Imperium
Persia terbentang seluas 7.400.000 km2 di sebelah timur dengan
peradaban yang telah dibangun selama 1173 tahun. Sementara di sebelah barat
terbentang imperium Romawi seluas 5.000.000 km2 yang telah dibangun
selama 650 tahun. Di antara keduanya, muncul satu peradaban yang kelak akan
membebaskan kedua imperium dan peradaban tadi.
Pada
651 imperium Persia dibebaskan di tangan kaum Muslim dan menyusul imperium
Romawi yang dibebaskan pada 1453. Islam lalu menyatukan kedua imperium dan meluaskan
wilayahnya hingga mencapai 20.000.000 km2 dan memberikan
kesejahteraan melebihi apa yang pernah diberikan kedua imperium sebelumnya.
Mengapa
ada satu masa dimana Islam dapat menjadi inspirasi dan motivasi yang menjadikan
pengembannya mulia dan tinggi namun, pada masa yang lain, justru menampakkan
ummat dengan karakter yang berbeda?
Pertanyaan
“Why”? inilah yang akan mengungkap suatu rahasia yang dipegang oleh Rasulullah
saw dan para shahabat serta generasi terbaik Islam.
So, enjoy and
keep read it in your sit !!
Aneh
tapi nyata, sekaligus fenomenal, dalam satu sisi, suatu ummat yang berada di
tengah2 peradaban besar dunia yang dibangun dalam hitungan abad, tiba2 dalam
waktu singkat dapat bangkit dan mengungguli negara2 maju, kemudian tampil sebagi
pemimpin konstelasi percaturan politik dunia. Bukan Arab, tapi kaum Muslim.
Imperium Persia di sebelah timur dengan seluruh kejayaannya pernah menguasai
wilayah yang sangat besar di dunia dan ditakuti karena pasukannya yang massif.
Imperium Romawi terletak di sebelah barat dengan kekuatan pasukan yang tidak
kalah luasnya dan sangat disegani.
Sementara
ummat yang terletak diantara Persia dan Romawi, bangkit dalam waktu kurang dari
60 tahun mampu menempatkan diri sebagai pemimpin, bahkan pada akhirnya dapat
menaklukkan Persia dan romawi dan kesejahteraan pada wilayahnya melebihi yang
pernah diberikan oleh kedua imperium tersebut.
Kenapa
pada satu sisi umat yang begitu mulainya dengan Islam, dan pada sisi lain
dengan kondisi yang sama justru terpuruk. Dimana Islam pada satu masa dapat
memberikan pencerahan dan harapan bagi seluruh umat manusia namun pada saat
yang sama Islam di pandang rendah oleh ummat manusia. Padahal semuanya tidak ada
yang berubah.
Jelas
sudah, ada sesuatu dari Islam yang hilang. Seuatu dengan sengaja dihilangkan
oleh orang2 yang tidak senang kepada Islam dengan segala daya dan upaya mereka.
Sesuatu yang telah hilang inilah, yang akhirnya menimbulkan ketakutan (fobia)
yang luarbiasa kaum Muslim terhadap islam. Sesuatu yang telah hilang ini, telah
menjalarkan virus ketidakpercayaan dan ketakutan pengemban dakwah Islam untuk
menyuarakan Islam. Sesuatu yang telah hilang ini pun mengakibatkan pemuda2 islam
hidup tanpa tujuan yang jelas, mereka menjadi seorang ilmuwan tanpa agama dan
menjadi ahli ibadah tanpa ilmu dunia, tertipu oleh paradigma berpikir yang
diajukan oleh pemikir2 yang benci kepada islam. Ingin dunia tinggalkan agama
dan agama tinggalkan dunia.
Sungguh,
upaya dan daya dari orang2 dan kelompok yang tidak senang dengan Islam telah
menemui keberhasilan mereka. Mereka telah berhasil membuat kaum muslim bahwa
agama Islam hanyalah ritual, sehingga mereka bisa lega dari ketakutan akan
islam kaafah (ritual dan politis). Mereka telah berhasil membuat Al-Qur’an dan As-Sunah bukanlah satu-satunya sumber rujukan kaum Muslim tetapi
hanya pilihan sehingga mereka bisa menjual standar, aturan dan nilai yang
rendah kepada kaum Muslim.
Mereka
telah berhasil membuat kaum muslim merasa takut, ketinggalan zaman ketika
mempelajari Islam sehingga mereka dapat selamat dari ketakutan mereka, yaitu
bersatunya kaum muslim dengan Islam kaaffah. Mereka berhasil membius kaum
Muslim dengan budaya dan keindahan semu dunia sehingga mereka bisa tetap
memeras kekayaan kaum Muslim. Mereka pun telah berhasil membuat kaum Muslim
terpecah belah dengan oknum-oknum hasil didikan mereka sehingga mereka selamat
dari kekuatan kaum muslim yang bersatu. Mereka berhasil membuat persepsi bahwa
pengemban Islam adalah menakutkan dan tidak professional sehingga kaum Muslim
yang belum mengerti justru berpaling menjauh dari dakwah Islam. (QS 2: 140).
Maybe it is
right
That one’s who
abandon reality is a dreamday
But who abandon
their God because of reality
Is worse than
daydreamer
Ifan obedience
to Allah swt dan His messenger
Makes me called
a fool, than I rather called a fool
Thatn to
abandon Allah and his Messenger
After all, I
definitely not daydreaming
But I am
dreaming a day that definitely came
The day that
today reality doesn't matter
because I have
allah and Rasulullah promise!
Apa
yang kita lihat pada diri orang lain dari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan
yang kita dan mereka buat di masa lalu. Keadaan hidup kita di masa depan akan
ditentukan oleh apa saja yang kita pilih saat ini. Sekarang pun sebenarnya kita
sedang menulis kisah hidup kita sendiri di sebuah buku yang mempunyai judul
dengan nama kita sendiri, dan saat ini pun kita sedang menuliskannya, setiap
hari lembar demi lembar.
Kesungguhan
dan keseriusan seseorang dalam mewujudkan keinginan masa depannya dapat dinilai
dari pilihan-pilihan yang mereka buat saat ini. Kesungguhan adalah niat yang
kuat dan tidak akan putus sebelum keinginannya tercapai. Keseriusan adalah
melakukan aksi konkret yang relevan dengan besarnya keinginan. Apabila
pilihan-pilihan yang dibuat adalah pilihan yang tidak berkorelasi dan tidak
relevan dengan besarnya keinginan maka kita dapat menyimpulkan bahwa orang ini
tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya.
Banyak
orang yang tidak menyukai keberadaannya yang sekarang, mereka hanya
membatasinya sampai pada keluhan, tanpa menyadari bahwa semua yang mereka
keluhkan adalah hasil pilihan mereka sendiri. Artinya selama mereka tidak
berubah maka keadaan tidak akan berubah..
One Time One
Choice
Apabila
kita memilih untuk fokus pada satu tujuan maka hambatannya tidak akan terasa,
namun apabila memilih untuk fokus di
hambatan maka tujuannya tidak akan
mungkin tercapai..
Seorang
yang visioner adalah orang yang mengubah fakta menjadi agar sesuai dengan tujuannya, sedangkan orang
yang pragmatis adalah orang yang mengubah tujuan sesuai dengan keadaan. Jelas
kan bedanya? Muslim pun seperti itu, muslim yang visioner selalu diikuti dengan
muslim yang pragmatis, yang menyerah dan berkompromi. Kita lihat presiden
Palestine Mahmod Abbas yang berkompromi dengan musuh-musuh Islam. Hingga
akhirnya ia kehilangan kepercayaan umat dan agamanya.
Orang
yang tidak mengetahui tujuannya ada 2:
1.
Yang
selalu mengeluh, merasa orang yang paling menderita
2.
Tidak
istiqamah. Selalu membelokkan langkahnya mengikuti keadaan saat itu.
Rasulullah adalah orang yang
visioner (Fokus pada satu tujuan),
terlihat ketika menjawab lobi yang dilakukan pamannya, Abu Thalib, “Demi Allah,
seandainya./…. (HR Ibn Hisyam)
Hidup
adalah pilihan, kalo kamu memilih satu maka kamu tidak dapat memilih yang
lain.. tidak bisa memilih dua-duanya pada saat yang sama. Tidak ada konsep win-win solution dalam kebenaran dan
kewajiban. Take it or leave it,
konsep Islam sangat jelas. Haq atau Bathil. Tidak ada pertengahan
(QS.
3:85)
Ada
pepatah yang mengatakan, “Jangan takut pada pendekar yang memiliki banyak
jurus, tapi takutlah pada pendekar yangmemiliki satu jurus.” Dalam artian. “Orang
yang menginginkan semuanya biasanya tidak mendapatkan semuanya”. Keahlian
adalah kebiasaan yang dilakukan, sehingga orang yang mempunyai satu keahlian
akan diperhitungkan…
With great
Choice Comes Great Investment, Consequence & Risk
Mental
kita seolah sudah dicuci dengan hal-hal yang berbau instan,. Seakan-akan resiko
itu diperoleh tanpa investasi, padahal semakin besar risiko kita semakin besar
pula pengorbanan dan investasi yang HARUS dilakukan. Hal yang paling menarik
tentang konsekuensi dan risiko pilihan adalah fakta bahwa pilihan memiliki
investasi wajib, yaitu bahwa setiap
pilihan mengonsumsi waktu. Dari seluruh sumberdaya yang ada inilah yang paling
berharga karena dia tidak dapat dikembalikan dan diperbarui. Hal yang harus
diingat adalah bahwa kita harus memilih pilihan-pilihan yang benar. Karena
apabila salah memilih akan perlu dua kali lipat untuk memperbaikinya.
Biasa atau
Istimewa?
Dalam
hidup selalu ada dua pilihan. Orang istimewa pasti mendapatkan lebih banyak
daripada yang didapatkan orang biasa. Yang istimewa lebih sedikit orangnya. Menjadi
istimewa butuh pengorbanan, memerlukan kesabaran dan keteguhan. Istimewa
berarti pusat perhatian, karena itulah istimewa mendapatkan balasan yang lebih.
Sebaliknya, Al-Quran dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa kebanyakan
manusia adalah fasik, tidak mengetahui dan tidak mengambil pelajaran.
Kebanyakan manusia tidak berada dalam jalan kebenaran. Maka jagalah diri kita
dari ‘golongan yang banyak’. Dan kebanyakan manusia memilih menjadi biasa
karena lebih mudah. Sedikit yang mau menjalani jalan menuju Allah karena penuh
dengan ujian.
Apakah anda
Termasuk Istimewa?
So, which way
will you choose?
Get The Guidance
Easier.
“Allah
menurunkan Islam untuk manusia yang telah dibekali dengan akal dan dengan akal
itulah ada yang Mukmin dan ada yang kafir. Adapula hidayah dan kesesatan.
Keimanan
adalah sebuah pilihan sadar dari manusia, pun kekufuran adalah sebuah pilihan
sadar yang dilakukan oleh manusia. Oleh karena itulah, mereka akan dimintai
pertanggung jawaban tentang imannya atau kufurnya. Surga pun adalah pilihan sebagaimana
neraka juga adalah pilihan. Dalam peristiwa itulah, seorang Muslim harus
menyibukkan dirinya, yaitu dalam perihal yang bisa mereka pilihan karena hal
itu akan mereka pertanggungjawabkan. Kita harus menyadari secara penuh bahwa
Allah Swt dan RasulNya tidak pernah meminta manusia untuk menyibukkan diri
dengan perkara yang tidak dikuasainya, namun menyibukkan diri dengan
perkara-perkara yang dikuasainya.
“Sesungguhnya
Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian tidak pula kepada rupa kalian,
akan tetapi Dia melihat kepada hati2 dan amal2 kalian.” (HR Bukhari Muslim)]
Niat
dan amalan adalah sesuatu yang berada dalam kendali dan pilihan manusia .. dia pun sadar bahwa
pertolongan Allah dalam kebangkitan Islam adalah suatu kepastian, dan akan
senantiasa berdakwah di jalan Allah dengan semangat dan dengan segenap kemapuan
yang maksimal karena dia mengetahui bahwa amalnya yang akan dihisab, bukan hasilnya.
Dia akan lebih bersemangat dalam mencari rezekinya di bumi Allah karena dia
yakin bahwa rezekinya telah ditetapkan Allah. Selama dia berusaha dan belum
sampai ajalnya, dia pasti akan mendapatkan jalan rezeki dari Nya karena
memahami bahwa hanya Allah yang menghidupkan dan mematikan. Tidak akan mati
suatu nyawa kecuali sudah sampai ajalnya. Dia akan lebih bijak menghadapi hidup
ini, pandai bersyukur serta bersabar dalam perihal yang tidak mampu di
kendalikan.
HIDAYAH PERLU
REAL ACTION
Adalah
sesuatu hal yang wajar apabila seseorang merasa ragu dalam menjalani hidayah
yang Allah berikan kepada kita, ada
ketakutan2 yang selalu dibisikkan kepada diri kita sehingga kita meragukan
petunjuk yang telah diberikan. Cara yang paling mudah untuk mengatasinya adalah
segera take action! Ambil tindakan segera!
Kemudahan dan taufikNya akan datang pada orang2 yang mengambil langkah nyata
untuk menjalani hidayah Allah.
Sekelompok
kaum Muslim lebih mengagung-agungkan dan mementingkan hafalan alquran dan cara
membaca serta bagusnya pembacaan Alquran
saja, lalu berhenti sampai disana. Mereka lupa bahwa ia adalah petunjuk,
membacanya adalah sunnah, dan mengamalkannya adalah kewajiban. Namun, yang
sekarang banyak difokuskan bukan pada pengamalannya. Maka wajarlah kalau
umumnya kaum Muslim tidak pernah mencapai tujuan hidupnya karena petunjuk yang
diberikan Allah hanya dijadikan sebagai hafalan dan bacaan tanpa ada
pengamalan.
Singkatnya,
jangan banyak berfikir dalam berbuat baik, namun pikirkanlah baik2 ketika kita
akan berbuat maksiat kepada Allah. Fakta yang ada dalam mayarakat memang
membuat kita menggelengkan kepala. Dalam menunaikan kebaikan, masyarakat
cenderung berfikir sangat panjang, namun pendek pikirannya ketika berkaitan
dengan keburukan.
Allah; Petunjuk
dan Kesesatan..
Ada
3 golongan yang tidak akan Allah berikan petunjuk
1.
Kafir
à yaitu terdiri dari golongan
ahli kitab, dan golongan yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah (QS
98:6)
2.
Fasik
à tidak mengindahkan
perjanjian, mengingkari kesepakatan, dan menganggap remeh perintah Allah.
3.
Dzalim
à mendustakan ayat2 Allah
(memalsukan) dan mengingkari kebenaran
Hidayah dalam
Alquran
Akal
adalah karunia yang hanya diberikan Allah pada manusia, sekaligus menjadi suatu
pertanda kelebihan manusia dibandingkan malaikat. Akal memiliki kemampuan untuk
menghukumi fakta sesuai dengan cara berfikir tertentu, akal memiliki kemampuan
untuk mempelajari sesuatu. Singkatnya, akal adalah syarat wajib yang diperlukan
untuk mencapai keimanan.
“Adapun
orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, dan membenarkan adanya
pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah
dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala
yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (Shahih
Muslim)”
Sekali
lagi yang menjadi sandaran bagikita seharusnya adalah perintah Rasulullah untuk
beramal dan tidak berserah diri pada takdir sehingga tidak mau memilih untuk beramal dalam hidupnya.
Kepala yang
bersujud ketika letih, tangan yang terangkat ketika penat bersusah dalam
ketaatan dan kesabaran dalam dakwah hanyalah dimiliki oleh seseorang yang berkeyakinan
: “Sesungguhnya kami berasal hanya dari Allah dan sesungguhnya hanya kepadaNya
kami akan kembali”
Makna Syahadah
Dalam
Islam bisa kita artikan sebagai pengakuan, kesaksian, kesepakatan akad janji,
pengakuan, atau komitmen. Hal itu mengharuskan adaya sesuatu yang disaksikan
dan disadari oleh seorang Muslm sehingga dia menjadi paham dan yakin bahwa
sesungguhnya tidak ada yang perlu disembah, ditakuti dan dimintai pertolongan
kecuali Allah. Syahadat seharusnya muncul dari pergolakan pemikiran bukan
taklid karena seseorang yang taqlid, tidak akan menyadari bukti sehingga
kesaksiannya menjadi kosong. Saya mengibaratkan kesaksian itu seperti pengakuan
seorang atlet tinju kepada lawannya ketika dia sudah bertarung, lalu kalah maka
dia akan menyadari bahwa dirinya lemah dibandingkan lawannya dan akan mengatakn
“Saya akui dia memang hebat”. Namun, bila
lawannya belum kalah maka pengakuan itu akan tidak bermakna.
Sama
seperti kita, manusia yang memang telah bertarung dan membuktikan keMahaan
Allah akan mengakui kehebatan Allah dan pada saat yang sama akan menyadari
kelemahan-kelemahan dan semua keterbatasan dirinya di hadapan Allah. Pengakuan
inilah yang disebut syahadat.
Sebagaimana
dalam dunia pemrograman komputer, kita mengenal angka 1 dan 0 sebgai basis
penyusunan seluruh bahasa kommputerisasi. Komposisi semua program dibangun atas
angka 1 tidak ada di tengah-tengahnya. Angka 1-0 inilah yang dalam keimanan
seorang muslim hanya ada 1 atau 0. Angka 1-0 inilah syahadat sempurna yang
menghasilkan ruh sebagai kesadaran. 0 adalah lambaang keterbatasan, kepasrahan,
ketundukan, ketidaktahuan, kealpaan, kelemahan, dan ketidakpunyaan dan itulah
lambang manusia ketika dia melihat jauh ke dalam dirinya. Sedangkan angka 1
adalah lambang kesempurnaan, kekuatan, keperkasaan, kebaikan dan keseluruhan.
Seseorang dikatakan sempurna syahadatnya apabila dia berhasil men-1 kan Allah
secara totalitas dalam hidupnya dan men-0 kan diri sendiri.
1
adalah Allah, kesombongan adalah pakaianNya. Kekayaan dan seluruh benda yang
ada di langit maupun dibumi adalah kepunyaanNya. Kasih sayang dan cinta yang
ada di dunia adalah milikNya dan Dialah yang menurunkannya untuk manusia.
0
adalah manusia, makhluk yang sangat terbatas, makhluk yang sangat hina dan
tidak memiliki apapun selain yang dipinjamkan kepadanya. Manusia merasa
memiliki sesuatu padahal dia sama sekali tidak memilikinya. Manusia seringkali
merasa dia akan hidup selamanya padahal setiap detik, kematian akan semakin
dekat kepadanya. Manusia kadang merasa sombong padahal dia tidak memiliki
apapun untuk disombongkan. Manusia bisa merasa dirinya patut dimuliakan padahal
dia adalah setetes mani yang dikeluarkan dari kemaluan. Manusia boleh merasa
bahwa dirinya dan hanya dirinya yang menyebabkan dia mencapai suatu hasil dan
merasa hebat, padahal Allah mampu menariknya
kapan saja Dia mau dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa Alllah yang
menutupi seluruh aibnya. Sekali lagi, bila kita benar-benar berpikir tentang
manusia itu sendiri maka kita pasti menyadari bahwa manusia terbatas dan lemah.
Inilah
sunnatullah, bahwa manusia 0 dan Allah 1. Namun yang seringkali terjadi adalah
manusia tidak menjadi 0 dan konsekuensinya Allah tidak menjadi 1. Ketika
manusia mengambil sifat2 Allah maka dalam perspektif syahadat sempurna nilai 1
pada Allah akan berkurang, dan dirinya tidak akan merasa 0 sehingga orang
tersebut tidak akan pernah mendapatkan syahadat yang sempurna. Dalam
prakteknya, seseorang tidak merasa 0 pasti merasa dirinya bia menyaingi Allah
atau bahkan lebih hebat daripada Allah.
Seringkali
keimanan seseorang menjadi tidak sempurna ketika tanpa sadar, dia mengambil
sesembahan selain Allah dan menjadikan sesembahan itu sebagai tandingan Allah.
Ketika seseorang merasa bahwa kekayaan dapat melindunginya dan dapat
membantunya maka dia akan menjadi sangat bakhil dan kikir dengan kekayaannya,
dia merasa bisa menyelesaikan segala Sesuatu dengan uang dan akhirnya dia akan menjauh
dari Allah, tidak bergantung kepada Allah melainkan kepada hartanya. Saat
seseorang merasa pintar dan ahli, lantas dia merasa akalnya dapat menentukan
yang mana yang benar dan mana yang salah maka dia menentukan sendiri hokum
baginya dan bagi orang lain, dan pada saat yang sama, dia tidak akan pernah
merujuk kepada Allah dalam segala perbuatan hidupnya. Pada saat seseorang
merasa bahwa pasangan hidup dan anaknya penting dan menyayangi keduanya lebih
daripada dia menyayangi Allah, pada saat yang sama pula, dia mengambil hak
Allah. Apabila seseorang merasa kematian bukan datang karena ajal dari Alllah
maka dia sangat menyayangi kehidupan dunia dan akhirnya dia menjauh dari
perintah2 Allah untuk berjuang di jalan Islam yang dianggapnya penuh resiko.
Ketika seorang wanita merasa kecantikannya bisa menjadi ‘modal’ hidupnya maka
dia merasa kecantikannya adalah sesuatu yang harus dikagumi banyak orang dia
akan mengumbar auratnya, dia merasa ridha Allah tidak cukup baginya sehingga
dia harus mencari ridha manusia.
Padahal,
berapa banyak kita melihat orang2 yang menggantukan dirinya kepada selain Allah
yang hancur, baik dari masa kita ataupun belajar dari kelakuan manusia yang
tidak me-nol-kan dirinya pada masa lalu. Pada saat gempa bumi terjadi, manusia
baru menyadari bahwa bangunan yang mereka kira sebagai tempat yang mampu
melindungi mereka, justru menjadi ancaman terbesar bagi mereka. Pada saat
tsunami terjadi, masyarakat baru menyadari bahwa keindahan pantai dan laut seta
seluruh ikan-ikan yang mereka jadikan sumber nafkah, ternyata menjadi mimpi
buruk bagi mereka. Pada saat anak mereka membentak dan berbuat buruk atau
terkena jerat narkoba maka manusia baru menyadari bawha uang yang selama ini
mereka kira sebagai penyelamat justru telah membuat anak kesayangan mereka
menjadi musuh yang menakutkan. Pada saat kematian mendatangi manusia, kita bisa
melihat bahwa harta benda menjadi sumber perselisihan yang luar biasa. Pada
saat usia lanjut telah tiba, manusia akan menyadari bahwa tulang dan daging
yang selama ini mereka bangggakan dan mereka gunakan untuk membuatnya hidupnya
lebih bahagia, ternyata kini menjadi beban dalam hidupnya. Berbagai penyakit
bermunculan merepotkan dirinya.
(QS
19:81-82)
Syahadat effek
Muslim
yang mengucapkan syahadatain sangat bervariasi dalam menjalankan amanahnya. Efek
syahadat dalam kehidupan mereka bermacam2. Ada yang telah mengucapkan
syahadatain, lalu dia tetap bermaksiat dan tidak kaaffah di dalam keislamannya.
Namun, ada pula yang telah mengucapkan syahadatain lalu dia semangat dan
kaaffah dalah keislamannya. Seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat
seharusnya memiliki kesadaran dengan kalimat syahadat itu, dia terhubungkan dengan
Allah sebgai Tuhannya, yang melihat dan mengawasi setiap perbuatannya. Inilah
yang disebut dengan ruh yang merupakan sebuah kesadaran manusia akan hubungannya
dengan Allah, yang selalu melihat dan mengawasinya. Apabila setelah
bersyahadat, ruh ini tidak terbentuk pada diri seorang Muslim maka dipastikan
kemaksiatan dan kemalasan untuk taat kepada Allah akan menjadi pilihan
hidupnya.
Untuk
mendapatkan ruh dalam syahadat kita dan menjadikan syahadat kita sempurna, marilah
kita ambil pelajaran dari Umar RA, seorang yang sangat berbeda sifatnya sebelum
dan setelah mengucapkan syahadatain. Sebelum bersyahadat, umar adalah seseroang
yang sangat memusuhi Islam, bahkan ingin membunuh Rasulullah. Keislaman Umar
sangat luar biasa, kadia sedang mendobrak rumah adiknya, Fathimah Binti Khatab
yang sedang belajar membaca alQuran, Umar membukan al Quran lalu membaca surah
Thaha ayat 1-14. Jiwanya semakin terguncang sekaligus terpeseona akan keindahan
ayat-ayatNya saat membaca ayat 14.
Membaca
14 ayat itu, Umar RA lalu ‘membaca’, berpikir dan mendalami isi ayat2 terebut.
Dengan kecerdasan yang dimilikinya, beliau sangat memahami bahwa apa yang
barusan dibacanya tidak mungin berasal dari manusia, melainkan dari Tuhan
pencipta semesta alam. Oleh Karena itu, Umar pun segera berucap “Betapa indah
dan mulianya ucapan ini. Tunjukkan kepadaku di mana Muhammad?”
Setelah
dipertemukan dengan Rasuullullah saw Umar pun masuk Islam dan mengucapkan dua
kalimah syahadat. Setelah itu, beliau berubah mejandi pembela islam, pembela
Rasulullah dan pembela Allah. Sangat kontradiktif sekali dan berbdeda,
Inilah
yang dicontohkan sebagai syahadat yang sempurna. Dalam kisah yang sangat
masyhur tentang Nabi Ibrahim ketika dalam perjalannya menemukan syahadat yang
sempurna, kita juga dapat menarik pelajaran yang sama tentang fungsi akan
pikiran dalam syahadat. Sebelum menemukan Allah, Nabi Ibrahim adalah seorang
anak muda yang hidup di tengah kebatilan masyarakat yang sangat terbiasa
menyembah keapda patung berhala. Namun, karena kecerdasan berpikirnya, nabi Ibrahim
menemukan Tuhan yang benar-benar layak untuk disembah.
Terbatasnya
aturan manusia
Demokrasi
adalah contoh sistem yang seringkali ditawarkan bagi manusia modern untuk
menentukan aturan bagi manusia, dna mengatur kehidupan dengan sistem ini.
Sama
halnya seperti aturan buatan manusia yang lain, demokrasi juga menampakkan keterbatasan
bahkan justru kerusakan dalam masyarakat. Alih-alih menyuarakan suara rakyat
dengan mewakilkan sejumlah orang teetentu untuk duduk di kursi wakil rakyat dan
menyampaikan suara rakyat utnuk diterapkan pemerintah, demokrasi malah sering
menjadi alat legitimasi bagi wakil rakyat untuk memaksakan kehendak mereka
kepada rakyat. Alasan suara terbanyak telah melegalisasi setiap hukum yang
bahkan tidak pernah masyarakat setuju dan sepakati. Mampu menentukan standar
baik-buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain: sistem demokrasi!
Setidaknya
hukum yang dibuat manusia selalu menghasilkan kerusakan yang dapat kita lihat
pada dua perkara:
1.
Kehancuran
kehidupan. Dalam segala bidang, dalam bidang politik, lahir tatanan politik
imperial, eksploitasi bangsa dan perbudakan atas umat manusia
2.
Kerusakan
alam. Tatanan kehidupan manusia itu juga menyebabkan kerusakan alam. Hutan
dibabat semena-mena dan HPH hanya diperuntukkan oleh segelintir orang atau
kelompok untuk mengeksploitasi, sedangkan masyarakat yang ingin memanfaatkan
akan ditangkap. Gunung berubah menjadi danau akibat penambangan yang tidak
bertanggung jwab. Pulau2 kecil tenggelam karena pasirnya disedot untuk
reklamasi atau dijual ke negeri lain. Lautan porak-poranda akibat bom untuk menangkap
ikan, airnya dicemari oleh berbagai limbah pabrik yang tidak diolah. Gunung
digunduli diambil kayunya, banjir pun meluluhlantakkan berbagai desa dan kota.
Semua itu adalah pengelolaan
alam ala sistem kapitalisme buatan manusia yang menyalahi fitrah manusia itu
sendiri.
Sistem ekomoni ala kapitalisme:
Sukses membuat dunia terpisah
menjadi 2 kutub dimana satu kutub bertahan hidup melawan obesitas dan kutub
lainnya bertahan melawan mal nutrisi sistem inilah yang bertanggung jwab kepada
kehancuran dunia
Kita
perlu memahami bahwa peran aturan Allah secara mutlak ini hanya dimungkinkan
dalam sitem yang mengakomodasi peraturan Allah (syariah), yakni tidak lain
adalah sistem Islam itu sendiri. Dalam pandangan islam, Rasul tidak hanya
menjadi pemimpin spiritual dan memberikan contoh dalam masalah ritual saja. Melainkan juga
pemimpin duniawi dan mengatur urusan-urusan politis. Karena alasan inilah, Michael
Hart memposisikan Muhammad saw sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh
sepanjang masa. Sistem kepemimpinan satu untuk seluruh manusia ini dikenal
sejarah dengan nama khalifah. Apada kepemimpinan inilah Abu Bakr, Umar, Utsman,
Ali, Umar Bin Abdul Aziz, Sulaiman Al-Qanuqi memimpin. Maka wajarlah Abu
Alhamid AlGhazali melukiskan pentingnya syariah Islam dan kepemimpinan yang
menjaganya agar diterapkan dalam suatu kalimat yang beliau tuliskan dalam buku
beliau:
“Sesungguhnya
dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agamamu kecuali dengan
dunia. Kekuasaan dan agama bagaikan saudara kembar; agama merupakan pondasi dan
penguasanya adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan
hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah
sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.
Diskusi
yang menunjukkan bahwa pada masa Rasulullah, para sahabat adalah kaum yang
sangat paham dengan berbagai peristiwa politik yang terjadi di dunia dan sudah
biasa melakukan analisa politik akan keberadaan negara2 di dunia. Para sahabat
pun adalah kaum yang sangat visioner. Hal ini ditunjukkan dengan cara bertanya
mereka pada rasul, “manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel
atau Roma? Kejelian merka dalam memilih pertanyaan “yang mana yang lebih dulu”
bukan “mungkinkah bisa” mmberitahu kita bahwa bagi para sahabat, penaklukkan Romawi
Barat yang dilambangkan dengan Roma dan Romawi Timur yang dilambangkan dengan
Konstantinopel adalah suatu kepastian karena Allah telah menjanjikan.
Dalam
hal ini pula, Rasulullah adalah seorang yang sangat piawai dalam kepemimpinan,
dengan membiasakan para sahabat berpikir besar dan global dan tidak meremehkan
hal-hal kecil. Rasulullah menjawab “Kota Heraklius terlebih dahulu”. Jawaban
Rasul ini menunjukkan keberanian dan visi yang diemban oleh seorang utusan Allah.
Rasul tidak mengatakan bahwa menaklukkan Konstantinopel afalah angan2 atau
sesuatu yang masih jauh kejadiannya. Namun Rasul malah membakar visi para
sahabat dengan kabar gembiranya.
Akidah
adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan serta
apapun yang ada sebelumnya dan sesudahnya. Diyakini dan diterima 100% dengan
akal dan hati dan berdasarkan argumen yang kuat.
Syahadat
adalah pintu antara muslim dan kafir syahadat seharusnya menghasilkan perubahan
bagi pelakunya. Bila manusia tidak mengetahui keterbatasan dan kelemahan dirinya
maka syahadat ini akan menjadi syahadat palsu semakin pintar seorang mukmin
maka ia akan menyadari bahwa dia sangat lemah dan Allah-lah yang maha kuat.
Janji
Allah bagaikan peneduh ditengah teriknya ujian dan tantangan dakwah Bisyarah
Rasulullah saw bagaikan mataair di tengah kekeringan harapan akan makian
manusia. Keyakinan akan janji Allah dan RasulNya adalah inspirasi terbesar bagi
setiap insan yang merindukan kebangkitan Islam karena bagi mereka, hanya Allah
dan RasulNya yang benar dan selain itu hanyalah fatamorgana kehidupan”.
Jadikanlah
engkau di dunia ini seperti seorang asing atau bahkan seperti sekadar orang
yang lewat. (HR Bukhari)
“Jika
hidup ini singkat dan melenakan. Jika allah menjanjikan surga beserta
kenikmatannya. Jika akhirat betul-betul lebih daripada dunia. Jika ibadah yang
akan kita lakukan adalah yang terakhir kalinya maka seperti apa kita akan
mejalaninya?...
Referensi :
Yanuwar,
Felix Siauw. 2010. Beyond The Inspiration.
Jakarta : Khilafah Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar