Rabu, 04 Desember 2013

Beyond The Inspiration



Imperium Persia terbentang seluas 7.400.000 km2 di sebelah timur dengan peradaban yang telah dibangun selama 1173 tahun. Sementara di sebelah barat terbentang imperium Romawi seluas 5.000.000 km2 yang telah dibangun selama 650 tahun. Di antara keduanya, muncul satu peradaban yang kelak akan membebaskan kedua imperium dan peradaban tadi.

Pada 651 imperium Persia dibebaskan di tangan kaum Muslim dan menyusul imperium Romawi yang dibebaskan pada 1453. Islam lalu menyatukan kedua imperium dan meluaskan wilayahnya hingga mencapai 20.000.000 km2 dan memberikan kesejahteraan melebihi apa yang pernah diberikan kedua imperium sebelumnya.
Mengapa ada satu masa dimana Islam dapat menjadi inspirasi dan motivasi yang menjadikan pengembannya mulia dan tinggi namun, pada masa yang lain, justru menampakkan ummat dengan karakter yang berbeda?

Pertanyaan “Why”? inilah yang akan mengungkap suatu rahasia yang dipegang oleh Rasulullah saw dan para shahabat serta generasi terbaik Islam.
So, enjoy and keep read it in your sit !!

Aneh tapi nyata, sekaligus fenomenal, dalam satu sisi, suatu ummat yang berada di tengah2 peradaban besar dunia yang dibangun dalam hitungan abad, tiba2 dalam waktu singkat dapat bangkit dan mengungguli negara2 maju, kemudian tampil sebagi pemimpin konstelasi percaturan politik dunia. Bukan Arab, tapi kaum Muslim. Imperium Persia di sebelah timur dengan seluruh kejayaannya pernah menguasai wilayah yang sangat besar di dunia dan ditakuti karena pasukannya yang massif. Imperium Romawi terletak di sebelah barat dengan kekuatan pasukan yang tidak kalah luasnya dan sangat disegani.

Sementara ummat yang terletak diantara Persia dan Romawi, bangkit dalam waktu kurang dari 60 tahun mampu menempatkan diri sebagai pemimpin, bahkan pada akhirnya dapat menaklukkan Persia dan romawi dan kesejahteraan pada wilayahnya melebihi yang pernah diberikan oleh kedua imperium tersebut.

Kenapa pada satu sisi umat yang begitu mulainya dengan Islam, dan pada sisi lain dengan kondisi yang sama justru terpuruk. Dimana Islam pada satu masa dapat memberikan pencerahan dan harapan bagi seluruh umat manusia namun pada saat yang sama Islam di pandang rendah oleh ummat manusia. Padahal semuanya tidak ada yang berubah.

Jelas sudah, ada sesuatu dari Islam yang hilang. Seuatu dengan sengaja dihilangkan oleh orang2 yang tidak senang kepada Islam dengan segala daya dan upaya mereka. Sesuatu yang telah hilang inilah, yang akhirnya menimbulkan ketakutan (fobia) yang luarbiasa kaum Muslim terhadap islam. Sesuatu yang telah hilang ini, telah menjalarkan virus ketidakpercayaan dan ketakutan pengemban dakwah Islam untuk menyuarakan Islam. Sesuatu yang telah hilang ini pun mengakibatkan pemuda2 islam hidup tanpa tujuan yang jelas, mereka menjadi seorang ilmuwan tanpa agama dan menjadi ahli ibadah tanpa ilmu dunia, tertipu oleh paradigma berpikir yang diajukan oleh pemikir2 yang benci kepada islam. Ingin dunia tinggalkan agama dan agama tinggalkan dunia.

Sungguh, upaya dan daya dari orang2 dan kelompok yang tidak senang dengan Islam telah menemui keberhasilan mereka. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim bahwa agama Islam hanyalah ritual, sehingga mereka bisa lega dari ketakutan akan islam kaafah (ritual dan politis). Mereka telah berhasil membuat Al-Qur’an dan As-Sunah bukanlah satu-satunya sumber rujukan kaum Muslim tetapi hanya pilihan sehingga mereka bisa menjual standar, aturan dan nilai yang rendah kepada kaum Muslim.

Mereka telah berhasil membuat kaum muslim merasa takut, ketinggalan zaman ketika mempelajari Islam sehingga mereka dapat selamat dari ketakutan mereka, yaitu bersatunya kaum muslim dengan Islam kaaffah. Mereka berhasil membius kaum Muslim dengan budaya dan keindahan semu dunia sehingga mereka bisa tetap memeras kekayaan kaum Muslim. Mereka pun telah berhasil membuat kaum Muslim terpecah belah dengan oknum-oknum hasil didikan mereka sehingga mereka selamat dari kekuatan kaum muslim yang bersatu. Mereka berhasil membuat persepsi bahwa pengemban Islam adalah menakutkan dan tidak professional sehingga kaum Muslim yang belum mengerti justru berpaling menjauh dari dakwah Islam. (QS 2: 140).


Maybe it is right

That one’s who abandon reality is a dreamday
But who abandon their God because of reality
Is worse than daydreamer

Ifan obedience to Allah swt dan His messenger
Makes me called a fool, than I rather called a fool
Thatn to abandon Allah and his Messenger

After all, I definitely not daydreaming
But I am dreaming a day that definitely came
The day that today reality doesn't matter
because I have allah and Rasulullah promise!

Apa yang kita lihat pada diri orang lain dari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita dan mereka buat di masa lalu. Keadaan hidup kita di masa depan akan ditentukan oleh apa saja yang kita pilih saat ini. Sekarang pun sebenarnya kita sedang menulis kisah hidup kita sendiri di sebuah buku yang mempunyai judul dengan nama kita sendiri, dan saat ini pun kita sedang menuliskannya, setiap hari lembar demi lembar.

Kesungguhan dan keseriusan seseorang dalam mewujudkan keinginan masa depannya dapat dinilai dari pilihan-pilihan yang mereka buat saat ini. Kesungguhan adalah niat yang kuat dan tidak akan putus sebelum keinginannya tercapai. Keseriusan adalah melakukan aksi konkret yang relevan dengan besarnya keinginan. Apabila pilihan-pilihan yang dibuat adalah pilihan yang tidak berkorelasi dan tidak relevan dengan besarnya keinginan maka kita dapat menyimpulkan bahwa orang ini tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya.

Banyak orang yang tidak menyukai keberadaannya yang sekarang, mereka hanya membatasinya sampai pada keluhan, tanpa menyadari bahwa semua yang mereka keluhkan adalah hasil pilihan mereka sendiri. Artinya selama mereka tidak berubah maka keadaan tidak akan berubah..

One Time One Choice

Apabila kita memilih untuk fokus pada satu tujuan maka hambatannya tidak akan terasa, namun  apabila memilih untuk fokus di hambatan  maka tujuannya tidak akan mungkin tercapai..

Seorang yang visioner adalah orang yang mengubah fakta menjadi  agar sesuai dengan tujuannya, sedangkan orang yang pragmatis adalah orang yang mengubah tujuan sesuai dengan keadaan. Jelas kan bedanya? Muslim pun seperti itu, muslim yang visioner selalu diikuti dengan muslim yang pragmatis, yang menyerah dan berkompromi. Kita lihat presiden Palestine Mahmod Abbas yang berkompromi dengan musuh-musuh Islam. Hingga akhirnya ia kehilangan kepercayaan umat dan agamanya.
Orang yang tidak mengetahui tujuannya ada 2:
1.    Yang selalu mengeluh, merasa orang yang paling menderita
2.    Tidak istiqamah. Selalu membelokkan langkahnya mengikuti keadaan saat itu.
Rasulullah adalah orang yang visioner  (Fokus pada satu tujuan), terlihat ketika menjawab lobi yang dilakukan pamannya, Abu Thalib, “Demi Allah, seandainya./…. (HR Ibn Hisyam)

Hidup adalah pilihan, kalo kamu memilih satu maka kamu tidak dapat memilih yang lain.. tidak bisa memilih dua-duanya pada saat yang sama. Tidak ada konsep win-win solution dalam kebenaran dan kewajiban. Take it or leave it, konsep Islam sangat jelas. Haq atau Bathil. Tidak ada pertengahan
(QS. 3:85)

Ada pepatah yang mengatakan, “Jangan takut pada pendekar yang memiliki banyak jurus, tapi takutlah pada pendekar yangmemiliki satu jurus.” Dalam artian. “Orang yang menginginkan semuanya biasanya tidak mendapatkan semuanya”. Keahlian adalah kebiasaan yang dilakukan, sehingga orang yang mempunyai satu keahlian akan diperhitungkan…

With great Choice Comes Great Investment, Consequence & Risk

Mental kita seolah sudah dicuci dengan hal-hal yang berbau instan,. Seakan-akan resiko itu diperoleh tanpa investasi, padahal semakin besar risiko kita semakin besar pula pengorbanan dan investasi yang HARUS dilakukan. Hal yang paling menarik tentang konsekuensi dan risiko pilihan adalah fakta bahwa pilihan memiliki investasi wajib, yaitu  bahwa setiap pilihan mengonsumsi waktu. Dari seluruh sumberdaya yang ada inilah yang paling berharga karena dia tidak dapat dikembalikan dan diperbarui. Hal yang harus diingat adalah bahwa kita harus memilih pilihan-pilihan yang benar. Karena apabila salah memilih akan perlu dua kali lipat untuk memperbaikinya.

Biasa atau Istimewa?

Dalam hidup selalu ada dua pilihan. Orang istimewa pasti mendapatkan lebih banyak daripada yang didapatkan orang biasa. Yang istimewa lebih sedikit orangnya. Menjadi istimewa butuh pengorbanan, memerlukan kesabaran dan keteguhan. Istimewa berarti pusat perhatian, karena itulah istimewa mendapatkan balasan yang lebih. Sebaliknya, Al-Quran dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa kebanyakan manusia adalah fasik, tidak mengetahui dan tidak mengambil pelajaran. Kebanyakan manusia tidak berada dalam jalan kebenaran. Maka jagalah diri kita dari ‘golongan yang banyak’. Dan kebanyakan manusia memilih menjadi biasa karena lebih mudah. Sedikit yang mau menjalani jalan menuju Allah karena penuh dengan ujian.

Apakah anda Termasuk Istimewa?

So, which way will you choose?

Get The Guidance Easier.

“Allah menurunkan Islam untuk manusia yang telah dibekali dengan akal dan dengan akal itulah ada yang Mukmin dan ada yang kafir. Adapula hidayah dan kesesatan.
Keimanan adalah sebuah pilihan sadar dari manusia, pun kekufuran adalah sebuah pilihan sadar yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itulah, mereka akan dimintai pertanggung jawaban tentang imannya atau kufurnya. Surga pun adalah pilihan sebagaimana neraka juga adalah pilihan. Dalam peristiwa itulah, seorang Muslim harus menyibukkan dirinya, yaitu dalam perihal yang bisa mereka pilihan karena hal itu akan mereka pertanggungjawabkan. Kita harus menyadari secara penuh bahwa Allah Swt dan RasulNya tidak pernah meminta manusia untuk menyibukkan diri dengan perkara yang tidak dikuasainya, namun menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang dikuasainya.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian tidak pula kepada rupa kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati2 dan amal2 kalian.” (HR Bukhari Muslim)]
Niat dan amalan adalah sesuatu yang berada dalam kendali dan  pilihan manusia .. dia pun sadar bahwa pertolongan Allah dalam kebangkitan Islam adalah suatu kepastian, dan akan senantiasa berdakwah di jalan Allah dengan semangat dan dengan segenap kemapuan yang maksimal karena dia mengetahui bahwa amalnya yang akan dihisab, bukan hasilnya. Dia akan lebih bersemangat dalam mencari rezekinya di bumi Allah karena dia yakin bahwa rezekinya telah ditetapkan Allah. Selama dia berusaha dan belum sampai ajalnya, dia pasti akan mendapatkan jalan rezeki dari Nya karena memahami bahwa hanya Allah yang menghidupkan dan mematikan. Tidak akan mati suatu nyawa kecuali sudah sampai ajalnya. Dia akan lebih bijak menghadapi hidup ini, pandai bersyukur serta bersabar dalam perihal yang tidak mampu di kendalikan.

HIDAYAH PERLU REAL ACTION

Adalah sesuatu hal yang wajar apabila seseorang merasa ragu dalam menjalani hidayah yang Allah berikan kepada  kita, ada ketakutan2 yang selalu dibisikkan kepada diri kita sehingga kita meragukan petunjuk yang telah diberikan. Cara yang paling mudah untuk mengatasinya adalah segera take action! Ambil tindakan segera! Kemudahan dan taufikNya akan datang pada orang2 yang mengambil langkah nyata untuk menjalani hidayah Allah.

Sekelompok kaum Muslim lebih mengagung-agungkan dan mementingkan hafalan alquran dan cara membaca serta bagusnya pembacaan Alquran saja, lalu berhenti sampai disana. Mereka lupa bahwa ia adalah petunjuk, membacanya adalah sunnah, dan mengamalkannya adalah kewajiban. Namun, yang sekarang banyak difokuskan bukan pada pengamalannya. Maka wajarlah kalau umumnya kaum Muslim tidak pernah mencapai tujuan hidupnya karena petunjuk yang diberikan Allah hanya dijadikan sebagai hafalan dan bacaan tanpa ada pengamalan.

Singkatnya, jangan banyak berfikir dalam berbuat baik, namun pikirkanlah baik2 ketika kita akan berbuat maksiat kepada Allah. Fakta yang ada dalam mayarakat memang membuat kita menggelengkan kepala. Dalam menunaikan kebaikan, masyarakat cenderung berfikir sangat panjang, namun pendek pikirannya ketika berkaitan dengan keburukan.

Allah; Petunjuk dan Kesesatan..

Ada 3 golongan yang tidak akan Allah berikan petunjuk
1.    Kafir à yaitu terdiri dari golongan ahli kitab, dan golongan yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah (QS 98:6)
2.    Fasik à tidak mengindahkan perjanjian, mengingkari kesepakatan, dan menganggap remeh perintah Allah.
3.    Dzalim à mendustakan ayat2 Allah (memalsukan) dan mengingkari kebenaran

Hidayah dalam Alquran

Akal adalah karunia yang hanya diberikan Allah pada manusia, sekaligus menjadi suatu pertanda kelebihan manusia dibandingkan malaikat. Akal memiliki kemampuan untuk menghukumi fakta sesuai dengan cara berfikir tertentu, akal memiliki kemampuan untuk mempelajari sesuatu. Singkatnya, akal adalah syarat wajib yang diperlukan untuk mencapai keimanan.

“Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih Muslim)”

Sekali lagi yang menjadi sandaran bagikita seharusnya adalah perintah Rasulullah untuk beramal dan tidak berserah diri pada takdir sehingga tidak mau  memilih untuk beramal dalam hidupnya.    

Kepala yang bersujud ketika letih, tangan yang terangkat ketika penat bersusah dalam ketaatan dan kesabaran dalam dakwah hanyalah dimiliki oleh seseorang yang berkeyakinan : “Sesungguhnya kami berasal hanya dari Allah dan sesungguhnya hanya kepadaNya kami akan kembali”

Makna Syahadah

Dalam Islam bisa kita artikan sebagai pengakuan, kesaksian, kesepakatan akad janji, 
pengakuan, atau komitmen. Hal itu mengharuskan adaya sesuatu yang disaksikan dan disadari oleh seorang Muslm sehingga dia menjadi paham dan yakin bahwa sesungguhnya tidak ada yang perlu disembah, ditakuti dan dimintai pertolongan kecuali Allah. Syahadat seharusnya muncul dari pergolakan pemikiran bukan taklid karena seseorang yang taqlid, tidak akan menyadari bukti sehingga kesaksiannya menjadi kosong. Saya mengibaratkan kesaksian itu seperti pengakuan seorang atlet tinju kepada lawannya ketika dia sudah bertarung, lalu kalah maka dia akan menyadari bahwa dirinya lemah dibandingkan lawannya dan akan mengatakn “Saya akui dia memang hebat”. Namun, bila  lawannya belum kalah maka pengakuan itu akan tidak bermakna. 

Sama seperti kita, manusia yang memang telah bertarung dan membuktikan keMahaan Allah akan mengakui kehebatan Allah dan pada saat yang sama akan menyadari kelemahan-kelemahan dan semua keterbatasan dirinya di hadapan Allah. Pengakuan inilah yang disebut syahadat.

Sebagaimana dalam dunia pemrograman komputer, kita mengenal angka 1 dan 0 sebgai basis penyusunan seluruh bahasa kommputerisasi. Komposisi semua program dibangun atas angka 1 tidak ada di tengah-tengahnya. Angka 1-0 inilah yang dalam keimanan seorang muslim hanya ada 1 atau 0. Angka 1-0 inilah syahadat sempurna yang menghasilkan ruh sebagai kesadaran. 0 adalah lambaang keterbatasan, kepasrahan, ketundukan, ketidaktahuan, kealpaan, kelemahan, dan ketidakpunyaan dan itulah lambang manusia ketika dia melihat jauh ke dalam dirinya. Sedangkan angka 1 adalah lambang kesempurnaan, kekuatan, keperkasaan, kebaikan dan keseluruhan. Seseorang dikatakan sempurna syahadatnya apabila dia berhasil men-1 kan Allah secara totalitas dalam hidupnya dan men-0 kan diri sendiri.

1 adalah Allah, kesombongan adalah pakaianNya. Kekayaan dan seluruh benda yang ada di langit maupun dibumi adalah kepunyaanNya. Kasih sayang dan cinta yang ada di dunia adalah milikNya dan Dialah yang menurunkannya untuk manusia.
0 adalah manusia, makhluk yang sangat terbatas, makhluk yang sangat hina dan tidak memiliki apapun selain yang dipinjamkan kepadanya. Manusia merasa memiliki sesuatu padahal dia sama sekali tidak memilikinya. Manusia seringkali merasa dia akan hidup selamanya padahal setiap detik, kematian akan semakin dekat kepadanya. Manusia kadang merasa sombong padahal dia tidak memiliki apapun untuk disombongkan. Manusia bisa merasa dirinya patut dimuliakan padahal dia adalah setetes mani yang dikeluarkan dari kemaluan. Manusia boleh merasa bahwa dirinya dan hanya dirinya yang menyebabkan dia mencapai suatu hasil dan merasa hebat, padahal Allah mampu menariknya  kapan saja Dia mau dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa Alllah yang menutupi seluruh aibnya. Sekali lagi, bila kita benar-benar berpikir tentang manusia itu sendiri maka kita pasti menyadari bahwa manusia terbatas dan lemah.
Inilah sunnatullah, bahwa manusia 0 dan Allah 1. Namun yang seringkali terjadi adalah manusia tidak menjadi 0 dan konsekuensinya Allah tidak menjadi 1. Ketika manusia mengambil sifat2 Allah maka dalam perspektif syahadat sempurna nilai 1 pada Allah akan berkurang, dan dirinya tidak akan merasa 0 sehingga orang tersebut tidak akan pernah mendapatkan syahadat yang sempurna. Dalam prakteknya, seseorang tidak merasa 0 pasti merasa dirinya bia menyaingi Allah atau bahkan lebih hebat daripada Allah.

Seringkali keimanan seseorang menjadi tidak sempurna ketika tanpa sadar, dia mengambil sesembahan selain Allah dan menjadikan sesembahan itu sebagai tandingan Allah. Ketika seseorang merasa bahwa kekayaan dapat melindunginya dan dapat membantunya maka dia akan menjadi sangat bakhil dan kikir dengan kekayaannya, dia merasa bisa menyelesaikan segala Sesuatu dengan uang dan akhirnya dia akan menjauh dari Allah, tidak bergantung kepada Allah melainkan kepada hartanya. Saat seseorang merasa pintar dan ahli, lantas dia merasa akalnya dapat menentukan yang mana yang benar dan mana yang salah maka dia menentukan sendiri hokum baginya dan bagi orang lain, dan pada saat yang sama, dia tidak akan pernah merujuk kepada Allah dalam segala perbuatan hidupnya. Pada saat seseorang merasa bahwa pasangan hidup dan anaknya penting dan menyayangi keduanya lebih daripada dia menyayangi Allah, pada saat yang sama pula, dia mengambil hak Allah. Apabila seseorang merasa kematian bukan datang karena ajal dari Alllah maka dia sangat menyayangi kehidupan dunia dan akhirnya dia menjauh dari perintah2 Allah untuk berjuang di jalan Islam yang dianggapnya penuh resiko. Ketika seorang wanita merasa kecantikannya bisa menjadi ‘modal’ hidupnya maka dia merasa kecantikannya adalah sesuatu yang harus dikagumi banyak orang dia akan mengumbar auratnya, dia merasa ridha Allah tidak cukup baginya sehingga dia harus mencari ridha manusia.

Padahal, berapa banyak kita melihat orang2 yang menggantukan dirinya kepada selain Allah yang hancur, baik dari masa kita ataupun belajar dari kelakuan manusia yang tidak me-nol-kan dirinya pada masa lalu. Pada saat gempa bumi terjadi, manusia baru menyadari bahwa bangunan yang mereka kira sebagai tempat yang mampu melindungi mereka, justru menjadi ancaman terbesar bagi mereka. Pada saat tsunami terjadi, masyarakat baru menyadari bahwa keindahan pantai dan laut seta seluruh ikan-ikan yang mereka jadikan sumber nafkah, ternyata menjadi mimpi buruk bagi mereka. Pada saat anak mereka membentak dan berbuat buruk atau terkena jerat narkoba maka manusia baru menyadari bawha uang yang selama ini mereka kira sebagai penyelamat justru telah membuat anak kesayangan mereka menjadi musuh yang menakutkan. Pada saat kematian mendatangi manusia, kita bisa melihat bahwa harta benda menjadi sumber perselisihan yang luar biasa. Pada saat usia lanjut telah tiba, manusia akan menyadari bahwa tulang dan daging yang selama ini mereka bangggakan dan mereka gunakan untuk membuatnya hidupnya lebih bahagia, ternyata kini menjadi beban dalam hidupnya. Berbagai penyakit bermunculan merepotkan dirinya.
(QS 19:81-82)

Syahadat effek

Muslim yang mengucapkan syahadatain sangat bervariasi dalam menjalankan amanahnya. Efek syahadat dalam kehidupan mereka bermacam2. Ada yang telah mengucapkan syahadatain, lalu dia tetap bermaksiat dan tidak kaaffah di dalam keislamannya. Namun, ada pula yang telah mengucapkan syahadatain lalu dia semangat dan kaaffah dalah keislamannya. Seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat seharusnya memiliki kesadaran dengan kalimat syahadat itu, dia terhubungkan dengan Allah sebgai Tuhannya, yang melihat dan mengawasi setiap perbuatannya. Inilah yang disebut dengan ruh yang merupakan sebuah kesadaran manusia akan hubungannya dengan Allah, yang selalu melihat dan mengawasinya. Apabila setelah bersyahadat, ruh ini tidak terbentuk pada diri seorang Muslim maka dipastikan kemaksiatan dan kemalasan untuk taat kepada Allah akan menjadi pilihan hidupnya.

Untuk mendapatkan ruh dalam syahadat kita dan menjadikan syahadat kita sempurna, marilah kita ambil pelajaran dari Umar RA, seorang yang sangat berbeda sifatnya sebelum dan setelah mengucapkan syahadatain. Sebelum bersyahadat, umar adalah seseroang yang sangat memusuhi Islam, bahkan ingin membunuh Rasulullah. Keislaman Umar sangat luar biasa, kadia sedang mendobrak rumah adiknya, Fathimah Binti Khatab yang sedang belajar membaca alQuran, Umar membukan al Quran lalu membaca surah Thaha ayat 1-14. Jiwanya semakin terguncang sekaligus terpeseona akan keindahan ayat-ayatNya saat membaca ayat 14.

Membaca 14 ayat itu, Umar RA lalu ‘membaca’, berpikir dan mendalami isi ayat2 terebut. Dengan kecerdasan yang dimilikinya, beliau sangat memahami bahwa apa yang barusan dibacanya tidak mungin berasal dari manusia, melainkan dari Tuhan pencipta semesta alam. Oleh Karena itu, Umar pun segera berucap “Betapa indah dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad?”

Setelah dipertemukan dengan Rasuullullah saw Umar pun masuk Islam dan mengucapkan dua kalimah syahadat. Setelah itu, beliau berubah mejandi pembela islam, pembela Rasulullah dan pembela Allah. Sangat kontradiktif sekali dan berbdeda,
Inilah yang dicontohkan sebagai syahadat yang sempurna. Dalam kisah yang sangat masyhur tentang Nabi Ibrahim ketika dalam perjalannya menemukan syahadat yang sempurna, kita juga dapat menarik pelajaran yang sama tentang fungsi akan pikiran dalam syahadat. Sebelum menemukan Allah, Nabi Ibrahim adalah seorang anak muda yang hidup di tengah kebatilan masyarakat yang sangat terbiasa menyembah keapda patung berhala. Namun, karena kecerdasan berpikirnya, nabi Ibrahim menemukan Tuhan yang benar-benar layak untuk disembah.

Terbatasnya aturan manusia

Demokrasi adalah contoh sistem yang seringkali ditawarkan bagi manusia modern untuk menentukan aturan bagi manusia, dna mengatur kehidupan dengan sistem ini.
Sama halnya seperti aturan buatan manusia yang lain, demokrasi juga menampakkan keterbatasan bahkan justru kerusakan dalam masyarakat. Alih-alih menyuarakan suara rakyat dengan mewakilkan sejumlah orang teetentu untuk duduk di kursi wakil rakyat dan menyampaikan suara rakyat utnuk diterapkan pemerintah, demokrasi malah sering menjadi alat legitimasi bagi wakil rakyat untuk memaksakan kehendak mereka kepada rakyat. Alasan suara terbanyak telah melegalisasi setiap hukum yang bahkan tidak pernah masyarakat setuju dan sepakati. Mampu menentukan standar baik-buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain: sistem demokrasi!

Setidaknya hukum yang dibuat manusia selalu menghasilkan kerusakan yang dapat kita lihat pada dua perkara:
1.    Kehancuran kehidupan. Dalam segala bidang, dalam bidang politik, lahir tatanan politik imperial, eksploitasi bangsa dan perbudakan atas umat manusia
2.    Kerusakan alam. Tatanan kehidupan manusia itu juga menyebabkan kerusakan alam. Hutan dibabat semena-mena dan HPH hanya diperuntukkan oleh segelintir orang atau kelompok untuk mengeksploitasi, sedangkan masyarakat yang ingin memanfaatkan akan ditangkap. Gunung berubah menjadi danau akibat penambangan yang tidak bertanggung jwab. Pulau2 kecil tenggelam karena pasirnya disedot untuk reklamasi atau dijual ke negeri lain. Lautan porak-poranda akibat bom untuk menangkap ikan, airnya dicemari oleh berbagai limbah pabrik yang tidak diolah. Gunung digunduli diambil kayunya, banjir pun meluluhlantakkan berbagai desa dan kota.

Semua itu adalah pengelolaan alam ala sistem kapitalisme buatan manusia yang menyalahi fitrah manusia itu sendiri.
Sistem ekomoni ala kapitalisme:
Sukses membuat dunia terpisah menjadi 2 kutub dimana satu kutub bertahan hidup melawan obesitas dan kutub lainnya bertahan melawan mal nutrisi sistem inilah yang bertanggung jwab kepada kehancuran dunia
Kita perlu memahami bahwa peran aturan Allah secara mutlak ini hanya dimungkinkan dalam sitem yang mengakomodasi peraturan Allah (syariah), yakni tidak lain adalah sistem Islam itu sendiri. Dalam pandangan islam, Rasul tidak hanya menjadi pemimpin spiritual dan memberikan contoh  dalam masalah ritual saja. Melainkan juga pemimpin duniawi dan mengatur urusan-urusan politis. Karena alasan inilah, Michael Hart memposisikan Muhammad saw sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh sepanjang masa. Sistem kepemimpinan satu untuk seluruh manusia ini dikenal sejarah dengan nama khalifah. Apada kepemimpinan inilah Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Umar Bin Abdul Aziz, Sulaiman Al-Qanuqi memimpin. Maka wajarlah Abu Alhamid AlGhazali melukiskan pentingnya syariah Islam dan kepemimpinan yang menjaganya agar diterapkan dalam suatu kalimat yang beliau tuliskan dalam buku beliau:
“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agamamu kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama bagaikan saudara kembar; agama merupakan pondasi dan penguasanya adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.

Diskusi yang menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah, para sahabat adalah kaum yang sangat paham dengan berbagai peristiwa politik yang terjadi di dunia dan sudah biasa melakukan analisa politik akan keberadaan negara2 di dunia. Para sahabat pun adalah kaum yang sangat visioner. Hal ini ditunjukkan dengan cara bertanya mereka pada rasul, “manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Kejelian merka dalam memilih pertanyaan “yang mana yang lebih dulu” bukan “mungkinkah bisa” mmberitahu kita bahwa bagi para sahabat, penaklukkan Romawi Barat yang dilambangkan dengan Roma dan Romawi Timur yang dilambangkan dengan Konstantinopel adalah suatu kepastian karena Allah telah menjanjikan.
Dalam hal ini pula, Rasulullah adalah seorang yang sangat piawai dalam kepemimpinan, dengan membiasakan para sahabat berpikir besar dan global dan tidak meremehkan hal-hal kecil. Rasulullah menjawab “Kota Heraklius terlebih dahulu”. Jawaban Rasul ini menunjukkan keberanian dan visi yang diemban oleh seorang utusan Allah. Rasul tidak mengatakan bahwa menaklukkan Konstantinopel afalah angan2 atau sesuatu yang masih jauh kejadiannya. Namun Rasul malah membakar visi para sahabat dengan kabar gembiranya.

Akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan serta apapun yang ada sebelumnya dan sesudahnya. Diyakini dan diterima 100% dengan akal dan hati dan berdasarkan argumen yang kuat.

Syahadat adalah pintu antara muslim dan kafir syahadat seharusnya menghasilkan perubahan bagi pelakunya. Bila manusia tidak mengetahui keterbatasan dan kelemahan dirinya maka syahadat ini akan menjadi syahadat palsu semakin pintar seorang mukmin maka ia akan menyadari bahwa dia sangat lemah dan Allah-lah yang maha kuat.

Janji Allah bagaikan peneduh ditengah teriknya ujian dan tantangan dakwah Bisyarah Rasulullah saw bagaikan mataair di tengah kekeringan harapan akan makian manusia. Keyakinan akan janji Allah dan RasulNya adalah inspirasi terbesar bagi setiap insan yang merindukan kebangkitan Islam karena bagi mereka, hanya Allah dan RasulNya yang benar dan selain itu hanyalah fatamorgana kehidupan”.

Jadikanlah engkau di dunia ini seperti seorang asing atau bahkan seperti sekadar orang yang lewat.  (HR Bukhari)

“Jika hidup ini singkat dan melenakan. Jika allah menjanjikan surga beserta kenikmatannya. Jika akhirat betul-betul lebih daripada dunia. Jika ibadah yang akan kita lakukan adalah yang terakhir kalinya maka seperti apa kita akan mejalaninya?...

Referensi :

Yanuwar, Felix Siauw. 2010. Beyond The Inspiration. Jakarta : Khilafah Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar