengasihi dan menyayangi. Pembinaan jiwa dan penguat ruh. Penghias dan penyeimbang. Oleh karena itulah, tidak salah apabila ada yang mengatakan bahwa shalat merupakan sekolah tinggi pendidikan dalam Islam, dan Sultan Mehmed II sudah memberikan contohnya untuk kita ikuti.

Mari kita tunaikan kewajiban asasi kita sebagai sarana bagi kaum Muslim untuk meminta pertolongan dari Allah swt, yang memiliki kunci kemenangan daam perjuangan.
(QS Al-baqarah :2)

Whatever it takes!

Mehmed adalah gabungan dari keberanian, kegigihan dan kecerdasan dalam berjuang. Dia memiliki satu penentu, yaitu memberikan yang terbaik dalam setiap pilihan hidupnya. To do whatever it takes. Banyak Muslim di dunia ini yang kalah sebelum berperang, mereka tidak mampu menunjukkan kemampuan maksimal yang mereka miliki. Bahkan, sejak awal mereka meragukan pancapaian yang diinginkannya. Namun, tidak bagi Sultan Mehmed, sejak awal dia adalah seorang pemberani karena agama Allah dan hal itu ditunjukkan melalui perbuatan dan kata-katanya dalam setiap kesempatan.

Keberanian dan kegigihan Mehmed juga mewujudkan kepercayaan diri yang besar pada pribadinya dan keyakinan ini berhasil ditransfer dengan baik olehnya kepada seluruh pasukan Utsmani sehingga pasukannya dapat memberikan kontribusi maksimal untuk perjuangan Islam.

Ketika Sultan Mehmed dalam perjalanannya menaklukan Trebizond, dia harus melewati gunung-gunung dan mendaki bukit-bukit serta serentetan halangan lain yang membuat pasukannya mengalami kesulitan. Pada saat itu, penguasa Trebizond juga dibantu oleh kabilah Turkman yang dioleh Hasan Uzun. Dalam perjalanan yang sulit itu, Sultan Mehmed bertemu dengan Ibu dari Hasan Uzun yang menginginkan menjadi mediator ishlah antara anaknya dan Sultan Mehmed, Si Ibu bertanya kepadanya,

“Kenapa kau harus bersusah payah melakukan ini wahai anakku? Apakah Trebizond berhak untuk kau perjuangkan dengan cara seperti ini?” maka Mehmed menjawab : “Wahai Ibu, sesungguhnya Allah telah meletakkan pedang di tanganku untuk berjihad di jalan-Nya maka jika aku tidak mampu bersabar untuk menghahapi kesulitan-kesulitan ini dan tidak aku lakukan kewajibanku dengan pedang ini maka sangat tidak pantas bagiku untuk mendapatkan gelar al-Ghazi yang aku sandang sekarang ini. Lalu, bagaimana aku akan menemui Allah pada hari Kiamat nanti?”

Pernyataan Mehmed sangat jelas menggambarkan keberanian dan keteguhan hatinya dalam memperjuangkan Islam. Bila kita memerhatikan kisah penaklukkan Konstantinopel maka sikap mental seperti inilah yang selalu dia tunjukkan ketika berperang, memimpin pasukan, bahkan menanggapi suatu peristiwa.

Sikap ini pula yang tampak pada Sultan Mehmed pada saat mendapatkan informasi tentang Papal Bull (Surat keputusan yang dikeluarkan oleh Pasu Gereja Katholik, semacam seruan untuk setiap ummat katolik di seluruh dunia) yang dikeluarkan oleh Paus Pius 1463 perihal seruan Paus untuk menyatukan seluruh pasukan Kristen Eropa untuk meneriakkan perang alib sekali lagi kepada kaum Muslim. Reaksi Sultan Mehmed :
“Aku akan membantu orang tua malang itu akan kesusahan perjalanan jauh yang harus ditempuh dirinya dan pasukan Kristen, dengan memberangkatkan pasukanku menuju kepadanya dan mencari mereka semua di rumah-rumah  mereka!”

Tentu saja, yang paling terkenal di antara semuanya adalah ketika Sultan Mehmed memindahkan 72 kapal dari selar Bosphorus menuju Teluk Tanduk dalam waktu semalam. whatever it Takes for the sake of Allah, dia melaksanakan apapun yang harus dilakukan demi Allah.

Sultan Mehmed tidak pernah menghabiskan waktunya untuk mencari-cari alasan atas kegagalan yang dia peroleh, namun menghabiskan waktunya untuk mencari cara agar apa yng diinginkannya dapat terwujud, walau dengan cara-cara yang tidak terbayangkan sebelunya. Mehmed menyadari bahwa tidak ada yang lebih besar dan masalah yang lebih banyak. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan penghargaan karena membuat alasan yang paling banyak. Namun, banyak orang mendapatkan penghargaan karena dia menemukan cara untuk tidak beralasan dan akhirnya memperoleh apa yang ditujunya. Begitu pula Sultan Mehmed, baginya alasan adalah penghalang kemenangan dan menghambat seseorang untuk melakukan yang terbaik.

Lebih dari pada itu, Sultan Mehmed telah mengajarkan satu hal yang sangat penting bagi kaum Muslim yang ingin menapaki jalan perjuangan Islam setelahnya. Pertanyaannya bukanlah Bisa atau Tidak Bisa? Bukan juga Mungkin atau Tidak Mungkin. Kita tentu sangat paham, tidak ada yang tidak mungkin di dunia kecuali “Allah itu dua”. Namun, Sultan Mehmed mengajarkan kepada kita bahwa pertanyaanya adalah, Mau atau Tidak Mau?!

Apabila kita “Mau” maka semua yang kita lakukan pasti yang terbaik dan kita tidak akan menghabiskan waktu untuk mengasihani diri sendiri, beralasan dan membenarkan kegagalan-kegagalan kita. Namun, kita akan terus mencari cara terbaik untuk  mencapai tujuan yang kita inginkan dan kegagalan justru akan menjadi pengalaman berharga untuk dijadikan bahan perbaikan.

Berbeda dengan orang yang “Tidak Mau”, maka seberapapun kemungkinan dan kemudahan yang didapatkannya, namun itu tidak akan bisa mendorongnya untuk berbuat maksimal dan yang keluar dari dirinya adalah alasan demi alasan, mengasihani diri, mengeluh, dan melegitimasi kegagalan yang diperolehnya. Kegagalan akan menjadi kambing hitam dalam hidupnya.

Hal inilah yang harus kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, sesuai dengan pepatah Melayu : “Nak atau Tak Nak? Kalau Nak; 1000 daye, Kalau Tak Nak; 1000 daleh.


Akhinya, marilah kita bercermin dengn kata-kata terakhir yang diucapkan leh Penakluk Agung, dalam sisa-sisa  hidupnya,  merupakan wasiat yang disampaikannya kepada turunannya dan siapa pun yang menjadikan Roma sebagai Tujuannya:
“Tak lama lagi aku akan menghadap Allh swt. namun, aku sama sekali tidak merasa menyesal karena aku meninggalkan pengganti sepertimu. Jadilah engkau seorang pemimpin yang adil, salih dan penyayang. Rentangkan perlindunganmu untuk seluruh rakyatmu, tanpa kecuali. Bekerjalah engkau untuk menyebarkan  Islam karena sesungguhnya itu merupakan kewajiban agama di muka bumi. Kedepankan kepentingan agama di atas kepentingan lain apapun. Janganlah engkau lemah dan lengah untuk terus menjalaninya, janganlah sekali-kali engkau angkat jadi pegawaimu mereka yang tidak peduli dengan agama, yang tidak menjauhi dosa besar dan yang tenggelam dalam dosa. Jauhilah olehmu bid’ah yang merusak agama. Jauhilah pula mereka yang menggodamu untuk memasukinya. Lakukan perluasan setiap jengkal tanah Islam dengan jihad. Lindungi harta Baitul Mal jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali tanganmu mengambil harta rakyatmu kecuali sesuai ketentuan dalam Islam. Pastikan mereka yang lemah dan fakir mendapatkan kekuatan darimu dan berikanlah penghormatanmu untuk siapa yang memang berhak.”
“Ketauhilah sesungguhnya para ulama adalah  pewaris kekuatan di tengah tubuh Negara maka muliakanlah mereka, semangati mereka. bila ada dari mereka yang tinggal di tempat lain maka hadirkanlah dan hormatilah mereka, cukupilah keperluan mereka.”
“Berhati-hatilah, waspadalah jangan sampai engkau tertipu oleh harta benda maupun banyaknya tentara. Jangan samapi engkau jauhkan ahli syariat dari pintumu. Jangan sampai engaku sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam karena sesungguhnya agama itulah tujuan sebab itulah kita dimenangkan.”
“ambillah dariku pelajaran ini. Aku hadir ke negeri ini bagaikan seekor semut yang kecil, lalu Allah member nikmat demikian besar ini maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah engkau untuk meninggikan agama Allah ini dan hormatilah ahlinya. Janganlah engkau hamburkan harta Negara, berfoya-foya dan menggunakannya melampaui bata-batas yang semestinya. Sungguh itu semua adalah sebab-sebab terbesar datangnya kehancuran.”

Generasi penakluk. Generasi yang akan membenamkan semua ide-ide kufur lalu menggantinya dengan ide Islam yang orisinil. Generasi yang akan meninggikan kalimatullah dan membangkitkan kembali kehormatan kaum Muslim denganpenerapan syariat Islam dalam bentuk Khilafah Islam.

Dengan kekuatan khilafah Islam ini kaum Muslim dakan dipersatukan untuk kali keduanya baik wilayah maupun jumlah penduduknya, lalu menggenapkan sabda Rasulullah saw tentang takluknya kota Roma. Insya Allah.

Referensi :
Yanwar, Felix Siauw. 2011. MUHAMMAD AL-FATIH 1453. Jakarta: Khilafah Press

Thanks to CP3R yang membuatku termotivasi, jangan mau kalah sayang.... perbaikan diri artinya memperbaiki jodoh. :D hehe